Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Tamu tak Diundang



🌹VOTE🌹


"Hei, ayo duduk. Aku sudah menyiapkan banyak hidangan untuk kalian," ucap Oma pada tamu nya. Dia menatap Lily yang berada di belakang mereka. "Mana David, Lily?"


"Dia ke atas sebentar, katanya perutnya sakit."


"Masa?" Tanya Oma tidak percaya.


Oma menyambut tamunya terlebih dahulu. "Bagaimana kabar kalian?" Tanya Oma bersalaman.


"Sangat baik. Anda tidak menua sama sekali."


"Ah, kalian bisa saja. Ayo duduk."


"Terima kasih."


"Ini adalah cucu menantuku, namanya Lily. Dia sedang mengandung, baru tujuh bulan."


"Hallo," sapa Lily.


"Hallo, anda sangat beruntung cucu menantu anda sangat muda dan cantik."


"Aku tahu. Tunggu sebentar, akan aku panggil cucuku."


Lily menahan. "Biar aku saja, Oma."


"Tidak, biar Oma yang ke sana. Kau di sini dan sapa mereka."


Akhirnya Lily mengangguk dan membiarkan Oma naik ke lantai atas. Di sana Oma bergegas, dia sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan cucunya.


"David!"


"Aku mulas, Oma."


"Buka pintunya," ucap Oma yang berada di luar pintu. "David."


"Kuncinya aku telan, Oma."


"Keluar atau aku kutuk kau menjadi batu."


Belum ada jawaban dari dalam, membuat Oma menghitung di sana. "Satu… dua…. ti--"


Dan belum juga hitungan ketiga, David membuka pintunya. "Oma berisik."


"Ayo turun, Oma ingin memperkenalkanmu pada teman Oma. Sudah empat puluh tahun Oma tidak bertemu mereka, ayolah."


"Aku sedang mulas."


"Hanya memperkenalkan diri kalau begitu. Ayolah, mereka punya anak yang juga bekerja di bidang yang sama denganmu. Hanya basa basi."


"Aku tidak suka sesuatu yang basi," ucap David hendak menutup pintu kembali, tapi kaki Oma menahan pintu agar tidak tertutup.


"Kau ingin melihat Oma mati sekarang?"


"Oma!"


"Turun sebentar, Oma tahu kau tidak sakit perut. Kalau kau mulas, kau akan menelpon profesor khusus pencernaan."


"Aku menghubungi dokter! Oma berlebihan," gumam David.


Kesal karena cucunya tidak menurut, Oma menarik dengan sekuat tenaga.


"Omaaa… aku tidak mau keluar!"


"Keluar kau, Tengik!"


Dan saat melihat Lily yang naik menggunakan lift, David segera berhenti menarik dirinya. Dia berdehem dan berdiri tegak. "Sayang, kenapa kau ke sini?"


"Aku ingin memastikan apa kau baik baik saja."


"Dia baik baik saja, Lila. Ajak dia turun atau Oma akan mengutungnya menjadi Sangkuriang," ucap Oma sambil melangkah menuju lift.


Dan itu membuat Lily mendekat pada David. "Kau baik baik saja? Apa perutnya sudah mendingan?"


"Ya, jika kau menciumku."


"A--apa?"


"Ehem."


"David, ayo turun dulu, kasihan teman Oma."


"Ehem."


"David."


Lily menarik napas dalam, dia berjinjit dan menarik tengkuk David hingga bisa menciumnya.


CUP.


CUP.


CUP.


"Sudah."


"Aku ingin mengulumnya sebentar."


Dan tanpa mereka sadari, lift yang Oma naiki belum turun. Membuat Oma berteriak, "Berhenti mengulur waktu, Bule Tengik!"


🌹🌹🌹


David menarik napas dalam saat mendekati tamu, dia sengaja mengubah gaya rambut dengan mengacak acak poni nya hingga menghalangi sebagian keningnya.


Dan itu membuat Oma bergumam, "Kau terlihat seperti gembel daripada cucu Oma yang cantik ini."


"Astaga, Oma, bersyukurlah aku datang menghampiri."


Oma berdecak, dia memasang senyum saat mendekat pada tamunya.


"Maaf menunggu lama, ini dia cucuku, namanya David Fernandez."


"Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan bertemu dengan orang hebat sepertinya."


David tersenyum kaku saat pria tua di depannya memuji. "Senang bertemu dengan anda Tuan."


Oma tersenyum melihat interaksi mereka, dia memberi isyarat pada Eta untuk menghidangkan makanan.


"Putraku juga bekerja di bidang yang sama denganmu."


"Benarkah?" Tanya David.


"Ya, dia selalu meledak sepertimu."


Hal itu seketika membuat David yang sedang minum tersedak. "Uhuk uhuk…"


"Hati hati, David," ucap Lily.


Tubuh David panas dingin, takut pria itu membongkar kejadian di lift.


"Maaf, Tuan Fernandez. Memang benar anakku memiliki hobby yang sama dengan anda, yaitu meledak."


Dan sialnya Oma menambahkan. "Benarkah? Cucuku sering meledak ledak di berbagai tempat."


Keringat dingin menetes di kening David, tangannya mengepal menahan rasa aneh dalam dirinya.


"Tapi putraku hanya meledak di satu tempat, tidak seperti cucu anda yang meledak di semua tempat."


"Aku tidak meledak di semua tempat," ucap David pada akhirnya.


"Apa? Kau meledak di semua tempat."


"Tidak, aku tidak melakukannya."


"Ya, kau meledakan dunia dengan semua kepiawanmu dalam bekerja," ucap pria itu yang membuat David diam. Ternyata dia membahas hal lain.


Dan saat itulah ada telpon dari Holland.


"Maaf, permisi sebentar."


David mengangkatnya di tempat yang sepi.


"Tuan Muda?"


"Kenapa kau tidak bilang kalau temanmu itu juga mantan anak didik Oma?"


"Tidak, Tuan. Mereka tidak pernah kuliah. Aku pikir ada kesalahan, mereka penderita Alzheimer (Penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya.)."


"Apa? Alzheimer?"


"Mereka sering belkeliaran dan lupa apa yang mereka lakukan."


Dan saat itulah terdengar bel berbunyi. David membukanya. 


"Hallo selamat malam. Ah, kau pasti David, perkenalkan kami adalah anak didik Ibu Ambarani."


🌹🌹🌹


TBC.