Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Sentilan



🌹VOTE YEEE GAISSHHHH🌹


Lily menatap jam, dia kesal menunggu David yang ternyata belum pulang juga. Dia mendesah pelan, membuat Nina yang masih menemani itu kebingungan. "Apa anda perlu sesuatu, Nyonya?"


"Berhenti bertanya seperti itu, Nina, kau boleh pulang."


"Saya berjanji pada Tuan David bahwa saya tidak akan meninggalkan anda sendirian di rumah."


"Kau melakukannya dengan baik, ini hampir malam. Pulanglah dan besok bawakan aku pudding."


Nina masih diam di sana, membuat Lily berdiri dan membukakan pintu keluar untuk sekretaris pribadinya itu. Dia tahu Nina mengantuk dan ingin segera pulang.


"Lekaslah pulang, aku akan istirahat."


"Baik, Nyonya. Selamat malam."


Kenyataannya, Nina tidak pergi. Dia tangan kanan siaga, yang membuatnya berjaga di luar rumah. Hal seperti ini sudah biasa baginya, menjadi mantan intel adalah kelebihan tersendiri sekarang ini.


Sementara Lily masuk kembali ke kamar sambil merebahkan diri di kasur, menatap ponsel yang tidak ada panggilan dari siapapun, bahkan David. 


Dapat ditebak kini mereka sedang sibuk dengan si kembar. "Apa yang kalian lakukan hingga Daddy kalian belum pulang?" Gumam Lily.


Saat memainkan ponsel, tiba tiba nomor baru menelpon. Membuat Lily mengerutkan keningnya saat tahu itu bukan nomor Indonesia.


Dia mengangkatnya. "Hallo?"


"Hallo juga."


Lily menegang mengingat suara ini. Dia menelan ludahnya kasar. Empat tahun mendekam di balik jeruji, kini dia telah bebas.


"Kau terkejut? Ya, ini aku Dena."


"Apa yang kau inginkan?"


"Sudah aku duga kau tidak mengganti nomor ponselmu," gumamnya terdengar menakutkan. "Berikan aku nomor David."


Dan Lily ingat, David memutuskan segala kontak dengan Dena. Bukan dia menelantarkannya, David menjelaskan pada Lily kalau Dena pernah hendak melakukan percobaan pembunuhan, dan David tidak ingin anak anaknya menjadi sasaran. Maka darinya dia memutus semua koneksi, tapi tetap mengirim uang pada adiknya yang ada di Amerika. Dia yang mengurus Dena selama di penjara.


"Kau takut?"


"Apa salahku padamu?"


"Salahmu? Kau menjauhkanku dengan anakku."


"Aku tidak melakukannya."


"Kau membuat dia berhenti mengirimkan uang."


"Aku minta maaf jika itu salahku, jangan ganggu aku lagi. Aku mohon."


"Aku akan selalu mengganggumu, sampai David menceraikanmu."


Air mata Lily berlinang. "Tidakkah kau kasihan pada anak anak David?"


"Itu anakmu, bukan anak David. Kenapa aku harus peduli?"


Lily diam menahan semua ledakan emosi dalam hatinya.


"Kau akan aku lepaskan dari anakku, lihat saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya."


🌹🌹🌹


Ares terlelap dalam pangkuan Eta, sementara Athena masih digendong David di daam mobil sambil memainkan dasi daddy nya.


"Daddy?"


"Ya?"


"Mommy suka pakai kostum, kau tau?"


"Kostum?"


"Iya, kostumna milip badut," ucap Athena saat ingat Lily yang memakai piyama polkadot dengan perut yang buncit.


"Kenapa Mommy suka memakai kostum badut?"


David diam, dia penasaran. Memegang ponsel saja tidak ada waktu karena kedua anaknya selalu mengganggu.


Sampai di mansion Oma, Athena dituntun oleh Oma.


"Good bye, Daddy."


"Good bye, Darling," ucap Davi melihat Ares yang lebih dulu di bawa.


Oma menatap David seolah berkata, "Awas kalau kau macam macam."


"Aku paham dengan tatapanmu, Oma. Selamat malam."


Dan akhirnya, dalam mobil David hanya berdua dengan Holland. Dia lega bisa istirahat dengan istrinya nanti di rumah.


"Apa kau membeli bunga yang aku minta, Holland?"


"Iya, Tuan."


David tersenyum tidak bisa membayangkan bagaimana hangatnya pelukan istrinya yang tidak lama dia jumpai. David akan langsung menggendongnya, dan membawanya bergulat di atas ranjang.


Kebiasaan David sekarang jika pulang dari luar negara tidak pernah membawa oleh oleh, dia tidak ingin putra putrinya terlalu memiliki banyak mainan. 


Terlepas dari itu, David akan mengajak mereka ke Thailand.


Sampai di rumah, David mengambil buket bunga di tangannya. Keningnya berkerut melihat Nina yang ada di sana.


"Nina, apa yang kau lakukan?"


"Tuan, anda sudah datang."


"Lily menyuruhmu pergi?"


"Ya, Nyonya sudah menunggu anda."


"Baik, kau boleh pergi sekarang."


"Terima kasih, Tuan," ucap Nina menunggu David masuk.


Memasukan kunci kode, David masuk. 


"Sayaaaanggg?" 


Tidak ada jawaban, yang membuat David yakin istrinya menunggu di kamar.


Benar saja, saat membuka pintu, Lily ada di sana. "Sayangku… aku merindukanmu."


"David," ucap Lily tersenyum sambil memegang perutnya.


Dan tanpa diduga David malah tertawa. "Apa kau memakai kostum badut lagi?"


"Badut?"


"Itu, polkadot buncit."


"Apa katamu?"


David mendekat dan…. PLETAK! Dia menyentil perut Lily yang dibalut gaun polkadot.


Sampai mata David melotot merasakan itu bukan bantal. "Sa… sayang…., Ini perutmu?"


Dan ketika menatap manik istrinya, mata Lily berkaca kaca.


"Sa… sayang… ma.. maaf."


"Kau menyentilnya," gumam Lily menahan tangisan. "Kau menyentilnya."


"A…  aku pikir… i…. Sayang kau mau kemana?!" Teriak David saat Lily menjauh begitu saja. "Kenapa kau tidak memberitahuku? Sebenarnya adonan yang mana itu? Sayang? Kau mau ke mana?"


🌹🌹🌹


TBC.