Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Terlihat



🌹VOTE🌹


Sesampainya di perusahaan David, Lily berjalan dengan pelan. Masih bertanya-tanya tentang pengaman yang dia temukan.


"Selamat siang, Nyonya."


"Siang," ucap Lily masuk begitu saja.


Di dalam sana David tidak ada, membuat Lily keluar lagi. "Di mana David, Megan?"


"Tuan keluar bersama Tuan Sebastian, Nyonya."


"Sejak kapan?"


"Satu jam yang lalu."


"Apa mereka ada jadwal bersama?"


"Tidak, Nyonya."


"Terima kasih."


Lily kembali masuk tanpa mempedulikan raut wajah Megan. Dia menunggu cukup lama sampai akhirnya berani mengirim teks pesan.


ME : Aku ada di kantormu, David.


Pesan itu belum terbaca, membuat Lily memilih menunggu.


Sampai akhirnya, seseorang masuk ke ruangan sambil tertawa. Itu adalah Sebastian dan David.


Tawa David terhenti saat melihat keberadaan Lily. "Sayang? Kenapa kau di….. Astaga aku lupa."


"Hallo, Lily," sapa Sebastian.


"Hallo, Sebastian."


"Pulang sana," ucap David pada sahabatnya.


"Aku baru saja datang, ayolah."


"Pulang."


Diusir oleh David, akhirnya Sebastian kalah. Dia keluar meninggalkan David yang mendekati Lily.


"Aku lupa kau akan datang."


"Tidak apa," ucap Lily dengan suara kecilnya. "Sudah makan?"


"Baru saja bersama Sebastian."


"Oh…." Lily mengangguk, dia menatap rantang di atas meja.


Itu membuat David berdecak. "Kau sudah makan?"


"Belum."


"Makanlah di sini."


"Aku akan makan bersama Oma."


"Jangan menunda makan, habiskan itu di sini. Aku akan menemani."


Namun, saat David hendak duduk, telpon kantornya berbunyi.


"Sebentar," ucapnya pada Lily. "Ya, Megan?"


"Tuan Ferguso ingin menemui anda, Tuan."


"Suruh dia menunggu di ruangan bawah."


"Baik, Tuan."


"Ada apa, David?" Tanya Lily melihat suaminya kebingungan.


"Aku akan turun ke bawah, kau makan. Aku kembali, makanan itu harus habis."


"Jika…." Ucapan Lily menggantung, dia masih malu untuk mengatakan usulan atau apapun itu.


"Katakan, Lily, jangan dipendam sendiri."


"Jika aku pulang dan makan bersama Oma?"


"Tidak, makan di sini," ucap David dengan tajam. 


Dia menekan sebuah tombol hingga dinding yang memajangkan buku berubah menjadi televisi seperti di kamarnya. "Menontonlah jika bosan."


"Baiklah."


"Jika butuh sesuatu, minta Megan."


"Iya."


"Coba buka web makanan, pesan apapun yang kau mau. Tapi jangan pergi sebelum aku kembali."


"Aku mengerti," ucap Lily pasrah.


"Aku keluar dulu."


"Baik, hati-hati."


"Aku hanya ke bawah, Lily."


"Ya… maksudku kau juga… perlu jaga diri."


"Ehem."


Lily yang sedang membuka rantang itu diam, dia mendekat pada David. Hendak menciumnya, tapi David tinggi. "Membungkuklah."


"Ck."


CUP.


"Ehem."


CUP.


"Ehem."


CUP.


"Ehem."


Karena lapar dan sedikit kesal dengan David, Lily merangkup pipi David dan menciumnya lama. Dengan penuh kesal dan masih tanda tanya tentang keberadaan pengaman.


"Sudah?"


"Ck, seharusnya aku tahu kau menginginkanku, Sayang. Seharusnya aku tidak menerima Tuan Ferguso, kau pasti sangat mendambakanku sampai menciumku sedalam itu."


🌹🌹🌹


Lily merasa bosan, dia menonton TV sambil makan siang. Sampai akhirnya makanan habis, dan Lily ingin cemilan. Dia melihat-lihat dalam aplikasi beberapa makanan manis yang membuatnya tersenyum.


Dulu, Lily hanya bisa menatap tanpa membeli. Kini dia memasukannya ke dalam keranjang, dan memesannya lewat aplikasi ojek online.


"Hallo, Oma?"


"Lily Sayang, bisakah Oma titip sesuatu saat kau pulang?"


"Ya, apa yang ingin Oma beli?"


"Oma ingin membeli pisau, Eta tidak bisa keluar karena sedang membuat kue. Pelayan yang lain sedang mengerjakan tugas dari Oma."


"Tentu, Oma. Pisau yang seperti apa?"


"Satu set pisau ya, berwarna hitam. Juga tambang cokelat yang terbuat dari bahan alami, dan jangan lupa beli silet yang banyak."


"Baik, Oma. Ada lagi?"


Terdengar Oma yang sepertinya berpikir. "Racun tikus, Oma membutuhkannya juga."


"Baik, Oma. Lily akan belikan saat pulang nanti."


"Ngomong ngomong, kau masih di sana, Sayang?"


"Ya, Oma."


"Mana David? Apa yang sedang dia lakukan?"


Lily menghela napas panjang. "David sedang ada pertemuan di lantai rapat bawah, Lily masih menunggu di sini."


"Astaga, jika dia lama pulang saja, Oma butuh bantuanmu."


"Baik, Oma."


"Jangan lupa pesanan Oma."


"Iya, Oma."


"Baiklah, Sampai nanti."


"Sampai nanti, Oma."


Lily menutup panggilan, dia kembali menonton televisi sampai seseorang mengetuk sebelum masuk.


"Nyonya?"


"Ya, Megan?"


"Apa anda memesan dari aplikasi ojek online?"


"Ya aku memesan makanan. Ada apa?"


Wajah Megan terlihat sangat kesal. "Resepsionis dari bawah memberitahukan bahwa ada pesanan yang harus dia antarkan ke lantai ini, dan lantai ini tidak bisa didatangi sembarang orang."


"Oh… sayang sekali…. Maaf, bisa kau mengambilnya? Aku masih harus membereskan ini."


Megan menahan kesal, dia mencoba tersenyum. "Baik, Nyonya."


"Ini uangnya."


Mata Megan melotot saat dia diberi uang recehan, membuatnya ingin mencaci Lily yang sangat kampungan. 


"Sudah."


"Saya keluar, Nyonya."


Saat Megan keluar, dia menggerutu sambil berjalan, "Sialan! Dasar wanita kampungan! Sudah memesan dari aplikasi murahan, kini dia kenyuruhku dan memberi uang receh. Lihat saja nanti, aku akan merebut Tuan David darinya. Aku tahu pernikahan mereka hanya karena taruhan. Lihat saja kau si mata empat."


🌹🌹🌹


David yang lama membuat Lily kesal, dia tidak bisa menunggu lagi. Oma sudah menelponnya berulang kali, dan dia sudah menghabiskan banyak makanan.


Lily keluar, tapi dia tidak melihat keberadaan Megan.


"Megan?"


Tidak ada siapapun di lantai ini, membuat Lily turun ke lantai bawahnya untuk memeriksa. Lily yakin mereka ada di ruangan rapat.


Sementara itu, David yang sudah selesai membicarakan investasi bersama Tuan Ferguso, kini tengah melihat berkas berkas di sana bersama Megan.


"Apa ini, Megan?"


"Itu proyek pembangunan rumah sakit di salah satu ChinaTown milik anda."


"Astaga, aku lupa. Siapa investor terbesar?"


"Tuan Guan Li, Tuan."


"Dia di Jepang bukan?"


"Ya, Tuan. Ada sesuatu yang ingin anda lakukan?"


"Aku butuh lagi dana darinya untuk membangun klinik, tapi bukan di ChinaTown."


"Anda bisa menghadiri pesta pernikahan anaknya."


"Ya?"


Megan memperlihatkan layar tabletnya. "Satu jam yang lalu, Tuan Guan Li mengirim undagan untuk anda. Saya kira ini adalah momen bagus untuk bicara dengannya lagi."


David menyeringai. "Kapan itu?"


"Minggu depan."


"Siapkan jet pribadiku."


"Tapi pernikahan ini bersamaan dengan peresmian pembukaan rumah koleksi motor klasik milik Tuan Luke, Tuan."


"Aku tahu kau bisa mengaturnya."


Megan tersenyum puas. Dia melihat sekitar, sangat sepi dan pas untuknya menjalankan rencana. Megan akan menggoda David secara panas.


"Apa anda ingin kopi hangat, Tuan?"


"Bawakan," ucap David dingin.


Megan sengaja membawakan kopi panas, saat membawa menuju David, Megan berpura-pura tersandung hingga dia merelakan air panas jatuh ke dadanya.


"Aaaaaaa! Panas!"


David spontan mendekat. "Astaga!"


"Panas! Panas!" Megan membuka blazernya dan pakaiannya hingga menyisakan kaos dalam, memperlihatkan kulitnya yang merah. David membantu dengan mengibaskan tangannya.


"Panas…. Tuan…"


Dan saat itulah Lily masuk ke dalam ruangan. 


"David?"


🌹🌹🌹


Tbc....