Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Pesta yang Gagal



🌹Vote ya guys🌹


Hari demi hari berlalu begitu cepat untuk David. Tapi bagi Lily, ini terlalu lambat. Bukannya bosan melihat David berdiam diri di apartemen, hanya saja Lily tidak bisa fokus pada pekerjaan dan pembelajarannya.


David memang mulai kembali bekerja, tapi dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Seperti besok bekerja, lalu besoknya tidak. Atau pulang lebih awal dan memilih membawa pekerjaanya ke apartemen demi bersama Lily dan menggodanya.


Seperti sekarang, Lily sedang membaca sebuah buku sains berbahasa Inggris guna memperkaya pengetahuan dan kosa kata, sayangnya David yang ada di belakangnya terus saja menciumi pipinya, bahkan David mengangkat tubuh Lily dan mendudukannya di pangkuan.


"David….."


"Aku tidak akan melakukan apa pun, hanya diam dan melihatmu belajar."


Terlalu banyak uang membuat David enggan beranjak dari kegiatan mengganggu istrinya.


Lily sedikit risih, hampir  satu bulan setengah David tidak fokus pada pekerjaannya, dia lebih suka berduaan dengan Lily dan bergemul di bawah selimut tebal, berkeringat bersama dan saling memuaskan satu sama lain. 


Memang banyak yang mereka lakukan, tapi kebanyakan selalu berakhir di ranjang. Di mana pun, kapan pun, apa pun yang dilakukan, David selalu mencari cara agar bisa menyentuhnya hingga akhirnya Lily lelah.


"Kenapa kau pulang cepat hari inu?"


"Aku khawatir kau merasa takut sendirian."


"Aku sudah biasa."


"Maka jangan dibiasakan."


"Kenapa kau tidak bekerja saja lagi?"


"Sudah beres, sekretarisku melakukannya."


Dan ini tidak di duga, sekretaris David yang baru adalah seorang pria tua yang seumuran dengan Holland. Bahkan mungkin lebih tua. Langkahnya saja sudah sangat pelan, tertinggal jauh di belakang David.


Untuk Radit, Lily dilarang bertemu dengannya lagi dan jika hendak bertemu atau apa pun, harus dalam pengawasan dan penglihatan David. 


"Kasihan dia, kau seharusnya membantu."


"Dia yang seharusnya membantu. Aku boss nya."


Lily diam, dia kembali fokus pada buku di depannya. Perpustakaan yang lengkap, tapi kebanyakan tentang bisnis. Di sini Lily belajar jika ada waktu luang dan selesai membereskan semua, termasuk memandikan David.


Yang membuat Lily khawatir adalah saat menuju malam, biasanya dia akan di buat bergadang oleh David. Setiap malam, setiap ada waktu luang, David seolah tidak pernah puas dengannya.


"Apa Oma akan datang?" Tanya Lily.


"Tidak, kenapa?"


"Aku merindukannya."


"Oma sedang dalam mode malas keluar, dia tidak ingin kulitnya hitam."


Sebenarnya Lily sering melakukan video Call dengan Oma, bahkan Oma selalu mengirim Eta untuk membawakan sesuatu untuknya.


"Bukan kah Oma sedang sakit?"


"Dia hanya tidak enak badan. Sejak dulu Oma selaly menyembunyikan jika dia punya rasa sakit, dia tidak ingin membuat orang lain sedih. Jika aku sedih, dia malah semakin parah."


Video Call terakhir Lily dan Oma adalah kemarin pagi, memang Oma sedang berbaring di ranjang. David melarang Lily keluar dan menjenguk Oma, karena David sendiri tahu bagaimana Oma tidak ingin terlihat lemah bahkan di depan cucu dan anaknya.


"Setidaknya kita harus menjenguknya kan…"


"Kita akan menjenguknya nanti setelah ke pesta Luke."


"Ah ya, pesta. Apa Oma juga akan hadir?"


"Sayang apa kau lupa? Itu pesta teman temannya saja, belum melibatkan keluarga," ucap David dengan tangan mengusap paha mulus Lily.


Membuat perempuan itu menutup bukunya. "Aku akan ke kamar mandi."


"Baiklah, bawakah cemilan jika kembali."


Lily mengangguk, dia pergi ke kamar mandi. Sebenarnya pergi ke kamar mandi hanya untuk menghindari David, Lily merasa lesu akhir akhir ini. Mengimbangi David selalu tidak bisa dia lakukan, apalagi kali ini Lily terasa pusing sering kali.


Ketika berada di kamar mandi, Lily menatap pantulan dirinya. Dia merasa kalau dadanya semakin membengkak.


"Astaga, ini semakin besar. David terlalu sering memainkannya."


Lily menarik napas dalam, dia duduk di atas closet. Merasakan pusing yang kembali melanda. "Ada apa ini? Kenapa aku merasa sangat pusing?"


Tidak lama, Lily merasakan mual. Dia muntah membuka mulut menghadap westafel. Lily sengaja mengalirkan air supaya suara muntahnya tidak terdengar. 


Lily lesu, dia diam kembali duduk di closet.


Tanpa sadar, Lily memegang perutnya. "Seharusnya aku sudah datang bulan, dan ini telat…..," gumamnya pelan.


Ada rasa gelisah saat Lily membayangkan dirinya hamil, dia ketakutan. "Apa aku hamil?"


Yang Lily takutkan, diriny belum siap menjadi seorang ibu, yang mana akan membahagiakan anaknya dan melindunginya.


Namun, di sisi lain, Lily bahagia jika itu benar. Diriny diberi kepercayaan oleh Tuhan. "Apakah aku hamil?"


"Lily Sayang, apa yang kau lakukan di dalam? Ayo keluarlah."


"Sebentar," ucap Lily membereskan rambutnya.


Saat keluar, David terlihat khawatir, "Ada apa? Apa kau sakit?"


"Tidak, David. Aku baik baik saja. Kita akan keluar bukan malam ini?"


"Iya, ke Pesta Luke? Kenapa?"


"Tidak, hanya bertanya," ucap Lily masih ingin belum memberitahu.


Dia ingin memberikan sesuatu yang pasti, jika itu benar, maka Lily akan menjadikannya kejutan untuk David.


🌹🌹🌹


Sore hari saat Lily berdandan, Oma datang bersama dengan Eta.


"Oma… Bukankah Oma sedang sakit? Kenapa tidak istirahat saja."


"Siapa bilang Oma sakit?" Tanya Oma dengan mengangkat dagunya, dia ingin terlihat gagah bugar di hadapan orang lain. Oma tidak ingin terlihat lemah, alasa kenapa dia tidak mengizinkan orang datang saat dirinya sakit. "Oma sehat."


"Oma…."


"Jangan berdiri, bukankah Marylin sedang membereskan rambutmu."


Lily mengerucutkan bibirnya, dia kembali menatap pantulan diri di cermin. Mereka ada di kamar lantai bawah, sementara David berdandan di kamar lantai dua dengan seorang pria yang bertugas merapikan segalanya. Itu adalah penata busana David yang baru Lily ketahui.


"Selamat datang, Nyonya Besar," sapa Marylin.


"Halo kau laki."


"Nyonya Besar…"


"Diam dan selesaikan, aku ingin bicara dengan cucuku."


Marylin diam. "Baik, Nyonya Besar," ucapnya fokus.


"Apa Oma datang bersama Eta?"


"Ya, dia kembali membawakan ramuan untuk kalian agar subur."


"Benarkah? Terima kasih, Oma…"


"Astaga….," Gumam Oma mendudukan diri di atas ranjang. "Rumah Oma sangat sepi tanpa kalian."


"Maaf, Oma. Lily mencoba membujuk David, tapi dia ingin tinggal di sini."


"Tidak apa." Oma mengibaskan tangannya. "Kalian memang harus tetap berada di sini agar bebas membuat adonan di mana pun."


Lily tertunduk diam karena malu.


"Ya, dari pada di rumah Oma, kalian membuat adonan di mana saja membuat Oma mengira itu gempa."


Lily menahan senyumnya. Saat Marylin selesai, Lily memintanya untuk keluar.


Sebelum Lily mengatakan sesuatu, Oma lebih dulu menyela, "Oma ingin mengatakan sesuatu."


"I… iya, Oma. Lily mendengarkan."


"Begini…" Oma memegang tangan Lily.


"Apa sesuatu yang serius terjadi, Oma?"


"Ya, ada yang serius."


"Apa itu?"


"Lily Sayang, kau tahu Oma sangat menyayangimu."


"Lily tahu, Oma."


Oma menarik napasnya dalam. "Oma harap…. Kau bertahan dengan David ya… ubah dia secara perlahan. Dia bukan pria yang baik."


Lily tersenyum mendengar itu. "Oma, Lily akan bertahan dengan David jika dia ingin berubah dan memperbaiki dirinya bersama Lily. Selama dia punya keinginan, Lily akan bersamanya."


"Tuhan, terima kasih kau mengirimkan remaja ini untuk cucunya."


Lily tertawa kecil. "Dan, Oma.. ada yang ingin Lily sampaikan."


"Apa itu?"


"Katakan pada Oma."


"Itu, mmm…. Lily…."


"Katakan, Lily."


"Bulan ini Lily telat datang bulan," ucapnya pelan membuat Oma membulatkan mata.


Oma antusias. "Benarkah?!"


"Tapi Lily belum periksa Oma," ucap Lily menahan tangan Oma agar tidak beranjak. "Lily hanya merasakan mual dan pusing saja."


"Sayang, itu tandanya. Kau hamil."


"Oma.. pelankan suaramu, David tidak tahu."


"Dia tidak tahu?"


Lily mengangguk. "Lily ingin memberinya kepastian."


"Kau tahu, Sayang, David ulang tahun ke tiga puluh tujuh minggu depan. Jika kau positive, ini akan menjadi hadiah untuknya."


Lily agak terkejut. "Tiga puluh tujuh?"


Memang mengejutkan David umurnya sudah tua, beda belasan tahun. Tapi kharismanya tidak pudar, dia juga masih gagah seperti pria awal tiga puluhan.


"Oma tahu umurnya tua, tapi dia masih joss bukan?"


Lily memilih diam malu.


"Bagaimana? Ingin memberinya kejutan?"


Lily mengangguk. "Apakah Lily harus membeli test kehamilan?"


"Ya, test pack, kau tahu cara memakainya bukan?"


Lily mengangguk.


"Bagaimana kau tahu?"


"Lily membaca di internet."


"Bagus, nanti Oma suruh Eta membelikannya diam diam. Oke? Saat kau pergi, Oma masih akan di sini. Nanti alatnya Oma simpan di tempat tersembunyi supaya hanya kau yang tahu."


Lily kembali mengangguk. "Baik, Oma."


Oma bertepuk tangan setelahnya. "Ini akan menyenangkan."


🌹🌹🌹


David yang sudah siap memandang dirinya sendiri di cermin. "Ini bagus," gumamnya saat dirinya sendiri memakai balutan jas abu.


Tidak lama terdengar dering telpon, itu dari Sebastian.


"Hallo, Bas?"


"Hallo, kawan. Bagaimana kabarmu? Dua bulan aku pergi ke Italia, kau bersenang senang?"


David mengatupkan rahangnya sesaat. "Kau akan pergi ke pesta Luke?"


"Oh tentu, kita akan dibagikan undangan pernikahan mereka."


David terdiam.


"Oh, David. Aku dengar hotelmu di Bali sudah selesai, sayang kau tidak punya kapal pesiar."


"Aku akan punya," ucap David dengan suara tajam.


Membuat Sebastian tertawa di sana. "Woho, apa kau ingat tentang kesepakatan kita bertiga?"


"Ya, aku ingat, dan aku melakukannya. Kita bicara nanti di pesta."


"Baik, sampai jumpa."


David menutup telpon, dia keluar kamar dan mendapati Lily dengan gaun biru tengah duduk di sofa menunggunya.


Punggungnya yang terbuka membuat David terkesima, apalagi rambutnya yang diurai dengan pita ungu kecil di bagian rambutnya. 


Lily tampak cantik.


"Lihat istri siapa yang cantik?"


"Tentu saja istrimu," celetuk Oma membuat David sadar ada Oma di sana.


"Oma? Kapan kau datang?"


"Oma akan makan di sini, kalian pergi saja."


"Jangan memainkan barang orang, Oma."


"Aku mengerti," ucap Oma memilih enggan berdebat.


David menggenggam tangan Lily. "Kami berangkat."


Dengan menggunakan BMW klasik, mereka menuju rumah Luke.


"Kau sangat cantik, Sayang."


"Terima kasih," ucap Lily tersenyum.


"Ngomong ngomong, siapa istrinya Luke?"


"Calon, Sayang. Dia adalah teman masa kecil Luke, mereka sudah saling menyukai dan dijodohkan sejak kecil."


"Benarkah? Apa kau juga bermain bersama Luke sejak kecil?"


David tertawa. "Sayang, aku, Luke dan Sebastian tidak seumuran."


"Apa?" Lily terlihat terkejut. "Tidak seumuran?"


"Tidak, kami memang kuliah bersama. Tapi tidak seumuran. Luke adalah yang paling muda, dia masih berusia tiga puluh dua tahun. Sementara Sebastian, dia yang paling tua, dia sudah memasuki tiga puluh delapan tahun saat ini."


"Tiga puluh delapan?"  Lily terkejut, pasalnya Sebastian memiliki wajah yang umurnya terlihat sama dengan Luke dan David.


"Ya, dia sudah tua."


"Dan belum menikah?"


"Sebastian enggan berkomitmen, dia hanya menganggap itu permainan."


Lily diam, membuat David sadar. Dia segera mencium tangan istrinya. "Sekarang aku tidak akan melakukannya."


Lily tersenyum.


Ketika sampai di kediaman Luke,  Lily mengerutkan keningnya. Pasalnya sangat sepi di sana.


"Apa kau yakin pestanya di sini?" Tanya Lily.


"Aku yakin, Sayang."


Dan ketika membuka pintu, di dalam ada Luke dan Sebastian. Hanya mereka berdua sedang meneguk alkohol diantara dekorasi pesta yang begitu menakjubkan.


"Luke? Apa ini?" Tanya David heran.


"Pestanya tidak jadi, Medina ingin kami menikah tahun depan."


"Apa kau bercanda?" Tanya David lagi.


Membuat Sebastian tertawa. "Lihatlah, aku benci wanita karena ini. Mereka ingin menguasai dan berbuat seenaknya."


Lily hanya diam di samping David.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Luke?"


"Ada panggilan dari pekerjaannya, Medina ingin karir modelnya lancar, jadi dia meninggalkan pesta ini."


"Kakekmu tahu?"


Luke mengangguk. "Dia memahami Medina, dan menyuruhku untuk melakukan hal yang sama."


Tatapan Lily tertuju pada seorang wanita yang sedang membereskan dekorasi. Satu satunya wanita selain dirinya, pasalnya di mansion ini hanya ada dirinya, David, Luke, Sebastian dan wanita yang sedang membereskan itu.


"Siapa dia, Luke?" Tanya Lily. "Apa dia Medina?"


"Apa kau bercanda?" Sebastian menyela.


Luke segera menjawab, "Namanya Rara, dia pembatu pribadi Medina, Medina selalu mempercayakan semuanya pada gadis itu." 


"Aku akan menemuinya, aku rasa kalian bertiga butuh ruang."


🌹🌹🌹


To be continue...