Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Para Cucu Lambe Turah



🌹VOTEEEE YA GAISSSSS🌹


Oma membuatkan teh hangat untuk Luke yang masih marah. Dia mengasingkan diri di beranda belakang rumah. Menghindari Sebastian dan David yang membuatnya kesal.


"Apa yang sedang Oma lakukan?" Tanya Sebastian mendekat dan mengambil kue untuk Luke.


Membuat Oma menepuk tangannya. "Itu untuk Luke, Bule Tua!"


"Astaga, ini sakit, Oma."


"Kenapa kau tidak mengangkat telponmu! Lihat Luke marah."


"Si bungsu tidak akan marah lama lama, Oma. Jangan khawatir, dia akan membaik dengan sendirinya," ucap Sebastian beralih menuju ke lemari alkohol.


Eta yang melihat majikannya hendak membawakan nampan segera mendekat. "Biar saya saja, Nyonya Besar."


"Tidak, biarkan aku bicara dengan Luke. Aku yakin dia masih marah besar."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma dengan punggungnya yang bongkok mendekat ke beranda belakang. Di mana Luke sedang merokok. "Astaga, kenapa kalian semua sangat suka merokok?"


"Oma? Biar aku yang bawa," ucap Luke mengambil alih dan menyimpannya di meja.


Oma ikut duduk di kursi yang lain, menghadap kolam ikan di beranda belakang. "Astaga, sangat melelahkan."


Luke diam.


"Kau marah pada Oma?"


"Kenapa Oma menurut pada David?" Tanya Luke dengan kesal.


"Oma tidak punya pilihan."


"Astaga, itu tidak baik, Oma. Aku bahkan ingin memukul Sebastian dan David lagi."


"Sudah cukup, paru paru mereka sudah burik dengan merokok, jangan kau buat lebam wajah bodoh mereka."


Luke yang tidak sadar menyedot kembali rokoknya. "Ya, paru paru mereka burik."


Oma menggeleng tidak percaya sambil berdecak. "Benar benar, bule tidak ada yang benar."


"Aku tahu, Oma. Mereka berdua tidak benar, padahal sudah tua. Lihat aku, masih muda tapi yang selalu menjadi inspirasi dan menemukan solusi untuk masalah mereka."


"Dia bule bodoh, tidak tahu apa yang dia katakan," gumam Oma.


Luke menengok. "Apa, Oma?"


"Tidak, makanlah dan tenangkan dirimu. Oma ingin ke dalam."


Oma melangkah menuju kamar mandi tamu. Lily dan David masih berada di kamar. Dipastikan David sedang membujuk istrinya di sana. "Rasakan kau, bule tengik, Lily tidak akan memberimu jatah adonan. Wleee," ucap Oma pada pintu kamar David. 


Di kamar mandi, Oma membuka giginya, kemudian menyimpannya di dalam gelas, dan Oma masuk ke bilik toilet.


Di saat bersamaan, Sebastian masuk. Dia terkejut melihat ada gigi di sana.


Dan Oma yang sudah selesai membenarkan letak rambut palsunya keluar. Dia terkejut tidak mendapati giginya yang berharga.


"Astaga…, di mana gigiku?"


Saat Oma keluar, dia mendengar teriakan Sebastian.


"Ahhhhh! David! Gigi siluman ini menggigitku! Tolooooonggg! Tolonggggg!"


🌹🌹🌹


Sebastian diam menatap gigi yang ada di dalam gelas. "Maaf, Oma."


"Kau akan aku kutuk."


"Mana bisa, itu gigi keramat. Astaga…." Oma menutup wajahnya dengan tangan. "Bagaimana ini? Gigi itu menggigit tanganmu, sama saja aku yang melakukannya."


"Oma bisa mencucinya."


"Diam, jangan bicara!"


Luke yang sedari tadi melihat itu mencoba menahan tawa. Sampai akhirnya dia berdiri. "Oma, aku akan ke hotel dulu. Ini sudah malam."


"Baiklah, hati hati. Jangan bodoh jika bertemu orang lain."


Luke tidak dapat berkata kata, dia melangkah menuju pintu kamar David dimana dia tetap terkurung bersam Lily. Luke menggebrak pintu dari luar. "Hei! Jangan sampai ada berita kau bunuh diri lagi, atau aku akan membuatmu benar benar terbunuh!"


Luke yang masih kesal pergi. Meninggalkan Sebastian yang masih dihadapkan dengan Oma.


"Maaf, Oma. Aku ganti besok ya."


"Ya ampun…" Oma berlagak menangis. "Harganya 150 juta."


"Akan aku kirim uangnya 150 juta."


"Ditambah ongkos, menjadi 200 juta."


"Dengan ongkosnya juga."


"Dan dengan gigi geraham emasnya senilai 200 juta."


"Aku akan kirim emasnya. Sudah?"


Oma mengangguk, membuat Sebastian melangkah untuk menelpon. 


Saat itulah raut wajah Oma tersenyum. 


"Nyonya Besar, harganya tidak semahal itu."


"Ha ha ha, aku ingin mengetesnya apa dia kaya atau tidak."


Dan saat menunggu Sebastian selesai, David yang sedari tadi di kamar akhirnya keluar.


"Oma…"


"Astaga naga! Bule tengiku selesai semedi, bagaimana hasilnya? Kau dapat petuah?"


"Ya, sebuah guncangan ledakan atmosfer akan terjadi. Lily mengabaikanku bahkan membalikan badannya."


"kasihan sekali kau, ha ha ha."


"Ya ampun," gumam David melihat gigi Oma yang Ompong, apalagi Oma tertawa. "Oma, kau bisa mempublish berita kalau aku hidup."


"Jangan lupa transfer."


"Iya, tapi lakukan dengan judul ini. *Mayat David Fernandez ditemukan, keluarga sedih. Tapi boong.* Buat judulnya seperti itu, Oma."


Oma menggeleng tidak percaya. "Kau benar benar ingin menghancurkan Lambe milik Oma, iya? Dasar tengik."


"Kalau Oma tidak melakukannya aku tidak transfer."


"Baiklah! Tapi naikan dua kali lipat."


"Gampang, aku adalah orang kaya, tampan, dan sangat sempurna."


Lalu Oma menambahkan. "Dan tengik dan diterlantarkan istri."


🌹🌹🌹


TBC