Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Masih masalah kepala



🌹VOTEEE YE GAISSSHH🌹


Tuan Chen menatap putrinya dengan senyuman di wajahnya. "Maaf, seharusnya aku tidak datang."


"Apa yang Ayah katakan? Kenapa minta maaf?" Tanya Lily yang menyimpan nampan berisi kue dan teh di atas meja. Lily ikut duduk di sofa bersebelahan dengan ayahnya.


Tuan Chen berkata jujur, "Ibumu melarangku menemuimu lagi, dia bilang aku tidak boleh mengganggu kehidupanmu. Tapi aku merindukanmu dan ingin tau, jadi memaksa datang."


Lily mengerutkan keningnya, ternyata itu alasan kedua orangtuanya tidak menghubunginya lagi. "Kalian tidak menggangguku, aku bahagia jika kalian datang ke sini."


"Lily, dosa kami tidak bisa dideksripsikan, bahkan gunung pun lebih tinggi. Aku dan Ibumu membuangmu, kenapa memaafkan?"


"Itu membuatku lebih baik, Ayah. Jika aku dendam pun hanya akan berdampak pada kesehatan."


Saat itulah tatapan Tuan Chen turun ke perut anaknya. Di sana asa calon cucunya yang lain. "Berapa bulan?"


"Ini bulan keempat."


"Selamat, aku dengar besok kalian akan ke Thailand."


"Tidak, ka--"


"Pergi saja, aku juga akan pulang besok."


"Secepat ini?" Tanya Lily kecewa.


Lily bahkan meminta secara pribadi pada David untuk mengundurkan jadwal jika ayahnya akan tinggal sebentar di sini.


"Ibumu sendirian di sana, aku akan membujuknya datang ke sini."


"Benarkah?"


Tuan Chen mengangguk. "Ngomong ngomong, ke mana suamimu? Masih mabuk?"


"Ya…, dia mengalami sindrom kehamilan. Jadi muntah muntah melihat orang tanpa rambut."


"Astaga," ucap Tuan Chen memegang kepalanya sendiri. "Ini alasannya?"


"Jangan khawatir, Ayah. Dia baik baik saja di kamar sedang tidur."


"Separah itu mabuknya?"


"Bahkan sampai di infus."


"Astaga, bagaimana dengan rambutku ini?"


"Tidak apa, dia akan berada di kamar."


Lalu tidak lama kemudian terdengar teriakan, "Koh Chen! Ayo main!"


Ares datang dan langsung memegang tangan kakeknya, yang mana membuat Tuan Chen tertawa tidak percaya. Dia mencium pipi cucunya. "Kau seperti ayahmu."


"Lets go main di atas."


Lily tersenyum melihat ayahnya dibawa pergi oleh anak anaknya ke lantai dua.


Sementara itu, dia mengecek David di kamar.


"David?"


"Sayang….. aku sekarat," ucap David yang baru keluar dari kamar mandi.


Lily segera mendekat dan membantu suaminya untuk duduk.


"Kepalanya terbayang di benakku. Bagaimana ini?"


"Ingin air jahe?"


"Ingin kau bersamaku," ucap David menahan Lily pergi, dia membawa istrinya untuk ikut berbaring dan memeluknya. "Aku sudah memesan wig pada Holland, tolong buat Tuan Chen memakainya."


"Baiklah."


"Aku tidak kuat, tubuhku rasanya lemah. Aku butuh ciuman."


"A.. apa?"


🌹🌹🌹


"Pesanan Tuan David."


"Baik." Nina menerimanya, dia segera menyerahkannya pada Lily yang baru saja turun dari lantai dua. "Ini pesanan Tuan David dari Holland, Nyonya."


"Terima kasih."


Lily mengerutkan keningnya saat melihat bagian dalamnya. Itu wig yang berwarna warni.


"David, ini dari Holland."


David yang sedang berbaring itu membuka matanya perlahan. "Coba cek."


"Isinya wig badut."


"Holland bilang tidak ada lagi. Bagaimana ini? Apa sopan?"


"Aku akan bicara dengannya."


"Terima kasih, Sayang."


"Ayahku bilang dia ingin menengok Oma. Bagaimana?"


"Ya, kita berangkat bersama saja. Besok kita akan berangkat pagi."


Lily mengangguk, dia mencium kening suaminya malu malu sebelum meninggalkannya di sana.


David sendiri kembali melamun, dia mengingat perempuan yang menabraknya kemarin mirip dengan Emma mantan kekasih sekaligus cinta pertamanya. Satu satunya perempuan yang mengajarkan David semuanya, yang menjadi pertama kali untuk David sendiri.


Cinta pertama, pacar pertama, dan bahkan ciuman pertama. David merasa terganggu dengan ingatan itu, dia berharap dirinya salah melihat.


"Daddy!" Teriak Ares masuk. "Ayo ke rumah Oma."


"Baiklah, bawakan Daddy jaket tolong."


"Oke," ucap Ares melakukannya.


Dia mengambil mantel yang tergeletak di kursi dan memberikannya pada David. "Lets go."


"Bagaimana dengan Koh Chen?"


"Dia sudah memakai rambut."


Dan benar saja. Saat mereka keluar, di sana ada Tuan Chen sedang menggendong Athena. David ingin tertawa terbahak dengan rambut warna warni di kepala mertuanya. "Maaf membuatmu memakai itu."


"Tidak apa, aku tidak keberatan."


Mereka pergi ke rumah Oma dengan mobil yang berbeda. Tuan Chen dengan para cucunya, sementara David mengendarai dengan Lily di sampingnya.


Dia melihat perut Lily. "Aku pikir sekarang satu biji."


"Huh? Apanya?"


"Kecebongnya," ucap David menunjuk perut dengan tatapan. "Dia sendirian, tidak dua. Aku rasa ini karena kita kurang giat melakukannya, Sayang."


"A.. apa?" Lily mengerjapkan matanya tidak percaya. Satu kali bertemu saja mereka melakukannya berjam jam. "David, apakah kita akan berangkat besok?"


"Ya, kita akan berangkat besok. Tuan Chen bilang tidak keberatan."


David dan Lily sampai lebih dulu, mereka menunggu Nina yang membawa mertua dan anak anaknya. 


Sebagai tatakrama, David mengetuk pintu dan tidak asal masuk. Dia berprilaku seperti tamu pada umumnya.


Dan saat Oma membukanya, Tuan Chen adalah yang pertama kali dilihat dengan rambutnya yang warna warni. "Astaga dragon!"


Di saat bersamaan, angin berhembus kencang membuat wig itu jatuh. Saat itu pula David berbalik dan berlari muntah.


Oma semakin terkejut. "Astaga! Dragon ball! Bulat seperti bola."


🌹🌹🌹


TBC