Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Meski dalam kematian



🌹Dont worry guys, Stuck With An Arrogant CEO akan update setiap hari🌹


"Inina salah," ucap Athena cemberut melihat Ares yang mengoleskan selai. "Sini."


"Biar aku saja," ucap Ares enggan memberikan toples itu. "Nanti jelek."


"Puna Thea cantik."


"Akan lebih cantik jika aku yang membuatnya. Trust me."


Athena mengerucutkan bibirnya melihat Ares yang menuangkan kembali selai pada roti bakar yang mereka buat, tentu dengan diawasi pengasuh.


Melihat raut wajah sedih adiknya, Ares memberikan toples selai. "Lakukan dengan pelan."


Tentu saja itu membuat Athena senang, dia mengambilnya dan mengoleskannya. Athena dan Ares bangun lebih pagi karena akan menyiapkan sarapan untuk mommy mereka.


Keduanya sangat peka merasakan kesedihan sang mommy.


"Make a smile," ucap Ares memberi perintah. "Yang bagus."


"Ini bagud," ucap Athena memperlihatkan hasil karyanya.


Setelah selesai, Ares melangkah menuju ke kulkas.


Pengasuhnya yang melihat itu mendekat. "Apa yang anda cari, Tuan Muda?"


"Mau membuat susu untuk Mommy."


"Biar saya bantu."


"Oke," ucap Ares membiarkan pengasuhnya mengambilkan susu bubuk dan gelas.


"Ales, ini sudah."


"Kita belum membuat susu."


"Thea mau buat."


"Thea yang memegang piring, aku susu."


Athena cemberut, dia menurut saja perintah saudaranya.


Sampai selesai, keduanya melangkah cepat menuju kamar sang mommy. Di sana Lily masih terlelap.


"Mommy masih tidul."


"Bagaimana kalau kita telpon Daddy?"


Athena mengangguk antusias.


Yang membuatnya berlari menuju pengasuh. "Nanny, bisa kau hubungi daddy ku?"


"Maaf, Tuan."


Jika sudah ada kata itu, berarti David melarang mereka menghubungi. Yang mana membuat Ares kembali ke kamar.


"Bagalmana?"


"Tidak bisa."


"Bangunkan saja Mommy."


"How?" Tanya Ares.


"Like this," ucap Athena merangkak ke atas ranjang lalu menciumi pipi mommy nya sambil memeluk berulang kali.


Dan itu berhasil membuat Lily membuka matanya. "Sayang, kau sudah bangun?"


"Good morning, Mommy," ucap keduanya bersamaan.


"Astaga, kalian berdua bangun? Ada apa?"


"Kita buat salapan untuk Mommy."


"Ya Tuhan." Mata Lily berkaca kaca, dia duduk di atas ranjang dan mengambil piring itu. "Ayo kita makan bersama."


"No," ucap Ares. "Itu untuk Mommy dan Baby."


Lily tersenyum, dia mencium satu per satu anaknya. "Tapi Mommy dan Baby ingin berbagi."


Kalimat itu membuat keduanya langsung duduk di samping mommy nya dan menerima suapan.


"Mommy?"


"Ya, Thea?"


Lily mengangguk, memang saatnya kini dia mendapar kabar. Lily menelpon David.


Dua panggilan tidak terjawab membuat Lily yakin jika David sedang sibuk.


"Sayang, Daddy kalian sedang sibuk. Nanti kita hubungi lagi ya."


"What happen, Mommy?" Tanya Athena.


Ares menambahkan, "There is a something wrong happen?"


"Tidak, tidak ada yang salah. Semuanya baik baik saja. Daddy akan kembali. Jangan khawatir."


🌹🌹🌹


Karena cuaca buruk, pesawat harus transit dahulu. Yang menyebabkan David baru sampai di Jakarta pagi hari. 


Dia segera naik mobil di mana Holland yang mengendarai. Jika dirinya yang memegang kendali, maka tidak akan benar.


"Holland, bagaimana dengan adik adikku?"


Holland terkejut dengan kalimat itu, soalnya David tidak pernah menganggap mereka adik adiknya sebelumnya.


"Mereka aman, Tuan.  Anda bisa menemuinya jika upacara kematian telah selesai."


"Dimana Oma?"


"Di gereja, Tuan."


Tangan David dingin, dia berharap ini hanya kesalahan semata.


Namun, saat sampai di tempat tujuan, dia melihat Oma dengan mata yang bengkak di sana.


"David….."


"Oma…., Apa itu benar?"


"Maafkan Oma. Oma tidak bisa mencegatnya. Dia menggantung dirinya. Dokter bilang ada masalah kejiwaan."


"Cukup, Oma. Aku ingin melihatnya."


David masuk ke dalam. Beruntung penjaga mengkondusifkan keadaan di mana di sana hanya ada keluarga saja.


Tatapan David tidak beralih dari peti mati di mana di dalamnya terbaring sosok yang tidak asing baginya.


"Mama….," Panggil David.


Sebenci apa pun dirinya pada Dena, dia tetap wanita yang melahirkannya dan membesarkannya. Dena pernah memberikan kebahagiaan padanya walaupun itu sesaat saja.


"Mama…."


Oma menutup mulutnya melihat cucunya begitu rapuh, Oma menengok pada Holland di sampingnya. "Dia tidak istirahat bukan?"


"Tuan tidak tidur sejak kemarin, Nyonya."


"Dia meninggalkan anak dan istrinya?"


"Dia tidak ingin keadaan membuat anak dan istrinya merasakan perbedaan."


Dan ketika David tidak tahan lagi dengan kenyataan, dia keluar gereja untuk menenangkan diri.


Melihat itu, Oma menyusul. Dia menatap dari kejauhan cucunya yang menunduk di bawah pohon. 


Dia mendekat pelan untuk menemuinya.


"David…."


"Aku ingin sendiri dulu Oma."


"Mereka menemukan ini di sakunya."


David menoleh, dia melihat Oma mengeluarkan selembar kertas. "Aku yakin ini untukmu."


Oma meninggalkan David setelah memberikan itu.


Di sana David membuka amplop yang masih tersegel, di depan amplopnya menuliskan teruntuk David.


Saat membukanya, isinya adalah :


Apakah kau kini sadar kalau yang membuatku jauh darimu adalah istrimu? Aku masih membencinya, David.


🌹🌹🌹


TBC