Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Tangisan kerinduan



🌹VOTE YA GAIS🌹


🌹Instagramku adalah : @Redlily123🌹


Saat matahari mulai naik, David mengerutkan kening merasa ada celah cahaya yang memapar punggung telanjangnya.


"Sayang….," Ucap David sambil merambat ke sisi lain. Dan saat dia sadar di mana dirinya, David membuka matanya. "Oh shiittttt," umpatnya panjang.


Dia lupa dirinya sedang berada di mana.


David diam sebentar melihat keadaan kamar hotel yang sepi. Dulu dia sering bangun sendirian di kamar hotel, hampa tanpa senyuman. Dan David terbiasa disapa oleh wajah cantik istrinya, dengan pipinya yang memerah setiap dia goda.


"Tuhan…  aku merindukannya," ucap David segera bangkit dari sana.


Sebelum ke kamar mandi, David mendapat telpon lewat telpon hotel.


"Hallo?"


"Selamat pagi, Tuan Muda. Bagaimana dengan tidur anda?"


"Holland, kau selalu tahu kapan aku bangun," ucap David sambil menguap. "Cukup nyenyak untuk seorang suami tanpa istri di sisinya."


"Apa yang ingin anda makan pagi ini, Tuan Muda? Anda akan turun atau makan di kamar?"


"Kita akan turun dan berdiskusi, Holland."


"Baik, Tuan Muda. Apa anda perlu hal lain?"


"Tidak."


David menutup panggilan, dia pergi ke kamar mandi. Seperti sebelumnya, dia melamunkan Lily. Dia merasakan kembali keheningan karena tidak adanya istrinya.


Memakai sweater turtleneck dibalut dengan mantel biru tua, David turun ke caffe bawah untuk sarapan. 


"Tuan Muda."


"Kau datang lebih awal, apa kau tidak mandi?"


Holland menatap bingung. "Apa yang ingin anda pesan, Tuan Muda?"


"Berhentilah bertanya seperti kau adalah pelayan, Holland."


Mereka berdiskusi selama setengah jam sambil sarapan sebelum akhirnya menuju ke tempat di mana Dena di tahan.


Di mobil, David bertanya, "Bagaimana dengan anak anaknya?"


David belum bisa menerima mereka semua sebagai adiknya, yang membuatnya memanggil mereka seperti itu.


"Saya sudah menyewa apartemen untuk mereka, Tuan Muda."


"Dan pria itu?"


Pria yang dimaksud David adalah kekasih Dena.


"Masih dalam pencarian, Tuan."


David menarik napas dalam, Dena dan kekasihnya merencanakan banyak kejahatan setelah dirinya berhenti mengirim uang dan menarik semua fasilitas.


Tanpa Dena ketahui, sebenarnya dia mengawasi dan selalu memberi dengan melalui orang lain supaya mereka tidak kekurangan. Namun, Dena dan kekasihnya malah merencanakan banyak kejahatan termasuk merampok dan membunuh. 


Untungnya, sebelum hal itu terjadi, polisi menemukannya karena sebelumnya Dena pernah menipu seorang lansia di sana.


Sampai di kantor polisi, David diiring menuju sel Dena yang masih dalam masa percobaan.


Di sana dia melihat wanita yang sedang mondar mandir. Dan saat melihat wajah putranya, Dena bahagia bukan kepalang.


"David! Keluarkan Mama dari sini. Cepat!"


🌹🌹🌹


"Lily!"


Lily mengerjapkan matanya mendengar teriakan Oma, dia menarik napas dalam dan segera melangkah mendekat. "Apa yang terjadi? Apa kau kelelahan?"


"Aku ingin duduk sebentar, Oma."


Kali ini mereka sedang berada di mall, Lily menemani Oma berbelanja. Namun ini hanya membuat Lily mengingat suaminya.


"Aku akan duduk di sana ditemani Nina, Oma tidak apa kan?"


"Tidak, Oma punya Eta."


"Bagaimana kalau kita duduk bersama dulu?"


Ditemani Nina, Lily pergi ke bagian makanan untuk istirahat sejenak.


"Anda ingin sesuatu, Nyonya?"


"Pesankan aku es durian, Nina."


"Baik, Nyonya."


Sementara itu, Eta dan Oma pergi ke bagian perbelanjaan. Di mana dari arah sana mereka masih bisa melihat Lily. Karena hanya terhalang lift saja.


"Eta, tunggu di sini."


"Tapi…, anda bilang anda ingin tissue yang diskon?"


"Ya, aku punya cara. Diam di sini. Dan lihat aku, apa aku terlihat miskin?"


"Maaf, Nyonya?"


"Aku maafkan," ucap Oma lalu melangkah sendiri menuju ke kerumunan orang yang berebut mengambil tissue.


"Astaga….," Guman Oma seolah lelah dengan tongkat yang dia pakai, dan itu menarik perhatian seorang pengunjung.


"Nyonya? Apa anda butuh sesuatu?"


"Aku ingin membeli tissue, tapi sepertinya tidak bisa. Di sana sangat penuh."


Pengunjung itu melihat keranjangnya sendiri. "Aku membeli sepuluh, ambilah tiga untukmu."


"Terima kasih."


"Mana keranjangmu?"


"Aku tidak sempat membawanya."


"Aku akan membawakan."


Dan Eta yang mengawasi di sekitar Oma mengangguk mengerti, pantas saja beberapa kali majikannya sering memakai pakaian kumal ke mall dan memintanya menunggu di suatu tempat.


Saat Oma kembali, dia menyerahkan keranjang pada Eta. "Semakin mudah saat aku tua, saat aku muda dulu aku harus berakting."


"Maaf, Nyonya, tapi uang anda bisa membeli lebih dari ini."


"Hei, Eta, kau tidak tahu sensasi barang diskon."


Setelah membayar belanjaan, Oma bergabung bersama Lily di sana. Mereka makan bersama sebelum kembali menuju mansion.


Selama David tidak ada, Oma meminta Lily menginap di rumahnya.


Saat kembali ke mobil, Oma melihat wajah Lily yang sedih.


"Ada apa, Lily?" Kali ini Oma benar. "Apa kau kurang enak badan?"


"David belum menghubungiku, Oma."


"Dia hanya sibuk."


Lily diam, dia menarik napas dalam. "Aku akan ke apartemen sebentar, Oma. Ada yang harus aku bawa."


"Baiklah, hati hati di jalan. Nina, kau jaga majikanmu."


"Baik, Nyonya Besar."


Dengan Nina yang menyetir, Lily lebih banyak diam. Bahkan saat sampai, Lily meminta Nina menunggu di mobil.


"Aku bilang kau boleh menunggu di mobil, Nina."


"Saya hanya akan mengantar anda sampai masuk, Nyonya."


"Baiklah."


Dan Nina melakukannya, mengantar majikannya sampai depan pintu.


Sampai di apartemen, Lily masuk ke kamar. Dan di sana dia menangis seketika.


"Hiks…. David… aku merindukanmu," ucap Lily sambil memeluk foto suaminya.


🌹🌹🌹


Tbc.