
🌹VOTE DONG GAISS, RINDU GAK?🌹
David menarik napas dalam sebelum masuk ke apartemennya. "Lily Sayang, aku pulang."
Tidak ada jawaban, apartemen terlihat begitu sepi. "Sayang?!"
Masih belum ada jawaban. "Lily? Sayang?"
"Sayang sayang, sayang burung matamu," ucap Oma yang turun dari lantai dua. "Kenapa kau pulang terlambat, apa matamu mulai rabun tidak bisa melihat jam dengan baik?"
David berdecak malas, dia pergi ke dapur untuk mengambil soda.
"David! Matamu rabun kan? Atau kau habis mencabut uban mu di barber shop seperti biasa?"
"Oma, aku ke barber shop bukan untuk mencabut uban, tapi untuk mencabut rambut yang membuatku gatal," ucap David tidak terima dengan kejadia dua tahun yang lalu. "Aku belum beruban. Aku masih muda."
"Lily yang muda, kau yang tua."
"Astaga," gumam David memicingkan matanya menatap bibir Oma yang masih bergerak menyebutnya sebagai bule tengik. "Oma…"
"Apa?!"
"Kenapa Oma belum pulang?"
"Bagaimana Oma bisa pulang di saat istrimu tidak ada temannya, dia terus menanyakan keberadaanmu. Kau tidak bisa dihubungi, Lily sangat gelisah, tengik."
"Ponselnya mati," ucap David tidak ingin disalahkan.
"Oh, mati. Apa kau sudah menguburnya?"
David kembali menggeleng sambil berdecak tidak kuat melawan Oma. "Oma, bagaimana kalau Oma membangun Lambe yang lain?"
"Lambe apa huh?! Lambe Jeding? Lambe Dower? Lambe Manyun? Atau Tidak ada Lambe?"
David tertawa. "Kalau tidak ada lambe Oma pasti tidak bisa menjahili David."
"Dasar bule tua," gumam Oma. "Temui istrimu, dia sangat mengkhawatirkanmu."
David menghabiskan sodanya. Dia bergerak untuk memeluk Oma. "Hati hati di jalan. Pengamen sedang marak, jangan sampai Oma kebingungan akan joged lagu yang mana."
"Dasar tengik."
Oma pergi setelah kedatangan David. Yang membuat David segera datang ke kamar dan melihat istrinya sedang berbaring di sana.
"Sayang…. Aku pulang…."
Lily menegok, dia menarik napas dalam.
"Ponselmu mati, David. Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak memberitahu akan pulang terlambat?"
"Eum… ponselku terinjak Oma."
"Huh?" Lily bangkit untuk membantu melepaskan jasnya. "Terinjak bagaimana? Oma daritadi ada di sini, David."
"Eum…." David ragu, dia tidak pandai berbohong di depan Lily. Namun, ini adalah kejutan besar. "Aku bermimpi Oma menginjaku, lalu ponselku jatuh lalu mati, Sayang."
Lily tidak bisa berkata kata, ini konyol, tapi Lily memilih diam.
"Apa…. Kau merindukanku sayang? Kau pasti sangat mengkhawatirkanku. Kau tidak bisa hidup tanpaku, aku adalah napasmu. Benat begitu, Sayang? Kau pasti tidak bisa napas, seperti asma? Tapi ini asma cinta."
"A… aku khwatir, bukan memiliki gejala asma."
David tersenyum, dia malah menarik Lily ke dalam pelukannya. "Jangan khawatir, Sayang. Obatmu ada di sini, jangan sesak lagi. Udaramu telah datang. Si kaya dan tampan ini milikmu, jangan khawatir."
🌹🌹🌹
David bergegas menelpon di walk in closet. "Oma dimana?"
"Oma baru bangun."
"Bagaimana bisa baru bangun, Oma? David akan pergi ke tempat pembangunan. Oma datang cepat, Lily harus dialihkan perhatiannya."
Terdengar di sana Oma yang menguap. "Oma! Jangan tidur lagi."
"Astaga kau berisik seperti kecoa!"
"Kecoa tidak berbunyi, bagaimana bisa berisik?" Tanya David kesal.
David diam sesaat. "Benarkah?"
"Tentu tidak, cuci tengik. Gelarmu banyak tapi sering ditipu."
"Oma!"
"Oma akan datang ke sana."
"David…..?" Panggil istrinya.
David segera menutup telpon saat Lily memanggil. Dia berdehem. "Iya, Sayang. Ada apa?"
"Kau sudah siap? Akan pergi sekarang?"
"Iya, ada sesuatu yang belum aku selesaikan."
Lily terlihat sedih, semalam saja dia tidak mendapatkan pelukan dari David seutuhnya. Pria itu sering bergerak menjauh untuk menelpon.
"Sayang… aku akan pulang cepat hari ini."
Lily masih diam, tapi dia mengangguk.
"Aku akan kembali padamu, Sayang. Jangan khawatir suamimu yang tampan ini akan pergi begitu saja. Aku setia, tampan dan kaya."
"Baiklah, kau boleh pergi."
"Berikan aku ciuman."
Lily berjinjit hingga bisa mencapai bibir David. "Biarkan aku mengantarkan makan siang, aku bosan di sini terus."
David terpaksa mengangguk. "Tentu sayangku."
Dan saat itulah Oma datang dengan menekan bel. Lily segera turun setelah dicium David berulang, dia tersenyum saat melihat Oma datang bersama Eta.
"Oma, tidak perlu kemari jika Oma lelah. Ini masih pagi. Lily bisa datang ke rumah Oma untuk senam."
"Tidak, biar Oma yang datang. Eta, siapkan sarapan."
"Baik, Nyonya Besar."
Oma menarik Lily untuk duduk di sofa. "Lila…"
"Ya, Oma? Ada apa? Oma kelihatan gelisah?"
"Sebenarnya…Oma sudah malas memakai gigi palsu. Jadi Oma akan membukanya, sekarang Oma akan jujur pada David. Bagaimana?"
Lily mengangguk kaku sebagai jawaban.
"Bagus. Oma akan jujur, soalnya jika Oma minum sesuatu yang berserat dan mengandung minyak, giginya bergoyang. Rasanya ada gempa di dalam mulut Oma."
Lily tersenyum ragu. "Oma bisa me….. apa yang Oma lakukan?"
Lily terkejut saat Oma mengeluarkan gigi itu dari mulutnya.
Dan Oma malah tersenyum. "Untuk diperlihatkan pada David."
Dan saat itulah David turun sambil membenarkan letak dasinya.
Sampai mata Oma melihat David, dia mendekat. "David… lihat ini," ucap Oma.
Saat David melihat….., "Aaaakkhhhh! Apa itu! Gigi Oma copot!"
David histeris.
"Dengarkan Oma dul--"
"Aaaaakhhhhhh! Apa yang Oma makan sehingga gigi Oma copot semua?! Semur batu?!"
David melangkah mundur saat Oma mendekat dengan giginya. "Aaakkhhh! Aku tidak mau makan semur batu! Tidaak! Oma ompong!"
🌹🌹🌹
TBC.