Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


“Belok ke kiri, kenapa kau ke kanan.”


“Tadi kau mengatakan ke kanan, kenapa ucapanmu berubah ubah.”


“Aku bilang kiri,” ucap Cantika dengan suara kecilnya. “Mungkin karena helm jadi pendengaranmu kurang efektif.”


“Pendengaranku baik,” ucap Ares memarkirkan motornya di gang yang salah masuk.


Kini dia mengikuti arah Cantika lewat tunjukan tangannya untuk berbelok.


Sampai akhirnya Cantika mengatakan, “Nah, sampai,” ucapnya membuat Ares berhenti di depan sebuah pagar.


Rumah yang ditempati Cantika berbeda jauh dengan rumah yang ditempati Ares. Bukan tentang luasnya, tapi gayanya. Rumah Kakek dan Nenek Cantika sangat luas, halamannya penuh dengan rumput hijau dan pohon rindang. Persis halaman depan istana presiden, hanya saja bagian rumahnya bergaya zaman jawa kuno.


“Wah, kau tinggal di sini?”


“Iya.”


“Apa angkot mengantarkanmu sampai depan sini?”


“Tidak, sampai gang depan sana.”


“Tapi jalan ini besar.”


“Ini bukan jalan umum.”


“Ouh, pantas saja.”


“Terima kasih,” ucap Cantika memberikan helmnya kembali pada Ares. “Kau mau mampir?”


“Tidak, ini sudah sore. Bawalah payung besok, supaya aku tidak perlu repot repot mengantarkamu.”


Cantika bukan tipe wanita yang mengambil semua perkataan orang pada perasaannya, dia tersenyum ceria menatap wajah tampan Ares. “Baiklah, kau sangat baik, tidak hanya tampan.”


“Oh tentu saja, kau pandai menyadarinya.”


“Hati hati di jalan.”


“Oke.”


Cantika tersenyum bahagia, dia berjalan menuju rumahnya sambil meloncat loncat dihalaman. “Aku bertemu Ares, Ares yang tampan yang baik.”


“Tika?!”


“Iya, Nek?” Cantika langsung menuju ke halaman belakang, dimana halaman belakang itu berdekatan dengan sungai.


“Kenapa baru pulang?”


“Tidak ada angkot, Nek. Cantika pulang berjalan sebelum ditemukan pangeran tampan.”


“Pangeran tampan?” tanya sang Nenek sambil memetik terong.


“Teman kecil Cantika, namanya Ares.”


“Baiklah, sekarang bantu Nenek untuk membawa keranjang ini ke dalam.”


“Nenek mau masak apa?”


“Nenek masak apa? Kau yang akan memasak.”


“Cantika?” tanya Cantika sambil mengangkat keranjang dan membantu Nenek berdiri di saat bersamaan. “Nenek mau mengajari Cantika?”


“Hei, kau sudah bisa. Hanya perlu dilatih. Sekarang ganti baju, besok dipakai lagi bukan?”


Cantika mengangguk setelah membantu Neneknya sampai duduk di dapur. Sementara dirinya melangkah hendak menuju kamarnya.


Saat hendak menuju kamar, Cantika berhenti melihat ibunya yang ada di kursi roda sedang menatap keluar jendela. Dia menarik napasnya dalam menahan tangisannya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Ares memarkirkan motornya di garasi, seperti sebelumnya, rutinitas Ares sebelum pulang ke rumahnya adalah menuju rumah Oma untuk memberikan ciuman padanya.


“Bagaimana keadaan Oma saat ini?”


“Baik, bagaimana denganmu? Apa kau nakal hari ini?”


Ares hanya tersenyum. “Tetap sehat, Oma. Sampai aku menikah dan punya anak.”


“Belajar dengan betul, baru punya anak.”


Ares tertawa dan melangkah menuju rumahnya, dia melihat mommy nya sedang memasak bersama asisten rumah tangga. “Hallo, Mommy.”


“Jangan memeluk, Mommy. Kau habis olahraga bukan?”


Ares tersenyum. “Kau yang terbaik, Mom. Apa Daddy belum pulang?”


“Tentu saja Dadduy sudah pulang, kau kalah dari Daddy,” ucap David yang menuruni tangga.


Sambil mengambil satu chicken strip dan berjalan ke kamarnya, Ares berkata, “Tidak masalah kalah dari Daddy, Daddy sudah tua, aku khawatir jika Daddy banyak marah.”


“Anak itu.”


Semua kamar penghuni rumah ini ada di lantai dua, salah satunya Alden yang selalu menebar mainan di mana mana sampai Ares menginjaknya.


“Akhhh!” dia menatap rel kreta yang tida sengaja dia injak. “Mom! Alden membuat mainannya berantakan keluar kamar! Mom!”


Membuat Ares menoleh. “Kamarmu luas, pakailah kamarmu.”


“Kamarku sudah penuh, Kak Ares.”


Ares mengintip ke kamar Alden, dia memang anak yang penuh dengan rumus fisika dimana dia selalu menemukan gaya tarik atau apalah yang tidak Ares pahami. “Mom! Kamar Alden berantakan!”


“Ini penelitian!”


“Mom! Lihatlah!”


“Mom! Aku sedang mengerjakan tugas!”


Sampai Athena membuka pintu kamarnya, Ares dan Alden langsung terdiam.


“Holla, Kak Thea.”


“Hai, Athena.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Oke semuanya, jadi next kita harus pakai to⸻”


TOK!


TOK!


Athena diam mematung.


“Toner ini aku rekomendasikan banget ya, soalnya aku dulu per⸻”


TOK!


TOK!


“Ish!” Athena mematikan kamera yang merekamnya. Dia kesal karena tahu siapa yang selalu melakukan hal itu padanya. “Masuk.”


Ares dengan cengengesan itu masuk, “Apa yang sedang kau lakukan? Menumpuk video?”


“Jangan tidur di ka….. surku.” Athena menghela napas dalam membiarkan Ares melakukan apa yang dia mau. “Apa maumu?”


“Aku hanya sedang bosan.”


“Lalu carilah kegiatan.”


“Aku ingin di sini.”


“Jangan pegang boneka moomin milikku.”


“Si kapas itu?”


“Jangan sentuh dia.”


Ares berdiam sejenak, dia beguiling guling di atas kasur. Yang mana akhirnya membuat Athena kesal, apalagi dia memainkan boneka kesukaannya.


Athena langsung berdiri dan melemparkan gelas plastic kosong pada kepala Ares.


BRUK!


“Aw! Thea!”


“Kubilang jangan sentuh dia! Bagaimana jika dia bangun dan balas dendam memukulku?”


“Pemikiran macam apa itu?”


“Pergi dari kasurku atau aku bilang Mommy kau yang memakan jelly milik Oma.”


Ares berdehem dan duduk di pinggir ranjang. Dia tersenyum. “Aku akan keluar malam ini.”


“Kau mau kemana lagi?”


“Ke caffe depan.”


“Ini baru hari pertama sekolah, setidaknya nanti saja jika sudah seminggu berlangsung.”


“Oh ayolah.”


Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada yang memperhatikan dari ambang pintu. Disana Lily sedang memegang cemilan malam untuk keduanya. “Kau mau kemana Ares?”


Tanpa menoleh, Ares menelan ludahnya kasar. “Hallo, Mommy Cantik Putih Berseri mirip Bidadari. Oh tidak, Mommy memang bidadari. Itu cemilan malam? Aku sedang diet untuk mempertahankan ABS-ku, jadi berikan saja itu untuk Thea,” ucap Ares sambil melangkah pelan melewati mommy nya.


“Cemilan malam untuk Thea? Apa itu bagian dari penyuapan?”


“Mommy jangan berfikir aneh aneh. Selamat malam, Mommy Cantik.”


Kemudian setelah jauh, Ares menghela napas dalam. “Huft, akhirnya.”


🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE