Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Oma yang kesepian



🌹Jangan lupa kasih emak vote sebelum ente ente anak emak pada baca yak.🌹


🌹Terus follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Selamat membaca, emak sayang sama kalian.🌹


Lily menarik napasnya dalam melihat Oma yang begitu sedih. Sampai saat ini Eta belum juga sadar, dan Oma masih saja menangis melihat Eta yang terbaring di sana dengan lemah. Saat itu Lily melihat jam dan mengetahui anak anaknya akan segera pulang ke rumah. 


“David, anak anak akan segera pulang.”


David menengok ke arah istrinya. “Pulanglah bersama Holland, nanti aku akan menyusul. Aku harus menemani Oma dahulu.”


“Aku tidak bisa meninggalkan Oma.”


“Tidak apa,” ucap David dengan suara yang pelan dan lembut. “Kau boleh pergi, aku akan menjaga Oma.”


Mendengar pertengkaran kecil di belakangnya membuat Oma kesal, dia menoleh pada kedua pasangan di belakangnya itu. “Pergi saja kalian berdua, Oma tidak apa. Kalian akan membuat Eta terganggu.”


“Maaf, Oma,” ucap Lily yang hendak mendekat tapi ditahan oleh sang suami.


David menggeleng sebagai isyarat. “Kita biarkan Oma sendirian dulu oke? Besok kita kembali bersama anak anak.”


“Siapa yang akan menjaga Oma di sini?”


“Ada pelayan setianya yang cerewed.”


“Eta sedang sakit dan terbaring, bagaimana dia bisa menjaga Oma?” tanya Lily.


Oma kembali mendesah malas. “Keluarlah dan berdoa supaya Eta sadar. Sana.”


David melakukannya, dia mendekat pada Oma dahulu dan memeluknya dari belakang. “Oma, kami pulang dulu. Ingatlah, kau punya kami.”


“Jaga anak dan istrimu.”


“Iya, Oma. Tapi bagaimana kalau Oma ikut kami dulu? Biarkan Eta di sini, aka nada pelayan yang menjaganya.”


“Pergi kau, tengik,” ucap Oma yang membuat David kalah telah.


Akhirnya David mengangguk dan melangkah mundur membiarkan Lily yang memeluk Oma dan berbisik sesuatu.


Setelahnya keduanya keluar dari sana. David terdiam melihat Oma yang enggan beranjak sedikitpun dari sisi Eta. Dan David tahu bagaimana Oma dan Eta sangat dekat, sehingga mereka tidak bisa dipisahkan.


“Apa yang tadi kau katakana pada dokter?” tanya Lily mengingat sebelumnya David bicara dengan dokter.


“Bukan apa apa.”


“Dokter itu terlihat ketakutan.”


“Astaga, David.”


“Kenapa?” tanya David polos.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Oma tidak bisa memejamkan matanya, dia terus menunggu Eta di sana. Bahkan makan pun tanpa ada energy, membuat pelayan yang menunggu Oma di sana terlihat khawatir.


“Nyonya Besar, saya mohon istirahatlah sebentar, jangan membuat diri anda sakit. Eta akan khawatir dan sedih jika anda sakit.”


Oma hanya menatap Eta dengan helaan napas dalam. “Apa yang harus aku lakukan? Ini semua salahku.”


“Ini bukan salah anda, Nyonya Besar. Saya pikir Eta akan lebih sedih jika melihat anda seperti ini. Istirahatlah.”


Oma menatap sofa lipat yang telah dibentangkan menjadi kasur, ini memang permintaan Oma untuk tidur di ruangan ini.


“Istirahatlah, Nyonya Besar.”


“Baiklah, kau boleh keluar.”


“Anda perlu sesuatu?”


Oma berfikir sejenak. “Belikan aku lebih banyak tissue.”


“Baik, Nyonya Besar.”


Sambil menunggu tissue datang, Oma tetap duduk di samping ranjang tempat Eta dirawat. Setelah tissue datang. “Ini tissuenya, Nyonya Besar.”


“Simpan saja,” jawab Oma enggan beranjak dari sana.


Tapi pelayan itu tetap mengingatkan. “Nyonya Besar, anda harus istirahat.”


“Baiklah baiklah.” Oma akhirnya berpindah tempat ke tempat tidurnya, kemudian menatap pelayan itu. “Kau bisa keluar.”


“Baik, Nyonya Besar.”


Oma menghela napas panjang, meskipun banyak yang menemaninya di sini, dia tetap merasa sendirian. Mereka berada di luar menjaga Oma, bersama beberapa pria yang dikirim oleh David.


Namun, melihat Eta yang terbaring di sana membuat Oma tidak tahan. Hingga akhirnya dia kembali melangkah mendekati Eta kemudian menggenggam tangannya. “Bangunlah, Eta…. Hiks… hiks… dengan siapa aku akan hidup?”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


To Be Continue