
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, BINTANG LIMA SAMA ULASAN BAGUS YA ANAK ANAK. JANGAN LUPA JUGA AJAK YANG LAIN BACA INI YA🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA🌹
🌹IGEH EMAK FIFOLLOW JUGA DI : @REDLILY123🌹
David menatap adik adiknya yang sedang makan bersama. Bagaimana pun, mereka memiliki ibu yang sama.
David mengusap kepala adik bungsunya sebelum keluar dari ruang makan. Tangan David memberi isyarat pada dua pengasuh di sana. "Perhatikan mereka dengan lebih baik jika ingin gajimu naik."
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan."
Dan ketika David hendak keluar rumah, adik tertuanya melihat.
"Kau akan pergi?"
David menengok. "Aku akan ke sini saat makan malam nanti. Ada yang harus aku lakukan."
"Baiklah," jawab adik pria yang tertua. "Kau benar benar akan kembali?"
"Aku tidak pernah berbohong. Makan lah bersama yang lain, dan kuliah dengan benar supaya kau berguna untukku," ucap David sembari keluar.
Walau pun mereka bersaudara, tetap masih ada kecanggungan dalam diri David. Apalagi dalam ingatannya, ibunya meninggalkannya demi ayah dari adiknya itu.
Saat keluar dari rumah itu, Holland sudah menunggu dengan mobil di sana.
"Kau menemukan alamat chef itu?"
"Ya, Tuan. Kita bisa coba pergi ke sana."
"Berdoalah semoga semuanya berjalan dengan baik."
"Amen, Tuan."
"Aku menyuruhmu ikut berdoa, Holland."
"Akan saya lakukan. Silahkan masuk."
🌹🌹🌹
Lily tidak bisa berhenti tertawa saat mendengar cerita Oma tentang mantannya yang tidak bisa dia lupakan.
"Andai saja tidak ada bule tampan yang tersesat di kampung tempat Oma tinggal, mungkin Oma akan menjadi istri kesekian kalinya."
"Kenapa Oma menyukainya?"
"Hei, dia kaya. Dia yang memiliki sawah di kampung Oma."
"Berhenti membahasnya, Oma pusing," gumam Oma memijat kepalanya.
kini mereka akan pulang ke rumah. Oma tidak memiliki lagi semangat untuk pergi ke toko.Â
"Oma tidak membeli apapun untuk anak anak," ucap Oma sedikit panik.
"Tidak apa apa, Nina pasti membuatkan sesuatu untuk mereka. Oma istirahat saja supaya jantung Oma baik baik saja."
"Bagaimana dengan David?" tanya Oma penasaran dengan panci pink nya. "Oma tidak yakin dia akan menemui chef itu."
"Kenapa memangnya, Oma?"
"Dia sering berpergian," ucap Oma meyakini kalau David tidak akan menemukan chef yang dicarinya. "Tapi terlepas dengan itu, Oma ingin dia menemui adik adiknya di Amerika."
"Ya aku juga merasakan hal yang sama. Kami tidak ke sana tahun kemarin, aku harap juga bisa ke sana."
"Perhatikan kandunganmu, Lila. Dia lebih penting," ucap Oma mengingatkan. "Apa yang anak anak lakukan sekarang ya?"
"Jangan khawatir, Oma. Jika aku mengatakan kepada mereka untuk tidak membuat kekacauan, mereka akan menurutinya."
"Tapi tidak dengan rumah Oma bukan? Apalagi Eta tidak di rumah."
Saat itulah Lily kaget, dia segera menelpon Nina. Sayangnya tidak diangkat, membuat Lily yakin kalau kedua anaknya melancarkan aksi mereka saat Nina tidak memperhatikan.
Oma segera meminta supir untuk langsung kembali ke rumahnya.
Begitu sampai, Lily langsung turun.
"Pelan pelan, Lila." Oma memperingati.
Dan benar saja, saat Lily membuka pintu rumah, dia terdiam mematung dengan tatapan tidak bisa dijelaskan. Kekagetan dan panik muncul.
Ketika kedua anaknya yang sedang berlarian keluar dari kamar, Lily mendapati keduanya berlumuran terigu.
Saat itulah dia memejamkan matanya dan mulai menghitung.
"Satu… dua….," ucap Lily agar amarahnya terpendam.
Dan Ares menambahkan, "Tiga… empat.. Lima… enam…"
🌹🌹🌹
To be continue