
🌹VOTE YA GAIS, ILY🌹
Lily mengusap tangan David yang memeluknya dari belakang, rasanya Lily enggan membiarkan David pergi. Dia tidak ingin berpisah, apalagi perutnya semakin berat. Berjalan saja Lily kesusahan, dan bayi bayi mereka semakin aktif dalam kandunga.
Seperti saat ini, David yang mengusap perut Lily merasakan tendangan. "Astaga, Sayang, aku merasakan tendangan mereka."
Lily tersenyum.
Satu kali pergulatan, David mengurangi aktivitas berduaan bersama Lily dan memperbanyak berada di kamar mandi. Nafsu David pada istrinya tidak pernah berhenti mengalir, tapi kini dia mulai bisa menahan. Karena David lebih menyayangi istrinya daripada napsunya, meskipun sedikit sulit mengendalikan.
"Sayang… apa kau tahu, hubungan suami istri membuatmu tampak awet muda?"
"Benarkah? Apa itu yang memicumu sering melakukannya?" Tanya Lily dengan polosnya.
"Astaga," gumam David, dia melanjutkannya dalam hati, 'Aku pikir setelah mengataka itu dia ingin awet muda, tapi dia malah berpikir aku tua.'
"Jam berapa besok?"
"Pukul delapan, Sayang."
Seketika wajah Lily cemberut, dia kesal ditinggalkan. "Jangan lama lama."
"Tidak, aku janji."
"Cepat kembali."
"Iya, Sayang. Sekarang tidurlah."
"Belum ngantuk," ucap Lily dengan suara kecilnya.
"Kemarilah, berbalik dan peluk aku."
Lily yang hanya memakai pakaian dalam khusus wanita hamil itu berbalik, dia memeluk suaminya meski ada jarak. Perut Lily dan perut David yang beradu membuat David ingin tertawa. Pasalnya one pack milik Lily terus menendang six pack miliknya.
Lily yang mulai memejamkan matanya menyadari itu.
"Kenapa kau tertawa?"
"Anak anak kita menendang, aku merasakannya di kulit perut."
Lily menunduk, menatap perut mereka yang beradu. Miliknya begitu besar, membuncit seperti kata Sebastian. Semetara milik David begitu ramping, kotak kotak sempurna.
"Tidak apa, Sayang. Punyaku tidak akan luntur, tubuhku terlalu bagus untuk berubah. Jadi saat aku pulang nanti, kau bisa menyentuhnya lagi."
"Bu… bukan begitu," ucap Lily. "Aku… ingin roti lilit."
"Roti lilit? Aku akan memanaskannya di bawah. Tunggu sebentar ya."
David keluar kamar setelah memakai jubah, dia menuju dapur untuk membangunkan Eta. Namun, saat mendekat ke arah itu, David melihat ada seseorang sedang membuka kulkas dan membungkuk mengambil isinya.
"Eta?"
Tidak ada jawaban.
"Om--- Aaaaaaa!"
"Aaaaaaa!" Oma ikut berteriak. "Kenapa kau berteriak?! Dasar bule tengik!"
"Oma! Kenapa wajah Oma gosong?!"
"Oma sedang dimasker wajah, dasar orang kampung," ucap Oma berbalik kembali mencari sesuatu dalam kulkas.Â
🌹🌹🌹
David membuka matanya, hal yang pertama dia lihat adalah keberadaan istrinya yang terlelap dalam pelukannya. David beranjak saat melihat jam di sana. Dia menghubungi Holland di pintu yang terhubung dengan balkon.
"Sudah bawa koper dari apartemen?"
"Sudah, Tuan. Kami sedang bersiap."
"Bagus, ke mari jika penerbangan dua jam lagi."
"Eum, penerbangan akan landas dalam satu setengah jam lagi, Tuan."
David menatap jam untuk memastikan. "Oh sial," gumamnya. "Datang tiga puluh menit lagi."
"Baik, Tuan."
David menutup panggilan, dia segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Tidak ada ritual mandi berlama lama, hanya beberapa menit.
Saat keluar, David terkejut melihat Lily yang berdiri di dalam walk in closet.
"Astaga, Sayang. Kau sudah bangun?"
"Kau sudah bersiap?"
"Maaf, Sayang. Aku terlambat, ada pertemuan sebelum aku berangkat di Bandara."
Lily terlihat sedih, tapi dia menahannya dengan menarik napas dalam kemudian memilihkan baju untuk sang suami.
Mengancingkan pakaian sampai memakaikan dasi, Lily lakukan dengan perlahan demi merekam moment terakhir kebersamaan mereka.
Setelah selesai, David menarik pinggang Lily yang sudah memakai jubah tidur.
"Aku akan pulang secepat mungkin. Beritahu aku, Sayang, apa yang kau inginkan?"
Lily menggeleng. "Aku hanya ingin kau pulang."
David menarik Lily ke dalam pelukannya dan mencium kening istrinya lama sebelum turun untuk sarapan.
Di sana ada Oma yang sudah menyiapkan sesuatu dalam koper.
"Apa itu, Oma?" Tanya David.
"Makanan untukmu, agar kau tidak makan junkfood dan pulang seperti kakek kakek."
"Astaga," gumam David.
Dan tanpa diduga, saat itu Holland datang.
"Aku pikir aku masih punya waktu sekitar setengah jam lagi."
"Ada perkiraan cuaca buruk, Tuan Muda. Keberangkatan paling aman adalah saat ini."
David menatap istrinya perlahan, air mata ada di pelupuk matanya.
"Sayang…."
Dan saat David memeluknya, Lily menangis seketika. Rasanya sangat berat, dia tersedu sedu melepas kepergian suaminya.
"Sayang, aku janji akan pulang dengan cepat."
"Hiks… hiks…. Jangan lama lama."
"Iya, Sayang. Aku janji."
🌹🌹
Tbc.