
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE DAN DUKUNGAN YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA POKOKNYA.🌹
Lily menatap tidak percaya David kini memesan satu kamar hotel hanya untuk mereka mandi saja. membuat Lily menatap suaminya penuh tanya, apakah uangnya tidak habis habis? Dia tidak memesan sembarang kamar, melainkan hotel bintang lima yang memiliki ukuran kamar begitu luas. Ini cocok untuk orang orang yang sudah berkeluarga.
“David…, apa ini tidak terlalu….?” Ucapan Lily menggantung begitu mereka masuk.
Setelah melihat matahari terbit dan makan bubur bersama, Lily merasa tubuhnya lengket dan meminta untuk kembali. Tapi bukan David namanya yang ingin kedekatannya bersama sang istri diganggu, membuat David malah memesan hotel yang lebih jauh dari villa dan itu membutuhkan waktu lebih dari setengah jam dari pantai.
“Tidak, Sayang. Mandilah dan kita akan beristirahat di sini.”
“Kapan kita akan kembali ke villa?”
“Besok pagi saja, lihat kamar ini sudah aku bayar dan itu sangat mahal.”
“Aku tidak memintanya.”
“Ya, baiklah. Kita akan pulang setelah mandi.”
Lily menelan ludahnya kasar, sayang juga jika kamar sebagus ini ditinggalkan, apalagi pemandangannya yang langsung menuju ke pantai. Ini tidak boleh ditinggalkan sama sekali.
“Besok pagi, tapi jangan ada alasan lagi,” ucap Lily mendudukan dirinya di sofa dekat balkon. Yang mana membuat David tersenyum kemenangan dan segera memeluk istrinya dari belakang. “Tapi pakaianku kotor. Hanya yang dipakai yang tersisa, yang semalam aku buang karena sobek.”
“Aku lebih suka kau tanpa pakaian, Sayang.”
“Ish!” ucap Lily menyikut perut kotak kotak milik suaminya. “Jangan bicara seperti itu.”
“Hahahaha, baiklah baiklah. Aku akan ke bawah dan membelinya, ada yang lain yang ingin dititipkan?”
“Tidak, pakaian saja. aku ingin istirahat setelahnya.”
“Bagaimana dengan makan siang?”
“Aku ingin tidur dulu setelah mandi.”
“Oke, tunggu di sini ya. Aku akan ke bawah mencari pakaian bagus untukmu.”
“Yang murah saja,” ucap Lily menahan tangan David yang hendak berjalan menjauh. “Tadi aku melihat ada pedagang emperan yang berjualan baju, harganya hanya 30 ribu satu pasang.”
“Pffttt.” David menahan tawanya. “30 ribu? Nanti kulitmu gatal, Sayang.”
“Tapi itu hanya untuk selingan saja, lagipula dulu aku sering memakai pakaian bekas orang. Jangan boros, aku akan melahirkan, kau harus lebih banyak menabung.”
David diam, menjawab pun akan menjadi perdebatan panjang.
“Iya?”
“Masuklah ke kamar mandi, saat kau keluar pakaiannya akan siap, Sayang.”
“Jangan membeli yang mahal, yang itu saja.”
David hanya mengangguk menatap istrinya yang masuk ke kamar mandi. Setelahnya dia membuka aplikasi belanja online, mencari toko baju terdekat dan membeli pakaian ibu hamil yang sudah memiliki merk bagus.
Hanya beberapa menit sampai akhirnya pelayan hotel membawakannya ke kamarnya.
“Tuan, ini pesanan anda dari kurir.”
“Terima kasih, ini tips untukmu.”
“Terima kasih banyak.”
David tidak ingin mengambil resiko dengan membeli baju tanpa dicuci dahulu. David tidak ingin menambah kemungkinan banyaknya kuman, setidaknya jika itu dari toko, maka kebersihannya terjaga. Bukan apa apa, David hanya khawatir jika istrinya mungkin gatal karena debu di pinggir jalan.
“Sayang, ini pakaianmu.”
“Kau tau? Aku menyuruh mereka menyetrika supaya kumannya mati.”
“Aku menyuruhmu untuk membeli di bawah yang murah, David.”
“Kau bisa membelinya saat pulang nanti, aku janji kau boleh membelinya bahkan semuanya nanti. Aku hanya khawatir,” ucap David.
🌹🌹🌹🌹
“Itu nama yang aneh,” ucap Athena mengintip apa yang sedang ditulis oleh Ares.
Ares segera menyembunyikan buku yang sedang dia tulis. “Aku sengaja menggunakan banyak huruf R agar kau kesulitan, Thea.”
“Hei! Itu sangat jahat!”
Ares hanya tersenyum kemudian menulis lagi membelakangi Athena, lalu tidak lama kemudian terdengar suara perang bantal dari dalam kamar.
Oma menghela napasnya dalam, dia kembali menyeruput teh hangat supaya pikirannya rileks, dia sedang menunggu Eta karena akan membuat topeng dari tanah liat.
Ya, Oma sedang berusaha mencari cara agar keduanya melupakan Lily dan David, mengingat mereka belum juga dapat dihubungi dan dapat dipastikan kalau mereka pasti akan menginap lagi.
Penasaran dengan nama adik mereka, Oma datang ke kamar. “Ekhem! Oma ingin lihat nama apa saja yang kalian siapkan?”
“Tidak boleh,” jawab keduanya serentak.Â
“Ayolah, ini Oma. Biarkan Oma berkomentar, dan memilih mana yang paling bagus.”
“Punya Ales tidak ada yang bagus.”
“Hei, namamu juga aneh aneh.”
Oma memijat kepalanya yang terasa pening.
“Tapi Oma janji bukan akan memakai salah satu dari milik kami?” tanya Ares.
Oma terpaksa menggangguk, karena memang itu yang dia janjikan sebelumnya. Semoga saja nama yang mereka siapkan normal.
“Bagaimana kalau kita membuat topeng dari tanah liat? Oma bosan menunggu kalian ayo.”
“Tidak mau,” ucap Athena.
Membuat Ares berdiri. “Ayo Oma, bersama Ares saja. tinggalkan dia sendirian di sini.”
“Aaaaa ikut,” rengek Athena sambil berjalan mengikuti Oma dan Ares menuju ke balkon gazebo villa.
Di sana Oma mengambil pengukur tali, dimana dia akan menguruk diameter wajah Ares dan Athena.
“Nah… mari dimulai dengan Athena dulu supaya bisa tahu ukuran topengnya,” ucap Oma mengukur wajah Athena.
Kemudian berganti pada Ares, Oma mengukurnya dengan seksama. “Wah…, wajah Ares sangatlah kecil, sangat sangat kecil.”
Ares tersenyum, kepala yang kecil menurutnya adalah yang terbaik.
“Itu kalena tidak ada isinya,” celetuk Athena yang membuat Ares menoleh seketika. “Otaknya sebesal keleleng.”
“Kepalamu besar, otaknya sebesar bola basket. Pantas saja jika berjalan selalu jatuh, kepalamu terlalu berat.”
“Huaaaa… Omaaaaa!”
Oma kembali menghela napasnya dalam. Kenapa saat David mulai tenang, kini Ares mulai bangkit?
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE