
🌹VOTEEE YHEEE GHAISS🌹
David menatap tubuhnya dengan rasa kasihan, cat cat itu menempel dengan sempurna. Sulit sekali untuk dihilangkan, bahkan jika dirinya berendam di air hangat.
Cat lukisan itu dipesan khusus oleh David untuk anak anaknya sehingga kualitas terbaik. Namun, jika kena tubuh harus menggunakan cairan khusus untuk menghilangkannya.
Lily yang selesai menyiapkan pakaian David itu segera ke dalam kamar mandi untuk melihat suaminya.
"Belum selesai?"
"Catnya belum hilang, Sayang," ucap David mengerucutkan bibirnya. "Bagaimana ini?"
"Bukankah kau bilang perlu cat khusus?" Tanya Lily yang mengambil sabun.
Dia duduk di samping suaminya lalu mencoba menghilangkan noda itu di wajah suaminya.
"Astaga, ini benar benar sulit."
“Bagaimana ini, Sayang?”
“Tunggu saja Holland, apa itu sulit?”
“Cat khusunya tidak ada, harus memesan dulu. Anak anak menghabiskannya untuk memandikan kelinci yang terkena kotoran debu, kau tau pembersih itu sangatlah mahal.”
Lily berdecak. “Itu salahmu, kenapa selalu memberikan yang mahal? Cat air yang murah juga banyak.”
“Yang dijual dengan harga sepuluh ribu tiga?”
“Tidak semurah itu, David. Kau harus memulai menghemat untuk anak anak.”
David terkekeh, pikirnya Lily meremehkannya dalam masalah uang.
“Kau tidak berfikir aku akan miskin atau bangkrut kan, Sayang?”
“Tidak, aku hanya berfikir kau harus lebih berhemat. Supaya saat dewasa nanti mereka tidak manja. Memang bagus memberikan yang terbaik untuk anak anak, tapi mereka juga harus belajar menghargai apa artinya uang, David. Tidak ada memboros, membeli apapun yang mereka inginkan atau memanjakan dengan membelanjakan hal hal berguna.”
David diam menunduk, beginilah jika sudah menjadi suami dengan istri yang jarang marah. Jika sekalinya marah, dia akan memberikan petuah cukup banyak.
“Apa kau paham, Sayang?” tanya Lily lembut yang membuat senyum David melebar.
Dia mengadahkan kepalanya. “Aku paham, bisakah kau memanggilku Sayang setiap waktunya.”
“Kita lihat nanti, aku akan urus anak anak dulu ya, Oma akan datang.”
“bagaimana denganku? Siapa yang akan memandikan aku?”
“baiklah, aku akan memandikanmu. Setelah itu kau memandikan anak anak, bagaimana?”
Seketika David menggeleng. “Tidak, aku bisa mandi sendiri.”
Lily tersenyum dan meninggalkan suaminya yang masih mencoba menghilangkan noda tapi sia sia.
Akhirnya David memilih membiarkan saja noda itu, dia akan menunggu Holland menemukan dan membeli pembersihnya.
David keluar kamar dan menatap dirinya sendiri dalam cermin, wajahnya sangat buruk.Â
“Jika saja ada jambang, pasti tidak kelihatan,” ucap David mengingat dirinya mencukur jambangnya sendiri.
Sampai dia melihat ada rambut palsu milik anak anak di ujung pintu, David mengambilnya.
Dia tersenyum. “Aku bisa membuat jambang sendiri, jadi aku tetap tampan. Apalagi si sialaaaaaan Sebastian akan datang, aku tidak boleh terlihat bernoda seperti ini.”
🌹🌹🌹
Oma membeli semua makanan untuk cicitnya, dia tersenyum bahagia di sepanjang perjalanan menuju ke rumah David. Dia ditahan beberapa saat oleh cucunya untuk tidak datang langsung dan memberi mereka waktu berduaan, hingga akhirnya baru terlaksana sekarang.
Dalam mobil, Oma menatap ponselnya terus menerus sambil tersenyum, yang mana membuat Eta ikut tersenyum mengira majikannya sedang menatap foto cicit cicitnya yang dia rindukan.
“Apa anda sangat merindukan mereka, Nyonya Besar?”
“tentu saja, aku merindukan mereka,” jawab Oma tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel dengan wajah senyam senyum.
Eta terkekeh, yang mana membuat Oma menatap. “Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”
“Maaf, Nyonya Besar. Tapi melihat anda tersenyum bahagia sambil menatap ponsel sangat membuktikan kalau anda merindukan cicit cicit anda.”
“Bukankah anda sedang melihat foto Tuan Ares dan Nona Athena?”
“Bukan,” decak Oma. “Aku sedang melihat malam satu suro dari Suzanna.”
Eta terkejut. “Itu film horror, kenapa anda tertawa?”
“Apa tidak boleh? Aku suka pemeran pria di sini, sangat tampan.”
“Siapa?”
“Aku tidak tau, tapi tertulis lawan main Suzanna kebanyakan Clift Sangrai.”
“Clift Sangra, Nyonya.”
“Berhenti merevisi, kau seperti editor saja. Biarkan aku menonton.”
“Baik, Nyonya.”
Dan sisa perjalanan diisi oleh kesunyian mengingat Oma menonton terus. Anehnya, setiap suara adegan horror dan mengerikan, Oma malah tertawa.
Hingga berhenti saat mobil juga berhenti. Oma segera turun dan merentangkan tangannya saat cicitnya keluar rumah.
“Omaaaaa!”
“Ohhh yeeeee, Oma disini.”
Mereka berdua memeluk Oma erat.
“Apa Oma membawa sesuatu?”
“Ya, Oma membawa Eta.”
“Oma!”
“Ayo masuk dulu sebelum Mommy kalian marah, di luar dingin.”
Saat masuk, Lily mendekat dan memeluk Oma.
“Lila, kau gendutan.”
Lily diam, bagaimana dia tidak gendut karena selama di Thailand kerjaannya hanya makan saja.
“Dimana David?”
Itu dia, Lily juga belum menemui suaminya lagi yang sedari tadi di kamar. Karena ribut dengan anak anak, Lily tidak sempat melihat ke dalam kamar lagi. Tapi sebelumnya Davis berteriak meminta izin menggunting rambut palsu anak anak.
“Dia di kamar Oma, sebentar aku panggilkan.”
“Tidak usah.” Oma menahan. “Biar Oma saja.”
“Aku tidak apa apa, Oma.”
“Bukan begitu, Oma rindu dengan the madu buatanmu. Buatkan itu saja untuk Oma ya, dan Oma akan melihat David.”
Sementara itu, di dalam kamar, David menggunakan lem kecantikan milik istrinya untuk membuat jambang tiruan.
Di luar sana, Oma membuka pintu tanpa mengetuk. Hal yang pertama dia lihat adalah punggung David yang membelakangi.
“David?”
David berbalik. “Ya?”
“Aaaaaaaastaga! Lilaaaaa! Kenapa ada Sun Go Khong di sini?!” Oma yang terkejut bergegas lari keluar.
“Oma! Tunggu! Ini aku David!”
“Lilaaaa! Ada Sun Go Kong di kamarmu! Lihat di sana!”
🌹🌹🌹🌹
TBC