
🌹🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE DAN DUKUNGAN YA ANAK ANAK KESAYANGAN🌹🌹
🌹🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹🌹
🌹🌹SELAMAT MEMBACA, I LOVE YOU SO MUCH. 🌹🌹
Kedua anak kembar itu tengah berjalan beriringan, Ares memperhatikan dari belakang bagaimana saudari kembarnya itu bermain dengan sangat lincah, setiap ada sesuatu yang baru, pasti menarik perhatian Athena. Bahkan kantong plastic yang berkilauan, yang mana membuat Ares menggelengkan kepalanya, “Dia itu apa? Kenapa selalu penasaran?”
Ares sedikit berlari menyamakan langkahnya dengan Athena, sementara orangtuanya berjalan di belakang memperhatikan anak anaknya. Mereka dalam perjalanan kaki menuju ke restaurant untuk makan malam sebelum pulang ke rumah. Sementara Oma memilih menghabiskan waktu terakhirnya bersama dengan Eta untuk makan berdua di tepi pantai, dan tentu saja resto yang mahal.
Alasan David tidak bersama dengan Oma, karena Oma sendiri yang melarangnya untuk ikut bersamanya. Yang membuat David paham, pasti Oma akan merogoh uangnya cukup dalam. Alhasil dia memilih pindah resto yang masih ada di sekitaran sana.
“Thea….”
“Apa? Jangan ganggu.”
“Tunggu sebentar.”
“Ish, ada apa?” tanya Athena yang masih berjalan, melompat, menendang pasir. Mengabaikan Ares yang ada di sampingnya mencoba untuk bicara dengannya.
Ares yang kesal akhirnya menarik lengan baju Athena yang membuat leher baju Athena menjadi membesar. “Aaaaaa Ales!”
BUK! BUK! BUK!
“Aku bilang ingin bicara. Aw sakit,” ucap Ares saat menerima pukulan bertubi tubi dari adiknya itu. Yang mana membuat Ares diam mematung dan membiarkan Athena memukulnya. Ares berdiri, menampilan wajah yang datar sambil sesekali tubuhnya bergoyang karena pukulan Athena yang begitu mematikan.
BUK! BUK! Athena terus memukulnya dengan menggunakan boneka kecil di tangannya.
Melihat itu dari kejauhan, David berjoget mengikuti irama pukulan dari Athena untuk anak sulungnya. “Buk! Buk! Buk!” David malah menyanyikannya.
Yang mana membuat Lily memukul lengan suaminya.
“Aw, sayang.”
“Hentikan mereka, bukannya ikut bergoyang.”
“Heii, Thea… sudah sudah, dia memang bermasalah. Kau harus memakluminya.”
“Ales menyebalkan,” ucapnya kembali berjalan lebih dulu.
Yang mana membuat Ares menghela napas dalam sambil mengusap dadanya, dia tersenyum sambil memejamkan matanya. Membiarkan alam mengambil alih rasa kesal dan marahnya.
Itu membuat David tertawa, melihat anaknya bersemedi dalam keadaan berdiri. “Kau sedang apa huh?”
“Ternyata begini rasanya jadi Mommy, dikelilingi orang orang yang begitu…… primitive.”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Thea, kau ingat Cantika?” tanya Ares, mereka sudah agak berdamai. Bahkan Ares memberikan makanan penutupnya untuk Athena.
Athena yang sedang duduk di ayunan sambil memakan ice cream itu terdiam, dia berfikir cukup keras. “Ah… Cantika temanku,” ucapnya dengan bibir mengerucut menahan rasa sedih.
Mengingat kembali masa masa dirinya ditinggalkan oleh Cantika, sahabat dekatnya sekaligus orang yang sudah dia anggap sebagai saudara sendiri. Athena membutuhkan waktu berminggu minggu untuk melupakannya, dan sekarang Ares malah mengungkitnya lagi.
“Hei, kau ingat atau tidak?”
“Tentu saja ingat, kalau tidak ya tidak menangis,” ucap Athena menaikan nada bicaranya. Yang mana membuat Ares mendengus kesal.
Tentu saja dari tempat mereka bermain, ada sosok yang mengawasi. David dan Lily kini sedang memakan makan malam mereka, memperhatikan anak anaknya di taman bermain yang disediakn resto.
“Kau tau dimana dia sekarang?”
“Kalau tau sudah aku susul ke sana, Ales.”
“Dia pindah bukan?”
“Iya, kenapa?”
“Apa aku masih tampan?” tanya Ares berjongkok di depan Athena.
Yang mana membuat Athena memasang wajah jijik, ingin sekali dia berayun dan menendang wajah Ares yang memasang wajah sok tampan itu.
Ares memang perpaduan sempurna dari orangtuanya. Bagaimana tidak, matanya sedikit sipit seperti ibunya, dan rahangnya mirip orang orang barat.
“Aku malas melihat wajahmu.”
“Kau menyebalkan,” gumam Ares berdiri, dia menatap langit yang bertaburan bintang. Penasaran akan sosok yang selalu dia ejek itu, bukan apa apa, tapi sosok itu selalu memuji ketampanannya, dan Ares memerlukannya sebagai energy positive.
“Aku mulas,” ucap Athena menatap melas pada saudaranya.
“Itu karena kau memakan dua ice cream termasuk milikku. Hahaha, Mommy akan marah padamu.”
Mata Athena berkaca kaca, Ares sudah paham situasi ini. adiknya kesakitan dan dirinya tidak ingin diketahui oleh orangtuanya.
“Iyuhhh, oke ayo,” ucap Ares dengan malas.
🌹🌹🌹🌹🌹
Ares menyandarkan tubuhnya di dinding, sambil menunggu Athena yang sedang buang air di dalam kamar mandi. Sesekali Ares mengetuk pintu dari luar sebagai tanda kalau dirinya masih berada di sana dan menunggu Athena.
Sialnya, toilet di sini terpisah menjadi bagian perempuan dan laki laki. Yang mana jika ada perempuan yang masuk, mereka terkejut dengan keberadaan Ares.
Cara yang biasa Ares lakukan adalah, “Ibuku berada di dalam, aku sedang menunggunya.”
“Begitukah anak tampan? Aku pikir kau mengintip. Kenapa tidak menunggu di luar?”
“Aku takut jika ibuku diculik seseorang.”
Dan jawaban Ares yang seperti itu selalu membuat orang lain gemas. Untung saja umurnya masih kecil, jadi tidak ada yang curiga karenanya.
Ares menarik napas dalam saat ini sudah lebih dari lima menit.
“Sudah atau belum?”
“Sebental.”
Ares kembali membuang wajahnya, sebenarnya bukan hal mudah meminta izin pada orangtuanya. Athena tidak ingin Mommy dan Daddy nya tau jika dia mulas, jadi Ares yang dijadikan tumbal. Apalagi tidak ada makanan aneh yang dimakan Ares, jadi orangtuanya mengira itu sakit perut biasa.
Saat sedang menunggu, Ares mencium aroma yang tidak sedap, dia menutup hidungnya seketika. “Menjijikan, itu bau, ayo cepat!”
Ares bahkan hampir pingsan jika dia tidak ingat kalau ini di kamar mandi.
Setelah Athena keluar, Ares langsung melangkah lebih dulu.
“Tunggu aku, Ales,” ucap anak perempuan berpipi gembul itu. “Jangan meninggalkan.”
“Kau menyebalkan, tau?”
Athena mendengus kesal, sampai matanya melihat ada sosok pria dewasa sedang memberi makan burung.
“Ayo ke sana,” ucap Athena menarik tangan Ares.
Membuat Ares menatap tangan kiri Athena yang menariknya. “Itu WC jongkok atau WC duduk ya?”
“Hallo, paman. Apa yang sedang paman lakukan?” tanya Athena.
“Oh hallo, paman sedang memberi makan burung.”
“Wah… bulung apa itu?”
“Kau suka? Ini cendrawasih, sangat langka dan juga cantik.”
“Jika langka kenapa paman mengulungnya?”
“Paman membudidayakannya supaya dia beranak pinak dan tidak langka lagi.”
“Bagaimana calanya belanak pinak?” tanya Athena tanpa hentinya memberikan pertanyaan bertubi tubi,.
Hal itu membuat sang paman tertawa. “Kau sangat penasaran ya, banyak bertanya.”
Ares dengan malasnya berkata, “Dia pengasuhnya Dora, mohon dimaklum.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE