
🌹VOTE🌹
Lily mengerucutkan bibirnya, ini sudah malam dan David belum pulang. Lily mengiriminya pesan, tapi hanya dibaca dan tidak dibalas.
Pikirnya, David sedang sibuk. Namun, Lily memiliki feeling yang berbeda, merasa ada yang salah dengan suaminya. Yang membuatnya tidak bisa tidur sampai sekarang.
"Lily…?" Terdengar ketukan pintu.
"Ya, Oma. Masuk saja, tidak dikunci," ucap Lily menyalakan televisi dan duduk di sofa. "Ada apa, Oma?"
"Kau belum tidur?"
"Masih menonton tv, Oma. Ada apa?"
"Oma punya cara agar David cepat pulang."
"Be… benarkah? Bagaimana caranya?"
"Tapi…." Oma duduk di samping Lily. "Kau yakin sudah baik-baik saja?"
"Lily sangat sehat, Oma."
Oma memegang keningnya, Lily sudah tidak panas, wajahnya tidak pucat dengan mata yang kembali bersinar. "Ikuti rencana Oma, oke?"
"Rencana apa, Oma?"
"Marylin! Masuk!"
"Baik, Nyonya Besar," ucap Marylin lalu masuk ke dalam dengan sebuah koper besar di seret.
"Apa itu, Oma?"
"Nyonya Muda, anda akan saya dandani dengan sangat cantik dan bergairah supaya Tuan David pulang."
Lily menatap Oma meminta penjelasan.
"Begini…. Marylin akan mendandanimu dan memakaikan pakaian bagus untukmu, setelahnya Oma memotretmu dan mengirimkannya pada David agar dia cepat pulang."
"Tapi, Oma… bagaimana jika dia sedang rapat?"
"Mana ada rapat jam segini!" Oma berteriak, sampai dia sadar apa yang dikatakannya, Oma berdehem.
"Tidar rapat? Lalu kemana?"
"Mungkin saja meninjau pekerjaan bawahannya. Pulang terlambat bukan berarti rapat. Ayo ikuti kata Oma."
Oma masih belum berani mengatakan kebenarannya. Dia ingin Lily dan David baik-baik saja.Â
"Marylin! Mulai!"
"Baik, Nyonya Besar."
"Omaaa….." Lily menahan tangan Oma saat hendak keluar.
"Ayo, percaya pada Oma. Oma hanya menunggu di luar menyiapkan kamera."
Meninggalkan Lily dan Marylin.
Marylin bertepuk tangan. "Ayo kita mulai, Nyonya Muda."
"Ba… baiklah," ucap Lily mengikuti arahan Marylin untuk duduk di kursi rias
"Kau akan aku buat sangat mempesona. Lihat saja bagaiman Tuan Muda langsung meninggalkan pekerjaannya."
Lily hanya diam, membiarkan Marylin mengoleskan make up tipis di wajahnya.
"Sebenarnya tanpa make up pun anda sudah sangat cantik, mengingat aku yang melakukannya hahaha."
Lily hanya diam.
Dan dalam waktu hitungan menit, Marylin selesai mendandani Lily. "Sudah selesai, Nyonya Muda."
Lily menatap pantulan dirinya dalam cermin. Tidak terlalu berlebihan, Lily suka.
"Dan ini." Marylin mengeluarkan pakaian dari dalam koper. "Yang dipesan Nyonya Besar untuk anda kenakan."
"A… apa?" Lily menerima itu.
"Tugasku selesai, Nyonya. Itu perintah Nyonya Besar."
"Terima kasih, Marylin," ucap Lily saat Marylin hendak keluar.
"Sama sama, Nyonya Muda. Panggil saja saya setiap saat, saya terbangun 24 jam untuk anda."
"Ba… baik."
Sebenarnya Lily enggan memakai lingrie seksi berwarna merah, semerah bibirnya. Namun, yang Lily tahu ini perintah Oma. Dan tidak ada yang bisa Lily lakukan. Akhirnya dia memakainya.
"Lily? Sudah selesai?"
"Sebentar, Oma." Lily menutup dulu tubuhnya dengan handuk untuk menghalangi gaun tidur yang seksi. "Masuklah, Oma."
"Ini dia kameranya. Ayo berbaring di sana, Oma akan memotretmu."
"Oma…. Lily malu," ucap Lily dengan pipi semakin merah.
"Kenapa kau harus malu? Ini agar David pulang, agar kau tidak khawatir."
Dan akhirnya, Lily menurut apa perkataan Oma. Dia berpose sesuai kenginan Oma.
Dan Oma segera mengirimkannya pada David.
"Sudah selesai, kau bisa tidur sekarang. Tapi jangan ganti pakaianmu, nanti David pulang."
"Oma…."
"Sayang, percaya pada Oma. Akan Oma buat David terjebak dengan pesonamu."
🌹🌹🌹
Ini sudah larut malam, David belum kunjung pulang, dan Lily tidak kunjung tidur. Oma dan yang lain sudah terlelap. Kini tinggal dirinya.
Mencoba untuk yang kedua kalinya, Lily menelpon David. Sayangnya, pria itu tidak mengangkat. Namun jika dikirim pesan, David membacanya, tapi tidak membalas.
"Ke mana dia sebenarnya?" Tanya Lily pada diri sendiri.
Lily keluar kamar untuk menghilangkan keresahannya. Tidak tahu siapa lagi yang harus dia hubungi.
Ketika Lily berada di dapur, mengeluarkan air dingin beserta beberapa buah dari kulkas, Eta terbangun.
"Nyonya Muda?"
"Eta? Kau bangun?"
Eta segera mendekat dan membantu Lily membawakan cemilan ke meja. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Tidak, Eta. Kau bisa kembali tidur."
Namun, pelayan tidak akan tidur mendahului majikannya. Hal yang membuat Eta mengawasi Lily dari arah dapur.
Sadar akan hal itu, Lily berkata, "Kemarilah, Eta. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Ada apa, Nyonya?"
"Duduklah, ayo."
Eta melakukannya. "Apa yang ingin anda tanyakan, Nyonya?"
"Apa… em… David sering pulang terlambat?"
Eta bingung menjawab, pasalnya dia tau apa yang disembunyikan majikan tua nya.
"Eta?"
"Ya, jika ada pekerjaan tambahan, Nyonya Muda."
"Oh, ya. Terima kasih."
Lily mulai memakan cemilan sambil menunggu David. "Kau mau?"
"Tidak, Nyonya."
Lily menarik napas dalam.
"Saya akan kembali jika tidak ada lagi yang anda tanyakan."
"Tentu, Eta."
Kenyataanya, Eta menunggu Lily kembali ke kamar lewat dapur. Sayangnya, sepertinya tidak ada niatan untuk memejamkan mata. Lily malah terlelap di sofa setelah menghabiskan beberapa cemilan di sana.
Eta memgambilkan sebuah selimut dan membentangkannya di tubuh majikannya.
Sengaja Eta tidak membangunkan Lily, agar Tuan Mudanya melihat bagaimana perjuangan Lily menantinya.
"Selamat malam, Nyonya Muda."
🌹🌹🌹
Suara musik DJ masih terdengar di klab malam. Lantai dansa di lantai satu dipenuhi orang-orang yang bergoyang, berbeda dengan tempat David, dia mendapatkan meja tenang, dengan tatapan dirinya bisa melihat keadaan di bawah sana.
Luke sibuk dengan ponsel dan alkoholnya, berbeda dengan Sebastian yang bergoyang di lantai pertama. Bahkan Sebastian secara terang terangan meraba dada wanita di sana, tentu saja tanpa penolakan apapun.
"Apa yang sedang kau lakukan, Luke?"
"Hanya melihat akun calon istriku."
"Dia seorang model?"
"Seperti yang aku katakan."
Fokusnya Luke membuat David beranjak, dia merokok menuju Sebastian di lantai utama. Menepuk pundak Sebastian lalu berkata, "Berikan hiburanmu."
Saat itulah Sebastian tertawa. "Pergi ke hotel XXXXX, kamar 26, kau akan menemukan wanita berbaju biru."
David pergi setelah mendengarnya, dia memakai mobilnya dan melajukannya ke tempat yang disebutkan Sebastian.
Hawa napsu mengendalikan David, dia membuka pintu hotel itu. Dan seorang wanita blasteran sedang duduk manis di atas ranjang sambil meminum anggur.
"Hallo, Tuan…." Dia mendekat merangkak dan berhenti tepat di perut bagian bawah David. "Kau ingin sesuatu, Tuan Fernandez?"
David diam, membiarkan wanita itu membuka sleting celananya. Sampai David tiba tiba berkeinginan membuka pesan dari Oma, memperlihatkan Lily yang memakai pakaian seksi dengan wajah imutnya. David melihat jelas tekanan di wajah malu Lily, dan itu membuat dada David berdetak kencang.
"Tuan?"
Seketika David mendorong kepala wanita di depannya.
"Aku tidak menginginkanmu. Pergi."
"Milikmu sudah bangun, Tuan!"
"Pergi," ucap David membuat wanita itu ketakutan. Dia pergi dengan rasa marah.
Dan David, dia segera pergi ke kamar mandi. David merutuki kebodohannya. Namun, disadari atau tidak, selama di klab, David tidak terpancing sekali pun oleh wanita penari lantai dan tiang yang hampir tidak berpakaian.
Dan kejantanannya baru bangun ketika melihat wajah Lily.
Maka darinya, David pergi ke kamar mandi. Dia menuangkan sabun di tangan, dan menggosok kejantananny dengan itu sambil menatap foto Lily.
"Sial, Lily Sayang! Kau mengendalikanku!"
🌹🌹🌹
TBC.