
🌹VOTE🌹
Lily termenung di kamar sendirian. Malam hari dia hanya seorang diri. David pergi, mungkin dia sedang memasuki gua gua yang mengerikan beserta kelelawar.
Lily kesal, dia melempar bantal tanpa alasan. "Aaaaa! Menyebalkan," ucapnya menahan emosi.
Memang biasanya Lily terbiasa ditinggal seorang diri atau tidur sendirian seja kecil. Hanya saja sekarang hormon kehamilan mendorongnya menginginkan perhatian lebih dari sang suami. Dia ingin David berada di sisinya setiap saat, mengusap perutnya dan memanjanya.
Keheningan itu membuat Lily ingin keluar.
"Nyonya, anda mau ke mana?"
"Saya mau keluar sebentar, Mang."
"Ini sudah malam, Nyonya. Tuan berpesan pada saya untuk menjaga dan memastikan Nyonya selalu dalam villa."
"Deket kok, Mang. Itu di warung pinggir sawah, lagian kan keliatan juga dari sini."
"Saya ikutin tidak apa, Nyonya?"
"Terserah Emang saja, tapi serius saya sedang malas berdekatan dengan manusia. Emang agak jauhan ya."
"Oh, baik, Nyonya."
Memakai pakaian hangat rajut, Lily keluar dari villa menuju warung gorengan dekat sawah. Tidak ada kendaraan yang melewati jalan raya di ujung sana, membuat sekitar terlihat sangat hitam pekat.
Lily menapaki jalan setapak menuju warung itu.
"Ada apa aja, Bu?"
"Ada gorengan, Nyonya. Ini pisangnya lagi digoreng."
"Pisang apa, Bu?"
"Pisang ubi cilembu, Nyonya. Asli ini mah manis pisan kaya Nyonya."
Lily terkekeh. "Yaudah saya mau empat ya, Bu. Sambil nunggu tolong buatin bajigur ya, jangan pake cangkaleng."
"Baik, Nyonya."
Lily menerima segelas bajigur hangat, yang mengingatkannya akan kampung halaman.
"Nyonya yang punya tempat ini kan?"
"Bukan, Bu. Ini punya suami saya."
"Sama aja, Nya. Apa yang suami punya, itu milik istri."
"Ah, Ibu bisa aja," ucap Lily sedikit terhibur.
"Berapa bulan kehamilannya, Nyonya?"
"Empat, Bu."
"Gusti meuni ageung gening?"
"Dua, Bu. Bayinya kembar."
"Gusti nu maha Suci, meuni kabeneran."
Dan saat bercengkrama dengan pemilik warung, ada seorang gadis desa memakai sepeda datang.
"Mpok, mau beli ini," ucapnya menyodorkan kertas.
"Apa atuh inimah, Na? Kamu diajaili lagi sama ibu tiri kamu!"
Lily yang penasaran tidak sengaja melihat tulisan bertuliska, *Si bodoh Nana yang tidak bisa membaca. Ha ha ha ha.*
Gadis itu terlihat sedih, dia duduk di dekat Lily.
"Mau Mbok buatin bajigur?"
"Iya, Mbok." Lalu menatap Lily yang ada di sampingnya. "Ikut duduk ya, Teh."
"Panggil saja Nana, Teh. Nama saya Nana."
"Lily," jawab Lily menjabat tangan.
Wajah gadis desa itu tampak lesu, apalagi saat pemilik warung berkata, "Malangnya nasibmu, Na. Punya Bapak penyakitan, Ibu tiri jahat, sekolah kamu enggak pernah. Gustiiiii, membaca tidak bisa, bisanya cuma nanam padi di sawah. Era atuh, wajah cantik tidak bisa apa apa mah, Na."
"Ya terus Nana harus bagaimana, Mbok? Sekolah SD gitu? Umur udah delapan belas tahun juga. Lagian buat apa sekolah."
Lily yang sedari tadi mendengarkan mendapatkan notifikasi pesan.Â
Kak Radit.
19.04 : Aku akan menikah bulan depan. Bersama Mega.
Lily terdiam. Mega? Bukankah itu adiknya?
(P.S : Penasaran cerita Radit? klik profilku dan temukan cerita dengan judul "Kakakku, Suamiku.")
🌹🌹🌹
CHINA.
Megan dan Dena tergesa gesa mencari alamat yang dituju. Megan sebenarnya enggan melakukan ini lagi, tapi dia tidak mendapat pekerjaan bagus di Amerika. Apalagi keuangannya menurun, Megan akan mati dalam hitungan tahun.
"Dimana?"
"Beberapa kilo meter lagi," ucap Megan menatap Google Maps di ponsel.
Dena berkendara lebih cepat. "Sial, masih lama."
"Dulu aku merasa mengerti kau melakukan ini, karena Lily adalah orang yang tidak berpendidikan. Tapi aku melihat sisi yang lain sekarang."
"Baiklah, aku ingin menguasai harta David."
"Hello, dia anakmu."
"Ya, maka darinya dia harus mengabdi padaku, bukan pada neneknya si tua bangka. Kau tahu? David memesan area pemakanam keluarga, aku tidak masuk daftar. Dia mendahulukan wanita tua itu. Dia mempengaruhi David."
"Mungkin salahmu karena meninggalkannya bukan?"
"Diamlah! Shut up!"
Megan diam seketika, dia memilih memejamkan mata selama sisa perjalanan mencari alamat yang dituju. Ternyata tujuan mereka adalah pedesaan, membuatnya kesulitan bertemu orang.
Dena menyetir sendirian, dia berbicara dan mengumpat mengeluarkan kekesalannya. Dia ingin rencananya berhasil, Dena meninggalkan anak anaknya di rumah demi ini.
Dan saat merasa sampai di rumah yang dituju, Dena menatap kembali google maps. "Ini bukan? Rumah peternak itu?"
Megan diam karena tertidur.
"Bangun!"
"Shit! Ada apa?"
"Kita sampai," ucap Dena. "Benarkan?"
"Aku rasa benar."
Keduanya keluar, dan melangkah menuju rumah kecil yang terlihat manis itu.
Megan mengetuk pintu atas desakan Dena. Dan keluarlah seorang wanita berwajah khas Indonesia. Membuat Dena tersenyum yakin.
"Can i help you?"
"Aku yakin kau bisa bahasa Indonesia," ucap Dena tersenyum. "Kau orangtua Lily Kristina. Dan aku perlu bantuanmu agar anakmu lepas dari anakku."
🌹🌹🌹
TBC