
🌹VOTE🌹
"Ayo…. Datanglah padaku," ucap David merentangkan tangannya.
Namun, sebelum Lily datang, terdengar suara, "Lily! Lily! Oma butuh bantuan!"
"A… aku…"
"Tidak, Lily, jangan tinggalkan aku," ucap David keceplosan. Yang mana membuat pria itu segera menggeleng melarat apa yang dikatakannya, David berpaling. "Pergi saja sana, apa kau ingin meninggalkan kenikmatan di sini."
"Lily!" Teriak Oma lagi mulai mendekat.
"Aku rasa Oma masuk kamar," ucap Lily.
"Lalu?"Â
Dan benar saja, Oma mengetuk pintu kamar mandi. "Lily Sayang! Keluar! Oma butuh bantuan!"
"Aku akan menemuinya sebentar," ucap Lily.
Yang dibalas David dengan mengangkat bahu. "Terserah padamu."
Saat pintu kamar mandi tertutup, David buru buru berdiri dan memakai jubah handuk dan mendengarkan percakapan Oma dan Lily di balik pintu.
"Bantu Oma menyelesaikan masakan ya."
"Tapi, Oma. David belum mandi."
"Biarkan saja, dia bisa mandi sendiri."
"Lily akan turun saat David selesai Lily mandikan."
"Astaga, Lily. Biarkan saja, lebih dari tiga puluh tahun dia mandi sendiri, kenapa sekarang tiba tiba ingin dimandikan?"
"Oma…"
"Sudah, ke bawah lebih dulu."
David masih mendengarkan, terdengar Lily yang keluar kamar. Tahu Oma masih ada di sana dan hendak masuk, David mundur perlahan.
"Oma…," ucap David saat Oma menatapnya tajam.
"Oma bilang, hati hati saat menggunakan Lily. Dia masih rapuh, dasar kau bule."
"David tidak meminta, Lily yang memohon dia ingin kembali merasakan hebatnya David."
"Oh benarkah? Lihat siapa yang berdiri?"
Melihat tatapan Oma, David menutupi kejantanannya dengan benda lain. Karena menggunakan handuk pun masih terlihat berdiri.
"Hahhaha, kau ketahuan."
"Tidak, ini karena Lily menggodanya."
"Oh benarkah? Kalau begitu Oma akan memasak dengan Lily dan menjagkan jaraknya darimu agar dia tidak menggodamu lagi."
"Baik," ucap David meninggikan egonya.
Namun, dia tidak bisa menahannya. Apalagi Oma melangkah pergi sambil berkata, "Lily memiliki bibir merah muda, pipinya yang merona dan rambutnya seharum bunga di pagi hari."
Karena kalimat itu, sebelum Oma mencapai pintu, David melangkah menahan Oma membuka pintu. "Oma, biarkan Lily mandi bersama David."
"Tidak."
"Oma…."
"Tidak, lepaskan tanganmu cucu tengik. Oma hendak keluar."
"Tapi bawa kembali Lily," ucap David memohon. "Oma bawa kembali Lily pada David. Ayolah kita berdamai."
Oma menyeringai. "Lily mengeluh karena kau berduaan dengan sekretarismu, sekarang rasakan akibatnya."
"David sudah memecatnya."
"Kalau begitu ambil resiko karena kau bermain di luar. Lepaskan pegangan pintunya."
"Oma."
Karena tidak kunjung dilepaskan, Oma dengan berani mencubit kecil tangan David lalu memutarnya sampai pria itu berteriak kesakitan.
"Oma!"
"Apa?" Oma membuka pintu saat tangan David terlepas. "Sana pergi! Rasakan akibatnya hampa tanpa Lily. Haha haha haha!"
Oma tertawa sepanjang langkahnya.
David mengumpat pelan, dia menutup pintu dan menatap sabun cair di sana. "Dan pada akhirnya kau yang akan menggantikan istriku."
🌹🌹🌹
David turun untuk makan malam, dia kesal saat melihat Oma menyeringai menatapnya.Â
"Hallo David sayang, Maaf Oma meminjam istrimu."
David diam saja, dia fokus pada Lily yang masih memasak. Dia terlihat seksi bahkan dengan apron kotor, apalagi keringat membasahi keningnya.
"Berhenti menatapnya, Oma tidak akan memberikannya," ucap Oma dengan tajam.
"Aku tidak sedang memikirkan Lily."
David duduk saat Lily menyajikan makanan untuknya.Â
Ketika Lily hendak melangkah pergi, David menahan tangannya. "Mau ke mana?"
"Mandi dulu."
"Makan saja, temani aku."
"Ehem." Oma berdehem. "David tidak bisa jauh darimu, Lily."
"Bukan begitu, Oma."
"Tidak apa, akui saja," ucap Oma memberi isyarat agar Lily duduk.
Lily mengalah, dia duduk dekat David dan menyajikan makanan di piring untuk suaminya.
Ketika Oma mengambil abon dari kulkas, David mendekatkan wajahnya ke leher Lily, yang membuat Lily risih. Pasalnya dirinya berkeringat. "David…."
"Lihat, Oma pergi sebentar kalian langsung berduaan," ucap Oma membuat David menegakan badannya.
"Tidak ada."
"Dasar ka cucu tengik."
"Oma."
"Siapa?"
"Megan."
Seketika wajah Lily terlihat sedih, yang mana membuat David segera bergegas. Dia keluar menemui Megan yang menunggunya di luar, terlihat Megan yang sepertinya dihadang oleh Holland.
"Aku ingin masuk menemui Tuan David!"
"Anda tidak boleh masuk, Nona."
"Lepaskan! Aku ingin masuk menemui Tuan David!"
David menuruni tangga. "Biarkan dia, Holland."
"Tuan David."
Segera Megan mendekat. "Tuan… anda memecat saya?"
"Pergi dari sini Megan, kau bukan lagi pegawai saya."
"Tuan, apa salah saya?"
"Kau bagus dalam bekerja, saya merekomendasikan beberapa perusahaan untukmu. Saya juga tidak menambahkan keterangan kalau dirimu keluar secara terhormat."
"Apa salah saya, Tuan?" Megan menangis, dia memeluk David. "Jangan pecat saya, Tuan."
Saat itu Lily keluar, seketika David mendorong pelan Megan. "Itu tindakan yang tidak sopan."
Kepanikan Davi bertambah ketika melihat Lily masuk ke dalam mansion.
"Holland, bawa dia pergi."
David berlari menuju mansion. "Oma, ke mana Lily?"
"Dia ke kamar, ada ap--"
David lebih dulu berlari menuju lantai dua sebelum Oma selesai mengatakan ucapannya. David saat itu panik, tidak ingat harga dirinya.
"Lily?" Panggil David menatap ke seluruh ruangan. "Lily?"
Tahu Lily di dalam kamar mandi, David mengetuknya. "Lily, keluarlah, aku memecatnya. Dia bukan lagi sekretarisku sekarang, ayo keluarlah."
Tidak lama kemudian Lily keluar, yang segera David todong dengan pertanyaan, "Kenapa kau berlari begitu saja? Aku sudah memecatnya."
"Maaf, aku hanya ingin pipis."
Seketika David diam, dia lupa tidak menjunjung tinggi harga dirinya.
🌹🌹🌹
Malam telah tiba, David bersiap untuk mendapat pijatan. Dia menunggu Lily yang sedang mandi. Saat keluar kamar mandi, David tidak berkedip menatap Lily yang hanya memakai handuk.
Dia menelan ludahnya kasar, David tengkurap tanpa pakaian.
Setelah selesai memakai baju, Lily mendekat. "Ingin di pijat sekarang?"
"Ya, lakukan saja," ucap David tetap tengkurap.
Lily mulai menuangkan minyak urut ke punggung David, dan memijat dengan jemari lentiknya yang dingin habis mandi.
"Lebih bawah, Sayang."
Lily tersipu malu saat David memanggilnya dengan suara yang agak seperti desahan.
"Terus ke bawah, Sayang."
Apalagi saat David tidur terlentang menghadapny, membuat tangan Lily menyentuh perut David.
"Ke bawah, Sayang…." Apalagi saat tangan David merayap mencoba menyentuh dada Lily. Membuat perempuan itu gelisah.
"Aaaaakkh." Lily berteriak saat David tiba tiba menariknya hingga dirinya berakhir di bawah tubuh David. "David…"
"Tenanglah, Sayang, aku sudah memecat Megan untukmu, aku tahu kau cemburu melihatnya menempel padaku. Bukan begitu?"
"Emm…. Bukan begitu."
"Ahh yaa, aku tahu kau cemburu," ucap David menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Lily. "Benar kan?"
"David…" Lily mencoba menahan tangan David yang hendak menyentuh pahanya. "David… aku…"
"Aku akan memijatmu."
"Bukan begitu."
"Lalu apa?"
Ketika tangan David masuk, dia mengerutkan keningnya merasakan suatu pengganjal di sana. David menegakan kepalanya. "Apa kau sedang haid?"
"Ya, aku sedang berdarah."
"Astaga, Lily," ucap David frustasi.Â
"Berapa jam?"
"Biasanya tujuh hari."
"Apa?"
Lily merasakan sesuatu yang tumpul menyentuh perutnya, yang man membuat Lily menunduk menatap kejantanan David yang berdiri. "Ma… maaf…. Itu…."
"Aku harus bersama sabun," gumam David seorang diri. Dia menarik diri dari Lily.
"Kau mau ke mana, David?"
"Mengambil sabun."
"Kau ingin mandi lagi? Butuh bantuanku?"
"Tidak, jika kau masuk dia tidak akan tidur tidur."
"Hah?" Lily tidak mengerti.
🌹🌹🌹
Hayoo hayooo bentar lagi konflik hati hati ya...
To Be Continue...