Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Blankpink



🌹VOTE🌹


"Makan dengan pelan, hati hati, Sayang."


Lily yang merasa sangat lapar memakan makanan itu dengan lahap, hingga membuatnya tidak sengaja tersedak.


"Lihat, aku bilang apa, pelan pelan saat makan. Mas, minta air dingin, ini teh panas."


"Baik, Pak. Silahkan."


"Minum ini."


Lily menerimanya dan meminum dengan pelan.


"Makan dengan pelan," pesan David lagi.


"Baik." Kini Lily menurut dan makan lebih pelan.


Sesekali Lily menatap David yang merokok sambil memainkan ponsel. Ingin Lily menegur, tapi ini juga baru pertama kalinya David merokok lagi di dekatnya, alasannya agar sepanjang perjalanan dia terjaga.


David memeriksa ponselnya untuk mengetahui posisi Sebastian dan Luke. Baru juga akan menelpon, sebuah mobil bak terbuka berhenti di tempat bakso itu.


Sang pengendara keluar dengan wajahnya yang masam yang tidak lain adalah Sebastian.


"Aku pikir kalian membawa kabur gaun pengantin istriku yang penuh dengan berlian," ucap David menatap box kayu di belakang mobil itu yang diangkut oleh Sebastian.


"Aku tidak mengerti, kau punya pekerja untuk melakukannya, kenapa harus aku?"


"Hei, mobilmu mogok, dan kau menghabiskan banyak uangku kemarin, setidaknya lakukan ini untukku."


"Lain kali akan aku bawa semua harta kekayaanku."


"Dimana Luke?"


"Tidur, dia memejamkan matanya sepanjang jalan. Sementara aku mendengarkan radio lokal yang menyiarkan dangdut koplok."


"Dangdut koplo," ucap Lily merevisi. "Bukan koplok."


"Astagaa, ibu hamil, kenapa kau belum tidur?" Rasa keinginan Sebastian untuk menjahili Lily kembali muncul.


"Berhenti dan pergi duluan, jangan ganggu istriku."


"Astaga tenanglah, aku hanya ingin memesan bakso." Sebastian duduk di samping Lily, depan David. "Mang, bakso tidak pakai bakso, mienya saja dengan kuah."


"Baik, Pak."


Sembari menunggu, Sebastian menatap Lily yang makan dengan lahap. "Apa David tidak memberimu makan sejak kemarin?"


"Jangan ganggu istriku."


"Dia terlihat sangat kelaparan."


Lily tidak mempedulikannya, dia hanya peduli pada makanannya yang gurih dan menggugah selera.


"Astaga, kau ingin punyaku juga?"


Bersamaan dengan pesanan Sebastian datang, Lily selesai makan. "Ayo, kita berangkat sekarang."


"Berapa, Mang?" Tanya David.


"Hei, hei, kalian mau kemana. Pesananku baru sampai, temani aku. Hei!"


"Dua puluh ribu, Pak. Terima kasih."


"Ayo, Sayang." David menggenggam tangan Lily.


Dan kenyataannya, David malah pergi setelah mengacungkan jari tengahnya.


Membuat Sebastian mendesah kesal, hingga akhirnya sang pemilik warung berkata, "Saya temani, Pak. Jangan risau ada saya kok."


🌹🌹🌹


"Ada apa lagi?" Tanya David melihat istrinya tidak kunjung memejamkan mata. "Sayang?"


"Aku merasa kembung."


"Perutmu memang kembung."


Seketika David mendapatkan tatapan tajam, membuat pria itu tergagap dan segera berkata, "Ma… maksudku kau kembung secara fisik. Tenanglah, aku tidak bermaksud."


"Apa kita akan datang ke pernikahan Kak Radit?"


"Aku tahu kau menginginkannya, Sayang, jadi kita akan datang."


Lily terdiam, masih banyak pertanyaan di benaknya. "Aku penasaran kenapa dia menikahi adiknya sendiri."


"Daripada penasaran akan kehidupan orang lain, lebih baik penasaran pada diri sendiri. Bertanya pada diri sendiri, apakah sudah berbuat baik? Kenapa aku belum berbuat baik?"


"Apa aku tidak baik?"


David terkekeh. "Itu hanya perumpamaan, kau sensitive sekali, Sayang."


Lily mengerucutkan bibirnya saat salah satu tangan David mengusap perut buncitnya. "Kita pulang ke apartemen?"


"Ya, kita ke sana."


"Oh iya, minggu depanya lagi setelah pernikahan Radit, kita akan melakukan sesi pemotretan."


"David… aku malu." Lily berucap dengan sangat pelan.


"Hei, kau sudah setuju dulu. Jangan ada perubahan. Ayolah, Sayang. Aku ingin mengabadikan momen kita." Tidak ada jawaban dari sang istri membuat David berkata. "Ya? Sayang?"


"Iya."


"Yes!"


"Apakah….." Lily ragu ragu. "Ehmm… kenapa kau memilih mengadakan resepsi saat keadaanku sedang hamil?"


"Aku tidak mengira kau akan hamil, aku merencanakan ini jauh jauh hari. Tapi jika memilih hari lain di saat anak anak sudah lahir, kita hanya akan fokus pada mereka."


Lily mengerti.


Hingga akhirnya mereka sampai di basement apartemen. David menggenggam tangan Lily menuju ke penthouse mereka.


Tidak ada rasa curiga saat hendak masuk. Sampai akhirnya pintu terbuka dan…


"Happy birth… birthday… du du du du du du du du du du aye aye…. Happy with you du du du…"


Mata Lily dan David membulat seketika. Di sana ada dekorasi pesta dengan penuh baloon, dan Oma yang bergerak layaknya anggota BlackPink dengan penari latar di belakang mengikuti gerakannya.


Tidak lama kemudian, musik berganti, dan Oma kembali menyanyi. 


"Bom dia… ya ya ya Bom dia… ya ya ya…. Ya ya ya ya ya Oppa! Ya ya ya ya ya ya ya ya ya Bom dia!"


Kata 'Bom dia!' yang dinyanyikan Oma sambil menunjuk David.


🌹🌹🌹


TBC.