Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Hadiah dari Suami



🌹Jangan lupa kasih emak vote biar semangat ya anak anak.🌹


🌹Jangan lupa juga follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca yaaa.🌹


Bobba yang tidak sesuai ekspektasi, entah kenapa mereka menjadi bersatu di dalam panci kemudian membentuk bulatan paling besar dan terus membesar.


Ketika semuanya sedang berkumpul untuk memakan kue, mereka menatap satu sama lain merasa aneh dengan bobba.


Lily mencoba mencairkan suasana. “Ayo kita makan kuenya dulu.”


“Tapi semua olang halus coba bobba buatan kami,” ucap Athena dengan wajah sedihnya.


Tidak tahan dengan wajah sedih sang putri, akhirnya Lily pun memotong Boba itu.


Oma yang sudah mengantuk itu menguap berkali kali, “Ayo cepatlah Oma mengantuk ingin tidur.”


“Setelah makan ini semua olang boleh tidul.”


Ketika sedang memotong bobba, Lily tampak kesulitan.


“Apa kau butuh bantuan, Sayang?”


“Tidak, ini akan baik baik saja.”


Dan akhirnya bobba itu terbelah, Lily membaginya pada masing masing orang. 


Orang orang juga menunggu si kembar memakannya lebih dulu supaya saat mereka merasakan itu tidak enak. Tapi ternyata, kedua anak itu diam menunggu para orang dewasa yang mencicipi lebih dulu.


Membuat Lily bertanya, “Kenapa kalian tidak makan?”


“Mommy, Daddy dan Oma yang mencicipi lebih dulu,” ucap Ares yang mendapat persetujuan dari Athena.


Oma dan Lily otomatis menatap pada David. Pria itu menarik napasnya dalam, sampai dia akhirnya mencicipinya.


Lama orang orang di sana menunggu respon dari David.


“Bagaimana lasanya, Daddy?”


“Eum, karena ini bentuknya besar dan mengembang, Daddy merasa ini bukan bobba.”


“Lalu apa?”


“Sejenis candil mungkin?”


“Tapi enak?” tanya Ares dengan mata berbinar.


Dan David tidak bisa menyakiti perasaan putranya, jadi dia mengatakan kalimat ini, “Ini enak, Ares. Tapi sepertinya tidak cocok dimakan dengan kue ulang tahun. Ini lebih enak jika dijadikan minuman. Oke?”


Akhirnya Ares memindahkan bobba yang ada dalam piringnya ke dalam wadah lain kemudian berkata, “Ah selamat,” gumamnya dengan senyuman lebar.


“Apanya yang selamat?” tanya Athena yang mendambakan semua orang memakannya.


“Nothing, Thea. Kau cantik.”


Kata yang sangat jarang dikatakan Ares, dan itu membuat Athena tersenyum terpesona.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Lily yang baru saja masuk kamar itu mendapati suaminya sedang berdiri dengan senyuman. 


“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”


“Anak anak sudah tidur.”


“Beberapa detik setelah mereka menyentuh tempat tidur langsung terlelap, ini hampir dini hari,” ucap Lily menatap jam yang ada di samping ranjang.


David di sana membentangkan tangannya, membuat Lily mengerutkan keningnya. “Apa?”


“Bisa peluk aku? Aku tidak akan menjepit bayi kita, Sayang.”


“Ini sudah malam,” ucap Lily memperingati jika suaminya ingin macam macam. “Anak anak besok sekolah, aku tidak bisa tertidur seharian.”


“Apa di wajahku terpampang jelas aku hanya ingin membuat adonan?”


Lily tertawa, dia akhirnya datang dan memeluk suaminya.


David dengan mudah mencium puncak kepala sang istri kemudian berkata, “Selamat ulang tahun, Sayangku. Aku mencintaimu lebih dari apa pun.”


“Aku juga mencintaimu.”


“Tidak banyak yang aku buat, tapi…..,” ucapan David menggantung saat dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Itu sebuah kotak berukiran kecil, Lily terkejut, dia pikir itu adalah cincin. “Astaga, David. Berapa banyak kau menghabiskan uang?”


Tanya Lily karena tahu David selalu merogoh kocek dalam untuk perhiasannya.


“Tabungan mana yang kau kuras?”


David kebingungan. “Hanya celengan.”


“Celengan dimana? Swiss?”


“Bukan, celengan di bawah kasur.”


Dan ketika Lily membukanya, ternyata itu bukan perhiasan. Melainkan sebuah kain yang entah berbentuk apa. “Ini apa, David?”


David tersenyum. “Aku membuatnya sendiri, Sayang. Itu adalah kaos kaki pertama untuk anak kita.”


“Kaos kaki? Kau membuatnya?”


“Iya? Mirip buatan Gucci bukan?”


Lily terkejut, awalnya dia pikir kalau itu kain perca yang bekas dimainkan anak anak.


“Wow, kau menjahitnya?”


“Tentu saja, aku menjahitnya saat ada waktu luang di kantor. Bagus bukan?”


Lily tersenyum, dia tahu dirinya tidak bisa berbohong. Jadi Lily memeluk sang suami kemudian berkata, “Terima kasih sudah peduli.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE