
🌹Vote yee ghais.🌹
🌹Jangan lupa ajak yang lain baca ini yaaaa🌹
“Mommy!” teriak anak anak saat melihat Lily datang, keduanya memeluk Lily dengan ekspresi wajah riang.
Lily segera memberi isyarat agar keduanya diam dan tenang mengingat masih ada tamu Oma di dalam, yang mana membuat Lily memilih jalan memutar.
“Kenapa kita memutar, Mommy?”
“Masih banyak mobil, tamu Oma masih di dalam bukan?” tanya Lily yang dijawab anggukan oleh Ares.
Athena yang digenggam oleh mommy nya hanya ikut lewat belakang. Namun tanpa diduga, ternyata para tamu itu ada di belakang sedang memakan kudapan, yang membuat Lily segara menarik anak anaknya untuk masuk lewat belakang.
“Mommy, kenapa kita memutari rumah?” tanya Ares.
“Apa ini bagian dali litual?”
“Ritual apa?” tanya Lily terkejut dengan pertanyaan putrinya. “Apa kalian menonton Suzzana lagi bersama Oma?”
Kedua anaknya mengangguk, membuat Lily menghela napas.
“Kenapa Mommy datang?”
“Mommy juga ingin makan banyak kudapan di sini,” ucap Lily sambil tersenyum. “Kalian mau kemana?”
“Pada Oma.”
“Lalu kenapa tadi ikut Mommy?”
“Nothing,” ucap anak anaknya lalu berlari begitu saja, membuat Lily menggelengkan kepalanya.
Dia naik ke lantai dua, dimana dia memasuki kamarnya dahulu. Di sana adalah saksi bisu bagaimana David yang tengil dan gila takluk padanya, awal mula Lily disebut sebagai wanita pendek dan jelek.
Rasanya baru kemarin.
Sambil tiduran, Lily mengusap perutnya, kini dia akan mengandung anak ketiga David. Senang rasanya mendapatkan kehidupan diluar ekspektasi, ini lebih membahagiakan.
Sebelum ke rumah Oma, Lily mampir dulu ke sebuah caffe dan makan di sana ditemani Nina. Memang sulit mendapatkan waktu sendirian tanpa suami dan anak anak. Meski sebentar, me time Lily membuahkan hasil hingga moodnya kembali naik.
Ketika sedang berbaring, Lily melihat unggahan terbaru dari Luke yang memperlihatkan kalau dia ada di Indonesia.
“Huh? Luke ada di Inonesia? Mereka bertiga berkumpul lagi?” tanya Lily melihat unggahan itu dengan mata memicing.
Dan tidak lama kemudian, David menghubunginya. Segera Lily mengangkatnya.
“Hallo, Sayang?”
“Ya?”
“Kau tidak menghubungiku dari tadi.”
“Maaf, aku mampir di caffe dan baru sampai sekarang.”
“Oh, benarkah? Bagaimana dengan anak anak?”
“Mereka sedang bermain dengan Oma dan teman temannya.”
“Oh ya?”
“Baik, aku akan menginap di rumah Oma. Jangan bergadang.”
“Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu.”
🌹🌹🌹🌹
David menurunkan ponselnya, diaa menatap kedua temannya kemudian menyeringai.
“Dia akan menginap?” tanya Luke.
“Dia akan disana dengan anak anak.”
Kemudian ketiga pria itu bersorak dengan gembira layaknya anak kecil. Luke yang rindu Sebastian itu memeluk temannya, yang mana malah membuat Sebastian yang tidak suka sentuhan itu mendorong Luke hingga dia jatuh menyenggol blender dia atas meja dapur.
PRANKKKK!
Ketiganya menatap kaget.Â
“Ini blender yang kau bicarakan, David?” tanya Luke. “Yang kau bilang mahal dan disukai istrimu karena ada tanda tangan seniman?”
David mengangguk. “Dan kau memecahkannya.”
“Sebastian mendorongku.”
“Kenapa kau memelukku hah? Rasanya mengerikan.”
“Kau tidak merindukanku?” tanya Luke kaget.
“Apa kau tidak pernah mendapat pelukan dari pacarmu sendiri? Medina?” tanya Sebastian.
Dan keduanya malah berdebat, membuat David mendorong dan menggiring kedua temannya agar masuk ruang karaoke sementara dirinya membeskan pecahan kaca di sana. Dia juga menghubungi Holland supaya mencari blender pengganti.
David pikir saat dia kembali ke dalam ruangan karaoke, dia akan mendapatkan kedua temannya sedang berdebat. Namun, di sana Luke dan Sebastian sedang berjoget sambil bernyanyi gangnam style.
Bukannya marah, David ikut berjoget bersama mereka lalu tertawa. Hal itu mereka lakukan sampai malam menjelang dan ketiganya terlelap. Dan kembali bangun saat pukul 8 malam.
“shiiiiittt,” gumam Sebastian merasakan tubuhnya remuk, apalagi dia dijadikan bantalan oleh kedua temannya. “Aku lapar, bangunlah.”
Luke mengucek matanya. “Ayo pergi ke klab malam.”
Mendengar saran tersebut, mereka bertiga bersiap siap. Karena tubuh mereka seukuran, pakaian David menjadi korban kedua temannya.
Mereka kembali ke masa muda dimana mereka bersenang senang seperti ini.
Sudah memakai pakaian rapi, rambut klimis dan parfume yang semerbak. Mereka menaiaki ferarri masing masing menuju klab malam.
Seperti sebelumnya, Sebastian berada diantara teman temannya, dia memotong antrian dan membuka pintu klab malam.
Kemudian terdengar teriakan DJ, “Wooohooooo! The King’s are in this building!”
Sebastian menyunggingkan senyuman, dia memutar jarinya di udara, “Play the music, DJ!”
🌹🌹🌹🌹🌹
TBC