
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123 YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN UNTUK BACA INI, EMAK SAYANG KALIAN. I LOVE U SOO MUCH.🌹
“Min… jimin….,” ucap Kakek Cantika mengguncang pelan tubuh pria tua yang ada di depan pintu museum. Tidak ada gerakan, yang mana membuat Kakek Cantika itu kaget. “Jimin?”
“Huh?! Hah?! Siapa?!” matanya menatap orang yang membangunkannya sambil menyipit. “Kenapa, Pak?”
“Itu di depan ada mobil bagus punya siapa?”
“Tidak ada yang datang berkunjung,” jawabnya dengan linglung. Pendengarannya yang memudar dan ingatannya yang kabur membuat Kakek Cantika mendesah pelan.
“MO⸻BIL. MO⸻BIL.”
“Mobil?”
“Iya, di depan. Punya siapa?”
“Saya tidak punya mobil, kan Bapak tau.”
“YANG DI DEPAN,” ucap Kakek Cantika. Bukan berteriak, tapi perkataan yang penuh dengan penekanan.
“Oh, juragan kayu.”
“Yang mau nebang pohon di sekitar sini?”
“Iya, tadi datang bersama pembantunya. Tadi cucu Bapak juga datang, tapi sudah pulang.”
“Nganterin makan?”
Pria tua itu menggeleng. “Nganterin makan, Pak.”
Yang mana membuat Kakek Cantika hampir kehilangan kesadarannya. “Ambilkan tas dan makanan saya, saya harus pergi mengambil barang baru di kecamatan.”
“Nggeh, Pak.”
Pria tua itu masuk melangkah dengan tongkatnya. Mungkin dia tuli, juga sedikit rabun dan pikun, tapi hati nurani yang membuatnya tetap bekerja di sini. Dan juga, tidak ada yang mau bekerja di museum tengah hutan dan mengerikan seperti ini.
“TOLONG! ADA YANG BIS MENDENGAR KAMI?! KAMI TERKUNCI DI SINI!”
Kakek tua itu terdiam sejenak, mencoba mendefinisikan apa yang dia dengar ke dalam otaknya. Sampai akhirnya, “Nyamun,” gumamnya membawakan tas dan makan siang untuk orang yang bertanggung jawab di sana.
“TOLONGGGGG! KELUARKAN KAMI! DORONG PINTUNYA!”
Dia keluar dengan tertatih tatih. “Ini, Pak.”
“Tunggu di sini ya. Kalau mau pulang, kunci museumnya.”
“Sama sama, Pak.”
“Lah….,” gumam Kakek Cantika yang menaiki motor bebeknya dan pergi dari sana.
Sementara si Kakek tua itu melanjutkan tidur yang terus saja terpotong.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ares menarik tubuh Cantika dan membawanya menuruni tangga. Sesudah pintu tertutup, Cantika langsung berlari dan mencoba membuka pintu sambil berteriak, tanpa mempersalahkan darah yang mengalir dari sikutnya.
“Ares, kita harus keluar,” ucap Cantika saat dirinya diangkat oleh Ares dan didudukan di lantai kayu.
TAK! Ares akhirnya menemukannya, dia menyalakan lampu bohlam berwarna kuning itu. “Uhhh…., mengerikan. Warnanya seperti di film horror,” gumamnya sambil mendekati Cantika, Ares berjongkok menghadap gadis mungil itu.
“Kita harus keluar dari sini, jika kau berteriak pasti akan ada yang mendengar.”
“Diamlah, lihat darah ini,” ucap Ares menarik pelan tangan Cantika supaya dia bisa melihatnya dengan jelas. Ada luka yang membuat darah terus mengalir di sana. Kemudian dia kembali bergumam, “Tidak ada air.”
Cantika mendengarnya. “Tidak apa, nanti saja diobatinya.”
“Nanti bisa infeksi, Centini.”
“Maka dari itu kita harus keluar.”
Ares mendesah pelan dan melihat sekitar, dia berdiri untuk mendekati jendela. Untuk orang setinggi dia, bahkan dirinya harus berjinjit. Dan lewat kaca berukuran 30x30 cm itu, dia melihat bagaimana motor bebek milik Kakek Cantika menjauh pergi di tengah kehujanan.
Yang mana membuatnya menelan ludahnya kasar, berarti di sini tidak ada siapa siapa kecuali kakek tuli itu?
“Ares?” panggil Cantika dengan suara lirihnya, Cantika juga mulai merasa takut. “Ponselku mati karena terbanting, kau membawa ponsel?”
“Aku tinggalkan di dalam mobil.”
“Astaga,” gumam Cantika mulai panic.
“Tenanglah, aku tidak akan membuat kita mati sebelum menikah,” gumamnya mencari cari benda di sekitar.
Ada banyak peti di sana, dipenuhi debu dan ditutupi kain kain yang mengerikan. Seolah ketakutan Ares sirna begitu saja, dia membuka, memporakporandakan peti peti itu untuk mencari sesuatu yang kuat dank eras.
Sampai dia mendapatkan patung besi berbentung wayang arjuna.
“Apa yang akan kau lakukan dengan itu?”
“Akan aku hancurkan gagang pintu.”
“Jangan, itu benda ber⸻Akkhhhh!”
“Kubilang duduk saja, kakimu sepertinya terkilir,” ucap Ares mendekat dan mendudukan Cantika perlahan lagi.
“Itu benda berharga, Ares.”
“Aku punya banyak uang, jadi diamlah.”
CTAAAARRRRR!
Suara petir yang begitu keras membuat Cantika otomatis memeluk Ares dan menyembunyikan wajahnya di dada Ares.
“Wah….,” gumam Cantika. “Ternyata aku punya rasa takut.”
Ares menggeleng tidak percaya. “Benar, kau punya rasa takut. Kupikir awalnya kau alien aneh, Centini.”
🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE