Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Positive



🌹Ayo vote guys🌹


Lily mendekat pada perempuan yang sedang membereskan dekorasi seorang diri. Wajahnya terlihat menahan kekesalan, garis wajahnya terlihat dia adalah perempuan jutek yang enggan di ajak bicara, melihat kedatangan Lily saja, dia hanya menatap dan membisu. Bukan tatapan sendu dan penuh kehangatan, tapi tatapan dingin yang memperlihatkan bahwa jiwa di dalam sana telah mati, tanpa guna.


"Hallo, aku--"


"Saya tidak butuh bantuan, Nyonya," ucapnya dengan sedikit logat Jepang, selaras dengan wajahnya uang oriental khas negeri Jepang.


Lily tidak bisa berkata kata, dia duduk begitu saja di samping perempuan yang memasukan beberapa hiasan ke dalam kotak kardus berwarna. "Mari aku bantu."


Dia diam tidak menjawab perkataan Lily.


"Namaku Lily, siapa namamu?" Lily mengangkat tangannya.


Dia menjabat sesaat sambil berkata, "Rara."


"Rara? Senang bertemu denganmu."


Dia kembali tidak menjawab, Rara sibuk membereskan. Dia berdiri, berjalan ke sana ke mari dengan Lily yang mengikuti.


"Aku bisa membantumu." Lily mengambil satu buah kardus. Dia ikut memasukan berbagai gelas yang siap diisi anggur. "Apa kau sudah lama bekerja pada Medina?"


"Ya."


Rara terlihat dingin, wajahnya jutek dan terlihat tidak hidup. Sampai Luke datang dan berkata, "Rara, bawakan anggur untuk temanku."


"Baik, Tuan."


"Biar aku bantu," ucap Lily menawarkan diri lagi dengan mengikuti Rara.


"Tidak perlu, Nyonya."


Dan Rara pergi begitu saja membawa anggur untuk kedua teman majikannya, meninggalkan Lily di sana yang kembali memasukan pernak pernik segala aksesoris pesta.


Rara membawakan dua botol anggur, ke ruangan di mana Luke dan temannya berada. Tanpa bicara, dia menyimpan itu di meja.


"Terima kasih," ucap Luke.


Dan Rara pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.


David kembali melanjutkan pembicaraan mereka, "Jadi, bagaimana dengan pernikahanmu?"


"Tahun depan, aku baru akan menikah."


"Lalu?" Tanya Sebastian. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku rasa aku akan pergi ke Swiss."


"Swiss?" Tanya David.


"Ya, bersama Kakek dan Medina."


"Lalu bagaimana dengan mansionmu ini?" Kini Sebastian yang bertanya.


"Rara akan merawat mansion ini selama aku di Swiss mengembangkan bisnis. Dan untuk semua dealer mobilku yang ada di sini, akan di urus oleh Tom."


"Tom? Asistenmu?" Sebastian bertanya.


"Ya, dia akan mengeceknya sesekali. Aku rasa bisnisku harus berkembang di seluruh penjuru dunia."


"Bagaimana dengan pernikahan?" Tanya David. "Kau akan melangsungkannya di sini?"


"Aku rasa begitu, Kakekku sangat mencintai Nenek yang berasal dari negri ini, jadi aku akan melaksanakannya di sini."


Sebastian mengangkat tangannya. "Kalian berdua punya darah tempat ini, aku tidak, tapi aku suka tinggal di sini. Sayangnya, aku juga harus ke Amerika, kedua orangtuaku menyuruhku ke sana untuk bisnis keluarga."


"Kapan?" Tanya David.


"Entah, aku malas. Aku akan menghabiskan waktu lebih banyak di sini. Terkadang aku iri pada kalian yang sudah tidak punya orangtua, tidak berisik."


"Mamaku masih hidup," ucap David mengingatkan.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat Dena terlihat meninggal."


Mereka bersulang sambil mengatakan, "Untuk hidup yang bernapas."


Lalu meminum anggur sambil tertawa bersama.


Sampai Sebastian membuka pembicaraan. "Luke, wanita yang disebut Rara itu…. Aku merasa tidak asing dengannya."


"Wow, matamu tajam, Sebastian," ucap sebuah suara dari ambang pintu.


"Medina? Sayang, kau kembali?"


"Ya, aku kembali karena sepatuku ketinggalan," ucapnya berjalan layaknya model. Dia mencium Luke sesaat sebelum memberi pelukan pada Sebastian.


"Wowo, model Victoria Secret?"


"Berhenti menggodaku, Sebastian. Kau sudah tua."


"Tapi tetap mempesona."


Kini tatapan Medina jatuh pada David. "David… kau tumbuh cepat."


"Hallo, Medina. Senang bertemu denganmu."


"Mana istrimu?"


"Di sana? Dia tidak boleh minum anggur."


"Oow." Medina berucap dengan nada mengejek, dia mengambil anggur Luke lalu duduk di pangkuan pria itu. "Milikmu gadis desa?"


"Semacam itu."


"Jadi….," Ucap Sebastian. "Siapa dia? Rara? Aku merasa tidak asing dengan wajahnya."


"Are you kidding?" Medina tertawa sambil merangkul bahu Luke, dia mengusap rambut kekasihnya beberapa kali. "Dia mantan model remaja di tempar kelahiran ayahnya di Jepang."


"Tunggu, siapa nama aslinya?" Tanya Sebastian. "Apa dia Rara Kazanawa?"


"Kau pandai."


"Shit!" Umpat Sebastian. "Dia pemilik keluarga gila itu?"


"Apa ini sebenarnya?" Tany Luke bingung.


David sedari tadi hanya menyimak.


"Sayang, kau ingat Kazanawa Entertainer?"


David menjawab, "Pemilik stasiun TV swasta di Jepang?"


"Ya, dia adalah anaknya."


"Apa ini?" Luke masih belum mengerti.


"Ada hal yang belum aku ceritakan padamu, Sayang. Jadi, Rara itu dulunya adalah seorang model remaja ketika masih sekolah, sampai perusahaannya bangkrut. Papanya yang frustasi bunuh diri, disusul oleh kecelakaan ibu dan adiknya dalam kecelakaan beruntun. Lalu Rara pindah sekolah ke Indonesia bersama Neneknya, sayangnya Neneknya itu punya hutang pada keluargaku. Jadi, saat dia mati, Rara menjadi pembantuku sampai akhir hidupnya. Kecuali dia bisa menggantinya… ha… ha… ha… ha!"


Luke sedikit tidak nyaman dengan suara tawa Medina yang terlalu lebar. "Sayang, tenanglah, minum dengan benar."


"Itu sebabnya dia banyak diam, Bas. Dia iri padaku yang sukses menjadi model, dia juga terlalu sering melihat kematian keluarganya. Lihatlah wajahnya yang bergaris jahat itu, dia mengerikan."


"Baiklah, Medina hentikan membicarakan orang yang dekat denganmu."


"Aku tidak dekat dengannya, Luke, dia di bawah kakiku."


Sebastian tertawa, dia berdiri. "Bagaimana kalau kita berdansa di ballroom milik mansion ini?"


Mereka berdua keluar meninggalkan David dan Luke.


"Luke, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Tentang apa?"


"Kapan kau akan pergi?"


"Aku rasa lusa, itu rencanaku. Tapi jika Medina menginginkan lebih cepat, aku rasa aku akan melakukannya." Luke meneguk alkohol. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Ini tentang Lily, dan kesepakatan dengan Sebastian. Sebenarnya ini rencanaku."


"Aku mendengarkan."


🌹🌹🌹


Lily dan David kembali pulang, tidak ada pesta atau apa pun di sana selain tawa gila Medina dan Sebastian, juga keheningan dari Rara.


"Aku merasa Medina….."


"Terlalu liar?"


Lily mengangkat bahu. "Kau yang mengatakannya."


"Tidak, aku hanya… tadi aku melihat Medina memarahi Rara."


"Lalu?"


Lily berdecak. "Aku mengantuk," ucapnya pelan dengan nada bercanda.


Membuat David menggelitik pinggangnya.


"Ha ha ha ha! David, fokus pada jalan."


"Baiklah, Nyonya Muda. Akan aku lakukan."


Sepanjang perjalanan mereka bercanda gurau, hujan rintik rintik pun tidak menghentikan mereka yang bercanda gurau. David senang, Lily mulai terbuka dan mengekspresikan semuanya.


Saat mobil berhenti dan turun dari sana, David melihat kaki Lily memerah dengan heels.


"Ingin aku gendong?"


"Tidak."


"Wajahmu memperlihatkan sebaliknya," ucap David langsung membawa Lily ke kendongannya.


Lily tertawa kecil tidak menahan geli saat suaminya kembali menggelitik.


"Kau sangat berat."


"Apa?"


"Kau terlalu berat, Sayang."


"Aku gemuk?"


"Tidak," ucap David memberikan ciuman di pipi. "Kau menggemaskan, istriku."


Lily menahan malunya dengan menyandar di dada David, dia menguap beberapa kali sebelum mencapai ranjang.


Lily terkekeh melihat David berkeringat. "Kau harus sering berolahraga."


"Well, aku tidak keberaran olahraga malam bersamamu."


"Eum… david…." Lily mendorong dada David saat pria itu akan menindihnya. "Jangan malam ini, maaf."


David menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa, ayo ganti pakaian."


Lily kembali diangkat dan di bawa ke walk in closet, mereka membuka pakaian di sana dan mengganti. David mati matian menahan keinginannya untuk memeluk Lily, dia harus tahu batasan dan keinginan sang istri.


Maka darinya, David memilih mendahului menuju kamar mandi.


Lily menyadari David menghindarinya, membuat dia menyusul setelah berpakaian.


Dia mendapati David sedang menggosok gigi dan mencuci wajah di sana.


Lily diam diam menatap David.


"Ada apa? Aku melihatmu memperhatikanku lewat kaca," ucap David membuat Lily malu.


"Ada apa?"


"Tidak ada."


"Katakan, Sayang."


David terpaksa mendudukan Lily di westafel. "Ada apa?"


"Tidak… hanya saja…"


"Hanya saja apa?"


"Kau tidak ingin mencukur bulu di pipimu ini," ucap Lily meyentuh jambang David yang mulai lebat.


"Ada apa?"


"Tidak."


Sebenarnya Lily merasa geli jika berciuman atau mendapat lumatan dari David.


"Kau merasa geli?"


Lily mengangguk pelan.


"Aku akan mencukurnya besok, sekarang sudah malam."


"Akkh.." Lily melingkarkan tangannya di leher David tatkala pria itu menggendongnya dan menidurkannya di ranjang. 


"Tidak ada olahraga malam bukan?"


Lily menggeleng pelan.


"Kalau begitu kemarilah, peluk aku."


Lily melakukannya, dia tidur dalam pelukan David. Di saat pria itu terlelap dalam, jauh di dalam mimpi, Lily membuka matanya. Dia ingat apa rencananya bersama Oma. Membuat Lily membuka mata dan melihat wajah tampan David yang bahkan terbilang terlalu tampan di usianya yang sudah matang. David begitu mempesona dan menggairahkan. 


Menghentikan pandangan nafsu, Lily beranjak dari ranjang, dia membaca pesan yang Oma kirimkan.l tadi.


20.19.


Oma Cantik : Oma menyimpa test pack di belakang sofa di kamar bawah. 


Lily segera menuju tempat itu. 


Membaca instruksinya, Lily memakainya di kamar mandi di lantai utama. 


Dengan jantung berdebar kencang, Lily memperhatikan benda itu. Sampai akhirnya, memperlihatkan dua garis.


Air mata Lily jatuh begitu saja, dia tersenyum lebar. "Ya Tuhan, aku hamil?"


🌹🌹🌹


to be continue nih


ha ha ha ha ha