
🌹JANGAN LUPA KASIH EMMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Saat merasa ada guru yang akan keluar, Ares segera menarik tangan Cantika untuk mengikutinya.
“Kau mau membawaku kemana? Aku harus mengikuti wali kelasku.”
“Kelas apa?”
“Ipa dua.”
“Ipa?” tanya Ares dengan nada frustasi. “Astaga, akan menyebalkan tidak bisa mengganggumu setiap hari.”
“Kau mengatakan sesuatu?”
Ares menatap Cantika yang ada di sampingnya sambil menunduk, dia tertawa. “Berapa tinggimu? Kau dan aku seperti Masha and the Bear.”
“Oke terserah, lepaskan aku. Nanti mereka mencariku.”
“Akan aku kembalikan setelah kita berkeliling sekolah.”
“Apa?”
“Lebih asyik berkeliling saat sekolah sepi. Jika tidak saat mereka sudah pulang, maka saat upacara bendera,” ucap Ares tidak melepaskan genggaman tangannya.
“Tapi aku akan mengetahui dengan sendirinya.”
“Kau akan tersesat.”
“Aku tinggal bertanya.”
Sampai Ares berhenti berjalan di salah satu koridor. “Ini ruangan apa?”
“Ini untuk anak anak kelas sepuluh.”
Ares tertawa. “Bagaimana kau tau? Bagaimana jika ini Lab?”
“Tertulis di sana itu kelas sepuluh, Ares,” ucap Cantika menunjuk penanda yang ada di atas pintu.
“Aishhhh,” gumam Ares merasa kesal.
Membuat Cantika yang memang menyukai Ares itu berkata, “Atau kau mungkin merindukanku, ini hanya alasan bukan?”
“Rindu apanya? Aku hanya ingin membantu sesama teman lama. Ayo,” ucapnya kembali menggenggam tangan Cantika dan membawanya ke tempat lain.
Yakni belakang sekolah.
“Kenapa kau membawaku ke sini?”
“Ini adalah jalan jika kau ingin bolos.”
“Aku tidak akan melakukannya,” tegas Cantika.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.”
Cantika hanya mengikuti langkah Ares saat pria itu menariknya.
“Naik ke pohon ini, lalu injak bentengnya, kemudian kau bisa melompat ke luar benteng.”
“Dimana aku akan mendarat?”
“Ah, kau harus meloncat lebih panjang karena ada selokan di sana.”
“Kau sering bolos?” tanya Cantika.
“Sekolah tanpa bolos itu tidak menyenangkan, Centini.”
“Namaku…. Sudahlah,” ucap Cantika mengibaskan tangannya saat dia merasa lelah membenarkan. “Aku anggap itu panggilan sayang darimu.”
“Sayang apanya,” ucap Ares sambil memanjat. “Nama itu lebih cocok untukmu.”
Cantika mengerucutkan bibirnya.
Membuat Ares yang sedang memanjat itu tertawa. “Aku hanya bercanda, kemarilah.”
Ares mengulurkan tangannya supaya Cantika ikut memanjat.
“Aku memakai rok.”
“Hanya sampai sini saja.”
“Nanti rok milikku akan kotor.”
“Rok itu memang milikmu.”
“Ish, nanti bajuku kusut.”
“Tanganku akan memanjang jika kau tidak menggapainya. Astaga, cepatlah, Centini.”
Akhirnya Cantika melakukannya, dia menginjak beberapa dahan sampai bisa melihat keluar dari benteng. “Meloncatlah ke sana, oke?”
Cantika mengangguk. “Dalam hal apa aku harus bolos? Aku akan menjadi murid teladan.”
“Selalu ada imunisasi, kau mau disuntik?”
Ares membantu Cantika saat turun, sampai dia kembali berkata, “Kau benar benar pendek, berapa tinggimu?”
“158 cm, berapa tinggimu?”
“180.”
“Astaga, kau lebih pantas menjadi model.”
Ares tertawa. “Maaf, wajahku ini bukan untuk konsumsi banyak orang.”
🌹🌹🌹🌹
“Cantika, kamu tidak seharusnya berkeliaran seperti itu,” ucap sang wali kelas saat melihat murid baru didikannya berjalan ke arahnya. “Darimana saja kamu?”
Saat hendak mengomel kembali, guru tersebut terhenti ketika melihat Ares. “Maaf, Bu, dia teman masa kecil saya, jadi saya ajak keliling sebentar.”
“Ares, seharusnya kamu tidak melakukan itu.”
“Maaf, Bu, ini salah saya, saya penasaran dengan sekolah ini.”
Guru tersebut diam, “Karena ini hari pertamamu, ibu berikan toleransi. Sekarang ayo, kita ke kelas barumu.”
Cantika mengangguk, dia melambaikan tangannya pada Ares sebagai salam perpisahan dengan wajahnya yang ceria.
Membuat Ares menggelengkan kepalanya heran, “Apa dia tidak tumbuh dan berkembang?”
Saat kembali ke kelas, upacara telah selesai. Sekolah yang sangat dipenuhi aturan itu membuat anak anak IPA selalu berada di kelasnya sesuai aturan.
Berbeda dengan sebagian anak IPS yang sering bermain di depan kelas.
“Hei, Brooo…. Darimana aja lu?”
“Jauh jauh dari gue, Sam.”
“Lu mau kemana, Ar?” tanya Samuel teman akrab Ares. “Ke kelas IPA?”
Penasaran, Samuel mengikuti Ares. Sampai dia berhenti di depan kelas IPA dua, menatap ke dalam lewat jendela. Ares berdiri sambil memasukan tangannya ke dalam saku.
Samuel ikut menatap ke arah tatapan Ares. “Siapa itu? Murid baru? Lu tertarik sama dia?”
“Tentu tidak, dia temen kecil gue.”
“Lu suka sama dia sekarang?”
“Yang bener aja,” ucap Ares sambil berbalik hendak kembali ke kelasnya.
“Astaga!” ucap Ares dikagetkan dengan Athena yang berdiri di depannya. “Kau sedang cosplay menjadi dedemit huh?”
“Itu Cantika bukan?”
“Iya.”
“Wah, kenapa dia masuk kelas IPA dua? Bisakah kita meminta untuk memindahkannya ke kelasku?”
Ares mendorong Athena agar menjauh. “Itu bukan urusanku.”
“Ah benar, kau tidak berpengaruh apapun di sekolah.”
“Hei, aku menguasai semua olahraga di sini.”
“Aku akan meminta Galuh membantuku,” ucap Athena sambil merapikan rambutnya.
“Menjauh darinya,” ucap Ares memberi peringatan. “Jangan berani dekat dekat dengannya.”
“Memangnya kenapa? Kami satu kelas.”
“Jangan dekat dekat dengan pria itu, At---“ BRUK!
Pintu kelas Athena lebih dulu tertutup, membuat Ares berdecak. “Apa dia bercanda?”
“Athena semakin hari semakin cantik.”
“Ngomongin adik gue lagi, gue pataih leher lu,” ucap Ares memberi peringatan sambil berjalan.
Dan di koridor, dia berpapasan dengan murid teladan di sekolah ini, seorang ketua Osis yang tidak begitu Ares sukai.
Mereka hanya bertatapan beberapa detik, sebelum Galuh memasang wajah dingin dan Ares yang menyeringai.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Saat kelas X kalian tampak akrab.”
“Jangan pernah berani membahas itu.”
🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE