Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



*HAI ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK\, JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA.*


*IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.*


*EMAK SAYANG KALIAN\, SELAMAT MEMBACA.*


Athena turun dari motor setelah menepuk punggung Ares dengan malas, dia benar benar kesal karena saudaranya itu menaikan kecepatan kemudian tiba tiba mengerem begitu saja.


PLAK!


“Apa yang kau lakukan, itu sakit,” ucap Ares dengan matanya yang melotot.


“Kau membuat seragamku kusut dan rambutku berantakan.”


“Bersyukurlah kau sudah aku ajak, Thea.”


“Kau yang membuatku terlambat.”


Saat mereka sedang asyik berdebat, terdengar suara panggilan, “Athena!” teriak salah satu teman Athena yang juga baru turun dari mobil.


“Rin, tunggu aku!”


“Jangan berlari seperti itu!” teriak Ares memberi peringatan. “Dasar bocah,” gumamnya melihat Athena yang saling berpelukan dengan sahabatnya itu.


“I miss u, Arin.”


“Aku juga merindukanmu, saudaramu membawa motor?”


“Iya, dia membuat SIM saat liburan kemarin.”


“Gilaaaaa, dia semakin tampan saja. bagaimana kau bisa bertahan hidup melihatnya setiap hari,” ucap Arin yang memberikan kekaguman pada Ares yang berjalan menuju kelasnya. “Aku heran, dari sekian banyak perempuan di sekolah, tidak ada satupun yang di sukai?”


“Dia sudah punya pacar.”


Seketika Arin berhenti, “What?! Who?”


“Game online.”


“Oalah,” ucap Arin sambil tertawa. “Tidak aneh, tapi dia tidak dekat dengan wanita mana pun bukan?”


“Sudahlah, jangan berharap padanya, aku bingung dia normal apa tidak. Dia belum pernah berpacaran. Kau sudah tiga tahun menyukainya, dan dia tidak melirikmu sama sekali bukan?”


“Namanya usaha, aku harus berusaha. Tapi karena aku masuk klub penggemar sekarang, dan aku senior, aku harus mendukung Ares tanpa memaksa kehendaknya. Tidak boleh ada perasaan, dia adalah idolaku. Iya, hanya idolaku!”


“Iyuh,” ucap Athena.


“Saat hari Valentine aku sempat kaget, dia mendapatkan banyak surat cinta dan juga cokelat.”


“Tidak ada bedanya denganmu.”


“Tentu beda, aku menyukai pria. Aku masih berfikir apakah Ares suka wanita atau tidak.”


Kemudian keduanya tertawa sambil menuju ke kelas.


Bukan hanya Ares yang menjadi bintang sekolah, tapi juga Athena. Kalau Ares merajai bidang olahraga, Athena merajai bidang akademi. Berada di kelas XII IPA satu, Athena selalu menjadi kebanggaan dari sekolah jika ada olimpiade apalagi yang berhubungan dengan angka.


“Hai, Thea. Bagaimana liburanmu?”


“Rambutmu cantik, Thea.”


“Wow, lipstick apa yang kau pakai?”


Itulah pertanyaan yang dilontarkan teman temannya saat Athena memasuki kelas.


“Calm down, guys, ini baru hari pertama. Kenapa kalian begitu ribut?”


Dan baru juga Athena duduk, terdengar bunyi bel yang menandakan mereka harus segera upacara bendera di lapangan.


“Oh my god,” ucap Athena kembali berdiri saat tangannya ditarik oleh Arin.


“C’mon, kau tidak mau nilaimu jelek bukan?”


“Tunggu sebentar,” ucap Athena melepaskan tangan Arin yang menariknya.


“Thea, ayo!”


“Sebentar,” ucap Athena yang membawa sun block dan memasukannya ke dalam saku. “Aku tidak mau menghitam.”


“Astaga Thea, tempat upacara kita memiliki atap.”


“Sinar matahari bisa masuk dari mana saja ‘kan? Aku tidak mau kalah putih dari Ares, orang orang bisa menyangka aku anak pungut.”


“Oke, ayo,” ucap Arin menarik tangan Athena menuju lapangan upacara.


Mereka berbaris, dan sebagai murid teladan Athena berbaris di depan. Supaya dia bisa melihat wajah murid murid baru dari kelas X. Sampai mata Athena menangkap seseorang yang tidak asing, anak perempuan itu mengikuti Wakasek Kesiswaan menuju ruang guru.


“Cantika?”


“Kau bilang apa?” tanya Arin.


“Itu temanku waktu kecil,” tunjuk Athena pada anak yang terlihat sedang memainkan rubik sambil menunggu.


Mata Athena sedikit menyipit untuk memastikan. “Benar kan?”


“Bener deh, itu Cantika.”


*****


Berbeda dengan Athena, Ares selalu berada di barisan belakang. Dia malas mendapatkan tatapan dari para wanita yang mengaguminya, apalagi murid baru yang selalu mencoba menarik perhatiannya.


“kenapa lu mundur mundur?” tanya teman laki laki Ares.


“Lu semua tahu gue gak bisa berdiri di depan, nanti kalau banyak yang pingsan siapa yang susah? Minggir, gue di belakang,” ucap Ares menarik anak itu supaya dia menggantikan posisinya di depan


Sampai akhirnya dia bergabung dengan teman temannya di belakang.


“Pulang sekolah mabar?”


“Boleh, kalau gak nganterin adek gue.”


“Bawa motor, Ar?”


Tatapan Ares menunjuk motor sport kebanggaannya dengan tatapan.


“Wah gila, surat cinta di loker lu bakalan bertambah.”


Ares hanya tersenyum dan menyisir rambutnya dengan tangan. “Jadi orang ganteng emang gak mudah, gue sadar diri kok.”


“Lu punya saingan, Ar. Si galuh jadi ketua osis.”


Ares hanya tertawa, “Bayi juga tau siapa yang paling Good Looking.”


“Maksud gue popularitasnya, dia pinter.”


“Yang penting kan gantengan gue.”


“Tapi dia lebih pinter.”


“Lu pikir gue gak pinter?”


“Eh, gak gitu,” ucap temannya itu saat mendapat tatapan tajam dari Ares.


EHEM!


Dan keduanya langsung berhenti bicara saat menyadari ada guru di belakang.


“Ares, kau selalu menjadi pusat perhatian. Cobalah untuk memperlihatkan sisi baikmu supaya adik kelasmu mengikutinya.”


Ares mengangguk sambil mendengarkan nasehat guru dari belakangnya. Sampai mata Ares melihat seseorang berjalan di lantai dua mengikuti seorang guru.


Ares menyeringai, dia langsung berbalik menatap guru pria gendut yang sedang memberinya nasehat.


“Kenapa melihat bapak? Lihat ke arah bendera yang akan dikibarkan.”


“Sebagai murid yang baik, saya akan pergi ke kamar mandi saat merasa perlu. Bapak tidak ingin saya membuat kekacauan di sini bukan?”


“Langsung kembali ke sini setelah selesai.”


“As you wish, Sir.”


Ares berjalan ke arah yang berlawanan dengan anak perempuan yang dia lihat. Sampai guru tidak lagi memperhatikannya, Ares berjalan menuju gedung yang ada di sebrangnya dengan santai. Berlainan dengan kamar mandi murid.


Berjalan di lantai dua, membuat beberapa anak melihatnya apalagi yang menghadap gedung dimana Ares sedang berjalan. Salah satunya Athena. Saat saudari kembarnya memberikan tatapan mematikan, Ares hanya perlu memberinyakedipan mata dengan senyuman khas nya itu.


Menuju ke koridor tempat para guru, Ares menunggu di luar ruangan. Sampai dia merasa seseorang yang dia tunggu itu keluar, Ares menarik selembar rambutnya pelan.


“Aw,” ucap anak perempuan itu dan membalikan badannya menatap Ares yang menyandarkan punggungnya di dinding.


Mata perempuan itu berkerut merasa asing. “Itu tidak sopan.”


“Astaga, Centini. Kau melupakanku?” tanya Ares sambil menundukan kepalanya untuk menyamakan tinggi badan mereka.


Sampai Cantika sadar, dia menutup mulutnya. “Ares? Astaga.”


Matanya melihat Ares yang menjulang tinggi di hadapannya. “Berapa tinggi badanmu? Kenapa kau tumbuh setinggi ini? kau juga sangat tampan.”


“Setidaknya aku berubah, kau sama sekali tidak. Kau masih memiliki ingus.”


Cantika langsung mengeluarkan sapu tangannya. “Aku sedang flu.”


“Oh astaga, ck ck ck.” Ares mengusak rambut Cantika hingga berantakan saking gemasnya.


****


 


 


TO BE CONTINUE