Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Salah mengira



🌹VOTE🌹


Lily melihat David yang sudah tertidur. Pria itu mandi sendiri sambil memuntahkan santan kelapa. David enggan memperlihatkan dirinya yang sakit pada Lily, maka darinya dia mengunci di dalam kamar mandi.


Mandi sejenak, lalu David langsung merebahkan diri tidur. 


Lily seolah tahu suaminya belum masuk ke alam mimpi, dia mengusap punggungnya dari belakang.


"Mulas?"


"Tidak."


Rasanya ada sesuatu yang aneh ketika David memunggunginya, membuat Lily merasa diabaikan. Dia terus mengusap punggung suaminya yang tidak dibalut apapun.


Seperti biasa, David hanya memakai boxer saja.


"David, kau mulas kan?"


"Tidak, hanya mengantuk."


David memang tidak mulas, tapi perutnya terasa sakit seolah sesuatu menyakitinya.


Lily seolah tau apa yang dirasakan suaminya, dia beranjak dari ranjang.


"Kau mau ke mana, Sayang?"


Lily mengambil kayu putih, dia kembali duduk di belakang David. "Biar aku pijat punggungmu."


"Aku tidak merasa pegal."


"Ini akan meredakan rasa tidak enak pada perut."


David kembali memunggungi Lily, membiarkan tangan istrinya memijatnya hingga rasa hangat perlahan dia rasakan.


David perlahan memejamkan matanya ketika kenyamanan melanda.


Tahu suaminya sudah tidur, Lily menyelimutinya, kemudian mencium pipinya malu malu. "Selamat malam, David," ucapnya ikut memejamkan mata.


Baru juga beberapa jam terlewati. David kembali membuka mata merasakan sakit perut lagi.


Perlahan supaya tidak membangunkan istrinya, David pergi ke kamar mandi. Dia hanya duduk di closet. Perutnya sakit, tapi tidak mengeluarkan apa pun.


Hal yang membuat David berkeringat, entah kenapa dia baru merasakan mulas seperti sekarang ini. Begitu menyiksa dirinya.


David pergi ke lantai bawah untuk memanaskan air dan memasukannya kepada kantung air.


David tertidur di sofa, dia menatap jam yang terus berputar.


"Aduhhh, mulas. Eh, sakit…," rengek David pada dirinya sendiri.


Sampai dia mendengar teriakan, "David?! David?!"


David menatap istrinya yang menuruni tangga.


"Astaga, kenapa kau di sini?"


"Rasanya sakit, Sayang."


"Aku akan hubungi Holland."


Dan David tidak bisa menjunjung lagi harga dirinya, dia benar benar kesakitan hingga merengek tanpa henti.


"Aduhh, sakit, Sayang."


"Pakai baju dulu, mungkin kau juga masuk angin."


"Butuh pelukan."


"Aku kedinginan."


"Baiklah." Lily mendekat dan membiarkan David memeluknya erat.


"Ah, hangat dan empuk."


🌹🌹🌹


"Lilaaaaa…. Oma datang… yuhuuu…." Oma dengan segala sayurannya datang.


Dia memakai pakaian senam bersiap untuk melakukan ritual itu di sana bersama Lily.


Saat masuk ke apartemen, hanya ada keheningan. "Kenapa sepi? Ke mana mereka? Apa Mete belum datang?"


"Entahlah, Nyonya Besar. Biar saya hubungi dulu."


Saat masuk, Oma mengerutkan kening tidak ada siapapun kecuali suara Ac.


"Lilaaa?"


"Nyonya Besar, Mete bilang dia disuruh pulang kembali oleh Nyonya Lily."


"Kenapa?"


Dan saat itulah Lily keluar dari kamar, dia mengisyaratkan agar Oma memelankan suara.


"Siapa? Ada apa?" Tanya Oma atau lebih mirip dengan suara pelan. 


"David sakit, dia makan banyak bakso semalam."


"Dia tidak ke kantor?"


"Ini tanggal merah, Oma."


"Oh iya. Tidak jadi senam?"


"Kasihan David."


Oma mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat sayur lodeh?"


"Eum… Oma…. Santannya diminum David."


Oma diam karena terkejut. "Apa dia bodoh?"


"Oma bikin saja dulu bersama Eta, Lily akan memasak bubur."


"Oma ingin melihat David dulu."


Oma menaiki tangga dengan susah payah. Di pertengahan jalan, dia diam dulu dan mengipasi diri merasakan panas. Terbiasa menaiki lift, menaiki tangga membuat kaki Oma terasa akan putus. "Kakiku sayang, sabar."


Oma kembali melangkah masuk ke kamar cucunya, disana dia melihat David memejamkan mata. Di ambang pintu, Oma berdecak. "David Beckham yang mulas."


Oma mendekat, dia duduk di pinggir ranjang dimana David membelakanginya. Oma mengusap punggung David pelan, dan usapan itu membuat David sadar. 


Dengan matanya yang masih terpejam, David berkata, "Sayang, perutku masih sakit."


Oma diam, dia menatap kesal cucunya yang masih memejamkan mata.


"Kau tahu, katanya seorang istri harus diam dan dudu bersa--AAAAAA! Oma!" 


🌹🌹🌹


Tbc