Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Umur



🌹VOTE🌹


"Ingin jalan jalan dulu?" Tanya David saat mereka berada dalam mobil.


Dia melirik Lily yang memakai gaun kebesaran rancangan Marylin. Dan gaun mengembang yang katanya dikhususkan untuk ibu hamil. Tapi itu malah membuat Lily tenggelam hingga perut buncitnya tidak terlihat.


"Sayang?"


"Em… aku ingin makan."


David tersedak oleh ludahnya sendiri. Lily baru saja menghabiskan sarapan yang memenuhi meja hotel, sekarang dia ingin makan lagi.


"Makanan apa yang kau inginkan?"


"Roti kedelai."


"Dimana?"


"Di ujung jalan sana," ucap Lily menunjuk dengan telunjuknya yang putih.


David mengangguk mengerti, dia memarkirkan mobil di samping toko. Parkiran terbuka yang sepi dan luas itu membuat David mengunci pintu mobil dari dalam untuk sesaat.


"Kenapa di kunci?" Tanya Lily dengan pipinya yang mulai kembali membulat.


David gemas, dia menyukai pipi Lily yang kenyal dan halus.


"Berhenti mencubit pipiku, David."


"Kau sangat cantik."


"Aku ingin makan roti."


"Pipimu sudah seperti roti."


Lily menunduk demi menahan kekesalannya. Dan David sadar akan hal itu, dia memberikan ciuman di pipi Lily berulang. "Dan aku sangat suka pipi yang besar ini."


"David geli," kikik Lily merasakan geli akibat bulu bulu halus di wajah David mulai tumbuh. "Geli…"


"Kau belum memberiku ciuman akhir akhir ini."


"Tidak baik jika berciuman sekarang," ucap Lily yang memastikan kelanjutannya mereka pasti akan membuat adonan. "Nanti jika di apartemen."


"Ingin sekarang."


"Nanti ada orang yang melihat."


"Aku jebloskan dia ke penjara."


"Apa?"


"Ayo beri aku ciuman, Sayang."


Lily masih dian menatap wajah David yang mendekat.


"Ehem."


Lily mengingat kode itu, rasanya baru kemarin David menikahinya.


"Ehem."


Lily masih belum mencium David.


"Sayang, kodenya. Ehem ehem ehem."


CUP.


CUP.


CUP.


CUPPPPPPP.


Lily mencium lama di akhir kecupannya. "Sudah, ayo turun."


"Aku ingin menggigitmu."


"Nanti saja."


"Ta--"


TOK.


TOK. 


TOK.


Lily menengok saat pintu kaca mobilnya diketuk, yang mana membuat David menurunkan kaca.


"Dilarang berbuat mesum di sini, Pak. Dunia sudah tua, jangan mempercepat kiamat dengan tingkah kalian yang tidak bermoral."


Lily tergagap. "Kami suami istri, Pak."


"Jangan membantah, De. Kamu terlihat seperti anaknya. Apa dia pedofil yang memaksamu untuk memenuhi hawa napsunya?"


David yang kesal memegang perut Lily hingga gelembung gaun turun, yang memperlihatkan perut buncit Lily.


"Istri saya sedang hamil, Pak."


"Tidak apa," ucap David menaikan kembali kaca hingga pria tua itu pergi.


David diam lama dengan suara napas berat, yang membuat Lily mengerti apa yang dipikirannya.


"David…"


"Apa aku setua itu di mata mereka?"


"Tidak, kau tampan," ucap Lily malu malu. "Umur kita tidak beda jauh."


"Apa aku harus mengoperasi wajahku?"


Lily terkejut dengan pertanyaan itu. "Aku jatuh cinta pada tatapan dan struktur wajah maskulinmu itu."


Seketika kalimat itu menaikan kepercaya dirian David, dia mengusap rambutnya ke belakang. "Aku tau, kau mencintai setiap jengkal segala sesuatu yang ada dalam tubuhku, Sayang. Parad tampanku, kebaikan hatiku dan juga kepintaranku, jangan lupakan tinggi badanku yang membantumu mengambil mimpi di atas sana."


Lily tidak bisa berkata kata, dia hanya mengangguk kikuk.


🌹🌹🌹


"Enak?"


Lily mengangguk senang.


"Makan yang banyak, tapi pelan."


"Kau tidak keberatan aku gendut?" Tanya Lily malu malu.


"Itu seksi, Sayang." 


Lily malah tersipu malu, dia menghabiskan rotinya sekali makan.


"Sudah selesai."


"Aku akan memesan untuk Oma dulu."


Lily mengangguk, dia menatap David yang pergi memesan. Pria itu terlihat sangat tampan dan mengesankan, Lily beruntung memilikinya.


Tidak terasa waktu berjalan dengan sendirinya, Lily yang berpikir hanya akan menjadi istri sebagai pengganti pekerjaan akan  seperti itu selamanya. Yaitu tidak mendapatkan pengakuan David atau sebatas keperluan saja. Lily mengikuti kemana alur hidup membawanya, sampai akhirnya dia berlabuh di sebua pulau tak berpenghuni.


"Ayo, sayang."


Lily mengangguk, dia menggenggam tangan David saat keluar dari tempat itu. 


"Kau ingin ke mana lagi?"


"Em…. Bolehkah kita membeli cemilan di mini market?"


"Apa yang kau inginkan? Aku bisa menyuruh Holland."


"Aku ingin ke sana memilih sendiri."


"Baiklah," ucap David membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Silahkan, Tuan Putri."


"Berhenti mengatakan itu." Lily tersipu malu.


Dan melanjutkan perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di salah satu mini market.


Lily mengambil keranjang yang akan diisi dengan cemilan untuknya di malam hari.


"Sayang, aku akan menelpon sebentar."


"Oke."


Lily melangkah lebih dulu memilih makanan ringan. Dan saat itulah ada sekumpulan anak remaja pria yang sepertinya bolos sekolah.


"Hei, Cantik. Lagi jajan ya?"


Lily menatap heran anak anak itu, mereka bicara padanya?


"Pura pura sakit ya biar gak sekolah?"


Lily mencoba tidak menanggapi.


"Ih jutek amat, tapi aku suka. Akan aku ajarkan dirimu untuk melabuh pada hatiku, De."


"Cieeeeeee…..," ledek dua temannya.


"Diem lu pada," ucap remaja pria itu kemudian kembali menatap Lily. "Boleh kenalan gak?"


"Maaf, saya sudah punya suami."


"Wuahahahahhahahaha!" Seketika ketiganya tertawa.


"Dede Cantik nan gemas, jangan bohong, nanti dicubit malaikat maut loh."


Dan saat itulah David selesai menelpon, dia mengerutkan keningnya melihat istinya diganggu.


"Eh, ada Om nya. Enggak kok, Om. Saya gak godain ponakannya, cuma mau ngajak kenalan aja. He he he."


🌹🌹🌹


Tbc