
🌹VOTE🌹
Sebastian segera berdiri, dia berdehem mendapat tawa dari Luke. "Diam kau, sialan."
"Mengatakan itu lagi akan aku lempar kau dengan kulkas."
Yang mana itu malah membuat Sebastian tertawa. "Makhluk hobbit titisan kurcaci sepertimu hendak mengangkat kulkas?"
"Tidak sopan," gumam Lily menggeltuka gigi.
Membuat Luke segera menendang kaki Sebastian, Luke datang menghampiri Lily. "Maafkan dia Lily, itu efek dia tidak punya pasangan. David sudah menikah, dan aku akan menyusul. Sementara dia yang paling tua tidak."
Lily menatap Sebastian penuh kemenangan. Bibir mungilnya bergumam, "Dasar jomblo."
"Apa kau bilang?"
"Bass, sudahlah." Luke mengambil soda dari dalam kulkas, lalu melemparnya pada Sebastian. "Pergi minum ini."
Setelah kepergian Sebastian, baru tatapan Luke dan Lily saling bertabrakan.
"Bagaimana kabarmu, Lily?"
"Baik, aku tidak menduga kau akan pulang, Luke."
"Kenapa begitu?"
"Emm…. Itu…"
"Medina?"
Lily hanya tersenyum kikuk.
"Aku kabur darinya untuk dua hari di Indonesia."
"Jadi, kapan kau menikah?"
"Aku pikir setelah kau melahirkan."
"Kenapa begitu?" Kening Lily berkerut.
"Supaya kau memberiku empat hadiah besar, bersama bayi bayimu."
Lily dibuat terkekeh oleh kekonyolan Luke.
Sampai David keluar dari kamar dan melihat keduanya sedang bercengkrama. "Jangan kau pikir aku kehilangan pengawasan dari istriku, mundur atau aku menarikmu ke belakang."
Luke mengangkat tangannya. "Tenanglah, aku tidak memakannya."
"Wajahmu yang jelek mungkin saja akan membual istriku kesal, dan mitos mengatakan jika ibu hamil kesal akan seseorang, bayinya akan mirip. Aku tidak ingin bayiku mirip denganmu, Rambut Tembaga."
Luke tertawa tidak percaya, dia menatap David jengah. "Wahhh… pikiranmu.. kau dapat dari mana?"
"Petuah Owner Lambe Turah."
"Oma?"
"Pergi ke sana, nanti aku menyusul."
Luke berdecak, dia menatap Lily. "Sampai jumpa lagi, Lily."
Lily yang sedang kebingungan hanya mengangguk kikuk. Membuat David mendekat dan menyalah artikan jika sebenarnya Lily gugup berada di samping Luke.
"Sayang?"
"Huh?"
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada."
"Aku yakin ada, katakan padaku. Apa kau memikirkan…. Luke?"
"Kenapa aku harus memikirkanya? Aku memikirkanmu."
Seketika David tersenyum dan memberikan ciuman di bibir istrinya berulang kali.
"Sudah, David."
"Apa aku terlalu tampan hingga tidak bisa lari satu kali saja dalam pikiranmu?"
"Aku memikirkan kata katamu, tentang yang membuatku kesal."
Seketika senyuman David luntur. "Apa? Dibagian mana yang membuatmu berpikir?"
"Yang lahir dari perutku akan mirip orang yang membuatku kesal. Aku kesal sekesal kesalnya pada Sebastian. Dia menjengkelkan."
David merangkup pipi istrinya. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Hmm…" malu malu Lily mengatakan. "Dia bilang aku buncit, kurcaci dan hobbit."
David yang tidak bisa menahannya membuat dia terkekeh sesaat. Dan itu membuat Lily kesal bukan kepalang. Dia mengerucutkan bibirnya dan mendorong dada David.
"Lily Sayang, kau mau kemana?"
Membuat David menghela napas. "Nah kan, sekarang bayinya mirip denganku, bukan Sebastian lagi."
🌹🌹🌹
"Ada apa?" Tanya Luke saat melihat wajah David masam. Luke menggunakan kakinya untuk mendorong kursi David. "Kau kenapa?"
"Bisakah kau diam?"
"Bisakah kalian diam? Jangan menaikan nada bicara, itu memalukan," ucap Sebastian yang sedang makan.
Kini mereka bertiga ada di resto di hutan pinus. Barang barang milik Sebastian dan Luke sudah dibawa ke villa di samping David.
"Sebenarnya Lily masih belum mengizinkan."
"Lihat, ini sebabnya aku tidak ingin menikah. Menjadi batu penghalang saja."
"Kau akan menua sendirian," ucap Luke tidak terima. "Dan bayangkan saat kau sudah tua tidak bisa apa apa, siapa yang akan mengganti popokmu?"
"Aku akan menyewa perawat."
"Ah benar, karena aku dengar semua kekayaan Papamu akan diberikan pada adik tirimu."
"Benarkah itu?" Tanya David.
"Bisakah kau diam, sialan."
Luke tertawa penuh kemenangan. "Apakah kita akan langsung pergi ke air terjun? Aku dengar ada gua di sekitar sana."
"Aku harus izin dulu pada istriku."
"Ke villa mu dulu?"
David mengangguk. "Semua peralatan kita di sana. Ambil dan bawa sendiri."
Dan setelah makan selesai, ketiganya berjalan menuju ke villa David.
Di mana di sana ada Lily yang sedang di balkon memainkan ponsel. Dia melihat ketiga orang itu datang, membuat Lily mengerucutkan bibirnya.
Jika dilihat dari kejauhan, ketiganya sangat kompak saat bersama. Sama sama tampan, sama sama kaya, sama sama tinggi. Membuat Lily semakin kesal, David meninggalkannya sebelum meminta maaf padanya.
Membuatnya bergegas ke kamar.
"Sayang….."
Lily pura pura tidak mendengar.
"Sayang aku akan berangkat sekarang, bersama yang lain. Jangan marah lagi ya, besok sore aku pulang lagi."
"Kenapa harus menginap di luar sana?"
"Emm….. ada gua yang harus kami telusuri."
"Gua? Apa kau gila?" Lily mengatakannya dengan suara pelan tapi penuh kekesalan.
"Sayang, kami sering melakukannya."
"Sering melakukannya?"
David diam. "Jangan marah lagi ya."
"Kalau begitu aku ingin kelapa muda," ucap Lily pelan.
"Kelapa muda? Di mana?"
"Di depan villa ada kelapa muda yang lumayan pendek, Mang Asep tidak ada. Ambilkan aku itu sebelum pergi."
David menelan ludahnya kasar. "Baiklah, tunggu sebentar."
David menemui kedua temannya di depan villa yang sedang saling memotret entah untuk apa. Yang penting setiap kali mereka memotret, ada umpatan yang keluar.
"Luke, Bas. Aku tidak bisa pergi sebelum mengambilkan kelapa muda."
"Aku tidak bisa memanjat."
"Aku juga," ucap Luke.
"Kita semua tidak bisa, tapi bersatu kita teguh. Bass, kau di bawah. Luke, kau dibagian kedua. Dan aku, yang akan memetik."
Sebastian diam. "Ini tidak seperti yang aku pikirkan bukan?"
"Jika kalian menolak, aku tidak akan memberikan peralatan itu, penginapan di villa dan yang lainnya. Kalian pikir aku tidak tahu kalian tidak bawa uang?"
Sebastian berdecak. "Sial, kenapa aku harus paling bawah."
"Kau paling tua."
🌹🌹🌹
TBC