
🌹VOTEEE YA GAISSS🌹
Lily tertawa terbahak mendengar cerita David tentang saran Sebastian yang menyuruhnya melakukan permintaan maaf dengan hal semacam itu.
"Berhenti tertawa, Sayang."
"Itu sangat lucu, bagaimana wajah Eta?"
"Dia terkejut, bingung, dan itu membuatku sedikit malas bertemu dengannya. Ah…., Itu bukan hari yang baik."
Lily tersenyum saat suaminya mengusap punggungnya halus dengan busa sabun. Kemudian kembali menariknya dalam pelukam dengan memberikan sebuah kecupan di puncak kepala. "Terima kasih, Sayang."
"Untuk apa?"
"Untuk melahirkan anak anakku, dan maaf aku tidak bisa berada di sampingmu."
Lily tersenyum memperlihatkan giginya yang berjajar rapi. "Kau akan pergi lagi? Holland bilang sidangnya belum selesai."
"Ya…., Seharusnya aku pergi lagi."
Dan kalimat itu membuat Lily down seketika, dia cemberut sambil memainkaa tangan David yang penuh dengan busa. "Kau pergi?"
"Anak Mama yang ada di sana bilang padaku akan mengurusnya. Jadi aku tidak usah lagi menjadi wali darinya."
"Jadi, kau tidak akan pergi?"
"Tidak, Sayang."
"Tidak bohong?"
David terkekeh. Dia beberapa kali mencium puncak kepala istrinya. "Tidak, Sayang."
Lily tersenyum senang, dia menggenggam tangan suaminya. "Dan, David…."
"Ya?"
"Bisakah Nina kembali bekerja? Meski ada dua pengasuh baru aku tetap butuh Nina sebagai temanku. Kami sudah akrab."
David menggangguk. "Tentu saja, aku akan menghubunginya. Tapi tetap saja, dia harus datang saat aku tidak ada. Jika aku ada tidak harus memanggilnya."
"Bagaimana dengan para pengasuh? Oma bilang kau meminta Oma untuk memperpanjangnya sampai malam."
"Hanya sampai matahari terbenam, Sayang. Aku tahu betapa melelahkannya mengurus bayi. Melihat Oma mengurusku saja membuatnya pegal. Dan ini dua, aku ingin tetap menjaga waktumu untuk diri sendiri."
Lily sangat menyukai jika David pengertian, baik dan membuatnya bahagia. Meksipun David agak menyebalkan karena selalu menyelipkan kenarsisannya, tapi Lily bahagia David ada di sampingnya.
"Karena aku baik, tampan dan juga kaya, maka aku tidak akan meminta membuat adonan denganmu sampai Baby Athena dan Baby Ares mulai makan."
"Di bulan keenam?"
"Iya."
"Itu lima bulan lagi. Kau tidak akan mendapatkannya dalam hampir setengah tahun, David," gumam Lily pelan.
Dia takut suaminya itu akan meminta saat ini. Tapi Lily juga ingin jarak liburnya terlalu lama, bisa bisa saat membuat adonan terjadi, David akan bertahan lima jam seperti sebelumnya.
"Tidak apa, Sayang. Aku ini gagah dan tampan, jadi saat sudah lewat lima bulan, kita bisa membuat adonan lima jam."
Dan itu dia kalimat yang membuat Lily menelan ludahnya kasar. Dia berdehem ketika mandi usai dan David memakaikan handuk padanya.
Ada tatapab membara pada manik David melihat dada istrinya yang membengkak akibat sedang menyusui.
"Ada apa, David?"
"Dadamu sangat besar, sungguh diluar dugaan."
Dan itu membuat pipi Lily memerah, dia segera menutup dadanya dengan handui kimono.
"Aku akan memilih pakaian untukmu."
"Tunggu, Sayang," ucap David menahan tangan istrinya. "Satu ciuman saja."
"Hah?"
"Ehem."
Lily melotot tidak percaya, deheman David menjadi sebuah pertanda kalau matanya sedang tertutup kabut gairah.
"David, se--"
"Ehem."
Lily masih diam.
"Ehem."
"Ehem."
CUP.
CUP.
CUP.
CUP.
"Sudah."
Mode gawat kembali menyala saat David menarik pinggang Lily.
"Da…. David."
"Bibirmu manis," ucapnya kemudian meraup bibir kenyal yang berwarna merah muda yang semanis madu milik istrinya.
🌹🌹🌹
Oma berdecak saat melihat jam makan malam terus berputar.
"Nyonya Besar," ucap seorang pengasuh yang jam kerjanya sudah habis. "Boleh kami pulang sekarang?"
"Diamlah dan urus cicit cicitku, aku akan menambahkan gaji kalian nanti."
"Baik, Nyonya Besar," ucapnya pergi kembali ke dalam ruangan bayi.
Oma menatap makan malam di depannya yang sudah siap sejak tadi. Eta juga tidak lagi memasak, dia berdiri mematung di belakang majikannya yang frustasi menunggu kedatangan Lily dan David.
"Apa anda ingin air madu, Nyonya Besar?"
"Apa kau pikir mereka membuat adonan, Eta?"
"Saya pikir tidak, Nyonya Besar. Tuan Muda tahu bagaimana keadaan Nyonya Muda."
"Lalu kenapa mereka lama?"
"Mungkin Tuan ingin mengatakan isi hatinya yang sempat salah tujuan tadi."
Oma diam ingat apa yang terjadi. "Hei, Eta, aku pikir David sedang mengatakan isi hatinya yang sempat salah tujuan tadi."
Eta yang sudah biasa dengan semua sikap majikannya hanya tersenyum.
"Dan, Eta."
"Ya, Nyonya Besar?"
"Beritahu Marylin saat akhir pekan nanti ke sini. Dia harus merawat Lily."
"Baik, Nyonya Besar. Maaf, tapi bolehkah saya tau sesuatu yang anda rencanakan? Apa akan ada sebuah acara?"
Eta menanyakan itu bukan karena dia tidak sopan, melainkan untuk bersiap siap dari sekarang. Oma seringkali membuat permintaan dadakan yang aneh aneh, dan itu membuat Eta kewalahan.
"Sebenarnya kau tidak boleh tau, tapi karena kau memaksa dan mendesakku, maka aku akan mengatakannya," ucap Oma sambil berdecak. "Jadi, beberapa minggu lagi adalah ulang tahun mertuaku. Itu bertepatan dengan ulang tahun perusahaan. Jadi bagus jika Ares dan Athena diperkenalkan di sana, supaya dunia tahu siapa yang akan meneruskan nama Fernandez."
"Ide yang sangat bagus, Nyonya Besar. Tapi bukankah kita harus mendiskusikannya dengan Tuan Muda?"
"Dia akan mengizinkan," gumam Oma.
Dan saat David juga Lily keluar, Oma memasang wajah masam. "Apa kalian tenggelam karena dikejar tentara nazi? Atau mungkin kalian terperosot ke negeri pohon bicara saat alien datang?"
Lily hanya diam, berbeda dengan David yang membalas, "Oma tidak tahu daun muda."
"Daun muda? Kau menganggap dirimu daun muda? Hei tayo, kau ini daun tua! Bahkan daunmu sudah banyak dimakan ulat."
"Tidak, aku masih muda," ucap David menyangkal.
"Oh benarkah? Lalu kenapa kau menyatakan cinta pada Eta?"
David diam sesaat, dia bahkan tidak ingin menatap Eta yang ada di belakang Oma. "Itu kesalahan. Mana aku tau Oma dan Eta ada di sini."
"Daun muda bisa mendengar dengan baik suara langkah pasangannya. Sedangkan kau tidak. Syukur yang membuka Eta, bagaimana jika yang membukanya dedemit? Sudah akui saja kau daun tua."
🌹🌹🌹
TBC