Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Kejutan dari Oma



🌹VOTE DONG GAIS YAAAA🌹


"Eta!"


"Ya, Nyonya Besar?" Tanya Eta datang mendekat.


"Hubungi Holland, aku ingin bicara dengannya."


"Dia sedang ada di luar kota, Nyonya Besar. Jadi tidak bisa datang."


"Kalau begitu telpon saja, kenapa kau sangat bingung?"


"Ba.. baik, Nyonya Besar." Eta segera mengambil telpon rumah, dia memasukan nomor Holland. Dan setelah diangkat, Eta memberikannya pada Oma. "Ini, Nyonya Besar."


Oma berdehem sebelum bicara. "Holland?"


"Ya, Nyonya Besar?"


"Apa kalian akan berangkat ke Amerika pagi besok?"


"Iya, Nyonya. Apa ada sesuatu yang mengganggu anda?"


Oma menarik napas dalam. "Bisa kau beritahu perbuatan yang dilakukan Dena di sana, sampai sampai David harus mengikuti semua proses hukumnya?"


Holland diam di sana, membuat Oma yakin sesuatu ini sangat penting dan privasi. Yang berarti, jika semakin banyak orang yang tahu, maka semakin besar tingkat kerugian yang akan dialamu David.


"Berapa lama kalian akan berada di sana?"


"Aku perhitungkan, satu bulan setengah, Nyonya Besar."


"Selama itu?" Tanya Oma tidak percaya.


"Iya, Nyonya. Itu adalah waktu tercepat."


"Bisa saja kalian di sana dua bulan?"


"Semoga tidak."


Oma menarik napas dalam, dia juga memiliki firasat tidak enak pada cucunya. "Pastikan dia aman, Holland. Tetaplah berada di sampingnya."


"Baik, Nyonya Besar."


Oma mematikan telpon, kenapa harus ada saja kepergian saat akan menyambut anak anak dalam kandungan Lily. Yang Oma inginkan adalah David tetap di samping istrinya.


Melihat kegelisahan majikannya, Eta bertanya, "Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan, Nyonya Besar?"


"Apa pendapatmu, Eta? Aku melihat Lily sedih tadi, kita harus lakukan sesuatu."


Eta mengangguk. "Bagaimana kalau kita buat malam yang indah untuk mereka, Nyonya Besar?"


"Malam yang indah? menghiasi kamar mereka dengan lampu disko?"


"Bagaimana dengan beberapa bunga, lilin therapy dan musik klasik?"


"Itu yang aku maksud, Eta. Ayo pesan, suruh mereka menghiasi kamar David sebelum keduanya datang."


"Bunga apa yang sebaiknya dipakai, Nyonya Besar?"


"Aku rasa melati, aroma mawar terlalu umum. Aku tidak ingin keduanya merasa berada di dalam acara perkumpulan."


Eta mengatakan dengan ragu, "Tapi, Nyonya..  bunga melati erat kaitannya dengan mitos orang Indonesia. Jika di malam hari kita menggunakan aroma itu, saya takut Tuan dan Nyonya Muda berada di kuburan."


"Astaga, Eta…. Pikiranmu perlu diterangkan," ucap Oma kesal. "Lalu apa? Kau ingin memakai buah durian? Supaya semerbak?"


Dan Eta menghadapi majikannya dengan sabar. "Bagaimana kalau sweet pea, Nyonya Besar? Aroma nya akan memikat mereka untuk betah di kamar."


"Hei, baru saja akan aku katakan itu. Ya sudah, kau yang pesan."


"Baik, Nyonya Besar."


🌹🌹🌹


David pikir dengan membawa Lily keluar akan membuatnya lebih baik. Namun, tidak ada perubahan pada mood istinya.


Pancake durian yang mereka beli pun dibungkus dan memilih di makan di rumah Oma.


"Sayang, bagaimana kalau kita makan dimsum di sana?"


"Aku tidak mau," ucap Lily menerima pesanannya.


Kasir itu bingung. "Eum… tapi ini kartu kredit, Tuan."


Seketika David menatap. "Aku tidak bicara padamu."


Lily tersenyum tipis memandang David yang seringkali bertingkah konyol di depannya.


Keluar dari mall, David menggenggam tangan Lily yang mungil itu. Jika Lily ada di depannya, orang yang ada di belakang mereka tidak akan melihat keberadaannya. Lily sangat mungil, imut dan pendek. Membuat David gemas, dan bisa melakukan apa pun termasuk mengangkat tubuhnya beserta anak anak dalam kandungannya.


Ketika hendak keluar menuju basement, David bertemu seseorang.


"Tuan Fernandez?"


"Tuan Praja Diwangsa."


Keduanya bersalaman.


"Sedang berkencan?" Tanya Alan yang merupakan saingan bisnis nya di bidang yang sama.


"Ya, ini istriku. Sayang, perkenalkan dia adalah sainganku."


"Hallo, aku Alan. Dan kami bersaing secara bersih, Nyonya."


"Panggil saja aku Lily."


David bertanya, "Kau sedang terburu buru?"


"Ah, ya, istriku ingin sesuatu."


"Kalau begitu…" David bergeser sehingga tidak menghalangi pintu. 


"Terima kasih, sampai jumpa lagi."


Lily menatap heran keduanya yang sebelumnya menatap tajam, saling mengintimidasi dalam diam.


"Ayo, Sayang."


"Dia sainganmu?"


"Ya, lumayan. Oh ya, Sayang, apa kau tahu? Istrinya baru saja melahirkan, dan umurnya masih 18 tahun, sementara dirinya 29 tahun. Dia seorang pedofil," bisik David membukakan pintu mobil.


Saat dirinya masuk, David melanjutkan, "Umur mereka terpaut 11 tahun. Dasar penyuka anak kecil."


Lily terdiam, dia berkata dengan pelan, "Tapi…., Umur kita juga terpaut 16 tahun."


David menggeleng. "Umur kita terpaut jauh, tapi wajahku memperlihatkan aku masih muda. Tampan, kaya, dan keberuntungan untukmu karena memilikiku yang hebat, Sayang. Aku dengar mereka menikah karena ada sisi gelap."


Dan sisa perjalanan, David isi dengan mengagungkan dirinya sendiri. Yang membuat Lily kewalahan untuk menjawabnya.


Saat sampai di mansion Oma, tempat itu sangat sepi.


"Eta?" Panggil David.


"Iya, Tuan Muda?"


"Dimana Oma?"


"Ada di kamarnya, Tuan."


"Berikan ini padanya. Aku dan Lily akan makan di kamar. Juga buatkan air madu untuk kami."


"Baik, Tuan."


Keduanya naik ke atas lift. Dan saat membuka pintu kamar, David dan Lily terkejut bukan main.


"Astaga….., David… apa ini darimu?"


"Tidak, Sayang," ungkap David jujur.


Dan saat itu Eta datang membawakan air madu. "Ini dari Nyonya Besar, Tuan. Beliau ingin kalian menghabiskan malam yang indah sebelum Tuan Muda pergi."


Dan setelah Eta pergi dan pintu tertutup, David dan Lily saling memandang. David menyeringai. "Sayang…. Oma ingin kita membuat adonan."


🌹🌹🌹


TBC