
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Galuh berjalan begitu saja melewati Ares dan gerombolannya, membuat Athena menghela napas kemudian mengikuti sosok itu.
“Heh, kau mau kemana?!” teriak Ares pada sang adik.
“Masuk kelas.”
“Kenapa bersama dengannya?!”
“Kami sekelas!”
“Iya juga,” gumam Ares baru mengingat.
Yang mana membuat Cantika speechless dengan Ares, tapi hal itu tidak mengurangi kekaguman Cantika terhadap sosok di depannya itu.
“Kapten, bisa kami Kembali ke kelas sekarang?”
“Ya, kembalilah ke kelas kalian, dan belajarlah dengan giat. Sudah sana.”
Mereka yang ikut menghadang Galuh adalah pasukan basket, dimana Samuel yang memanggil mereka semua lewat Group Chat atas perintah Ares. Saat semuanya mulai bubar, di sana mulai tertinggal Ares yang masih menggenggam tangan Cantika, bersama dengan Samuel yang masih menatap heran pada pasangan baru itu.
“Lu ngapain masih di sana?” tanya Ares menyadari keberadaan Samuel.
“Lu jangan lupa, Ar, ada Pr yang belum kelar. Cantika, bilang sama Ares buat berhenti nyontek sama gue ya,” ucapnya sambil melangkah pergi.
Meninggalkan Cantika dan Ares yang masih saling menggenggam di sana. “Ares, kau masih sering menyontek?”
“Kau dari mana? Kenapa bisa bersama dengan Galuh dan Athena? Kau tau, aku mendengar laporan dari bibi kantin kalau kau bersama Athena dibawa oleh Galuh,” ucap Ares khawatir. Dia menjadi menggenggam kedua tangan Cantika.
“Um, sebelumnya aku ke kamar mandi, lalu bertemu dengan Laura.”
“Si ular itu?!”
“Ares, jangan seperti itu.”
“Aku tidak suka padanya, apa dia berbuat sesuatu padamu? Ada yang sakit? Apa dia menyakitimu?” tanya Ares membulak balik tubuh Cantika, memastikan tidak ada goresan di sana.
“Tidak ada, dia hanya memberiku lollipop.” Cantika mengeluarkannya dari saku rok.
Dan Ares mengambilnya, dia menatap lollipop itu heran. “Jangan dimakan ya.”
“Kenapa?”
Saat Ares hendak menjawab, seseorang lebih dulu berdehem. Membuat keduanya menoleh dan tampak kaget seketika.
“Guru BK!” teriak Ares spontan.
“Panggil saya dengan sopan, Ares!”
Padahal kenyataanya, Ares tidak pernah tau nama guru itu. “Kami akan ke kelas kok, Pak. Jangan khawatir.”
“Cantika,” ucap guru itu.
Guru BK itu mengerutkan keningnya. “Bapak malas sama kamu, bapak mau ngomong sama Cantika. Ayok.”
“Gak boleh!” ares merentangkan tangannya di depan Cantika. “Hadapi saya dulu, Pak.”
“Kamu ya, kepala sekolah ingin bicara dengan Cantika. Minggir, jangan dramatis,” ucap guru itu menggeser Ares.
Membuat Ares bergegas menatap Cantika dan berkata, “Jangan khawatir, aku akan melindungimu.”
🌹🌹🌹🌹
Dan disinilah cantika sekarang, duduk berhadapan dengan sang kepala sekolah di ruangan BK. Jangan lupakan sang guru BK killer yang ditakuti semua orang; sedang mengawasi Cantika.
“Ada apa, pak?”
“Jadi, Cantika, bapak dengar kamu itu pernah bermain piano. Benar?”
“Um, benar, Pak. Itu di sekolah saya yang dulu.”
“Ada perlombaan antar sekolah, apa kamu mau mewakilinya? Kamu akan dibimbing oleh guru seni kami.”
Cantika kaget, padahal banyak orang yang lebih ahli darinya. “Tapi kemampuan saya sudah tidak sebagus itu, Pak.”
“Ah, bapak tidak meragukannya lagi. Bagaimana, kamu mau tidak?”
Ada satu titik dimana Cantika benar benar takut bermain lagi, tentang memorinya. Ingatan indah itu bagaikan membunuhnya, mengingatkan dirinya pada kebahagiaan keluarganya yang tidak akan pernah terulang lagi.
“Bisa bapak beri saya waktu?”
“Besok jawaban final ya?”
“Baik, Pak.”
“Kembali ke kelas kamu, jangan pacarana mulu sama Ares ya.”
Cantika terkekeh, dia membungkukan tubuhnya sebelum melangkah keluar. dan tanpa disadari oleh Cantika, ada sosok yang mengawasinya sejak tadi dari balik celah pintu. Dan sosok itu melihat perubahan raut wajah sang kekasih, dimana dia tau apa penyebabnya.Â
Ares tentu mulai mencari tau, tentang keluarga Cantika yang bangkrut.
“Ares astaga!” teriak Cantika kaget melihat keberadaan Ares di luar pintu.
Sosok kekasihnya itu tersenyum dan menarik Cantika ke dalam pelukannya. “Masa depanmu cerah, Centini. Cerah bersama denganku, pangeran ini akan membuatkan sinar matahari untukmu.”
“Ares, lepaskan, ad—”
“Ekhem!”
“Alamak lupa,” gumam Ares melihat kepala sekolah dan guru Bk di sana, dia melepaskan pelan pelukannya. “Pagi, pak.”
“Cantika Kembali ke kelas, tapi kamu masuk ke sini Ares. Sini!”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE