
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW YA DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN UNTUK BACA CERITA INI YA. I LOVE YOU.🌹
Ares menatap tidak percaya sosok penjaga sekolah yang sedang mencuci wajahnya. Ternyata bukan setan perak, melainkan penjaga sekolah yang menggunakan masker wajah berwarna perak hingga berkilauan.
“Lagian, Pak. Kalau pakai masker itu mulut sama kelopak matanya tidak perlu. Ya mana saya tahu bapak ini manusia, apalagi seluruh wajah sampai leher memakai masker. Itu warna maskernya juga sama kayak penambal panci ibu saya.”
Penjaga itu sibuk mencuci wajahnya.
“Bapak juga kenapa pakai daster? Kenapa tidak pakai seragam? Atau bapak lagi cosplay jadi setan di sini? Itu beneran penambal panci, Pak? Yang dijadikan masker?”
Cantika menepuk bahu Ares mendengar pria itu mengatakan hal tersebut.
“Apa? Aku bicara jujur,” gumam Ares.
Dan penjaga sekolah itu berbalik. “Saya pakai seragam, De. Di dalem sini. Saya sengaja kalau maskeran selalu pakai daster biar gak belepotan kemana mana. Biar gak kotor seragamnya.”
“Terus keliling sekolah dengan penampilan seperti itu?” tanya Ares. “Bapak bisa bikin orang mati jantungan loh.”
“Maaf, Den. Bapak juga baru sadar, ternyata selama ini Bapak kalau maskeran mirip setan.”
“Lagian maskerannya sambil diem napa, Pak.”
“Malu lah, Den, nanti dilihat penjaga lain. Jangan bilang siapa siapa ya.”
Ares henya mengangguk angguk. “Maaf ya, Pak. Kena tending saya tadi kepalanya.”
“Gak papa, Den.”
Ares mengeluarkan pecahan lima puluh ribuan. “Ganti masker ya, Pak. Jangan yang gitu lagi.”
“Wah, makasih, Den.”
Kemudian tangan Ares menggenggam tangan Cantika dan membawanya melangkah pergi keluar dari gedung sekolah ini.
Cantika yang tidak tahan itu malah cekikikan mengingat kejadian sebelumnya.
“Centini, apa yang kau tertawakan?”
“Tidak, aku hanya mengingat⸻”
“Jangan katakan hal itu pada siapapun,” ucap Ares.
“Tidak,” gumam Cantika sambil menggeleng. Kemudian tersenyum menampilkan gigi cantiknya. “Kau terlihat tampan bahkan saat ketakutan.”
Ares berdecak sombong. “Tidak ada yang bisa merubah ketampananku apapun yang terjadi, Centini. Kau harus mengingat hal itu.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Cantika terkejut saat motor besar itu tiba tiba menepi di salah satu mini market.
“Kau butuh ke toilet?” tanya Cantika dengan polosnya.
Ares tidak paham dengan pemikiran Cantika, pria itu hanya sedang ingin menghabiskan waktu lebih lama. “Ini masih jam sembilan, terlambat sedikit tidak apa apa bukan?”
“Ah, kau ingin buang air besar?”
“Bukan, Centini. Aku ingin diam sejenak sambil makan di sini,” ucap Ares membawa masuk Cantika dengan menarik pelan tangannya. “Ambil keranjang,” perintah Ares.
Cantika melakukannya. Dia membawa keranjang dengan pria itu yang memilih makanan. Sudah tahu apa yang disukai Cantika, Ares memasukan susu, roti dan beberapa cemilan ke dalam keranjang.
“Kau mau apa?”
“Aku tidak bawa uang,” ucap Cantika dengan polosnya.
Ares menatap tidak percaya dan tertawa. “Kau menghina harga diriku? Aku yang akan membayar, ambil yang kau mau. Kau mau apa?”
Cantika menggeleng, karena memang dia tidak mau apapun.
“Pilih.”
Dan karena tidak ingin membuat Ares sedih, Cantika memilih beberapa cemilan untuknya.
“Kita makan di sini ya, kita diam dulu di sini.”
“Baiklah.”
Ares membayarnya, sementara Cantika sudah memilih tempat duduk di dalam mini market tersebut.
Ares menyeduh dua cup mie instant dan memberikan salah satunya pada Cantika.
“Kenapa milikku tidak pedas?” tanya Cantika saat melihat milik Ares memiliki rasa lebih pedas.
“Kau masih kecil, cintai ususmu.”
“Dan kau tidak mencintai ususmu?”
Cantika tertawa mendengarnya. “Baiklah.”
“Hubungi Kakekmu, bilang aku akan mengantarkanmu sampai di rumah. Dan sedikit terlambat.”
“Aku mengirim pesan pada Nenek.”
“Bagus,” ucap Ares. “Ini.”
“Kenapa kau selalu memberiku susu?”
“Kau masih dalam masa pertumbuhan, Centini. Minum ini, kapan kau ulang tahun yang ke -16?”
“25 Desember.”
“Natal?” tanya Ares terkejut. “Wah… kau masih sangat muda. Tahun baru nanti aku berusia 18 tahun.”
Keduanya bertukar cerita kecil di sana, dan itu adalah titik nyaman Ares saat dia bisa bebas menjadi dirinya dan menuangkan cerita tentang apa saja.
Sampai sebuah mobil menepi di mini market, Ares mengerutkan keningnya merasa tidak asing.
“Wah…. Dia benar benar berkencan dengannya.”
“Siapa?” tanya Cantika.
Dan Samuel keluar dari mobil dengan Arin, membuat Cantika terkejut. “Wah… itu Arin.”
Dan Arin yang melihat Cantika dari luar juga sama terkejutnya, dia menatap tidak percaya pada keduanya. “Wah…. Aku tidak berfikir kalian sedekat ini.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Kalian tidak benar benar berkencan?”
“Astaga, Arin. Kau tahu aku dan Ares berteman sejak kecil.”
Arin berdecak, “Jika saja kalian benar benar berpacaran pun, aku akan sangat mendukung.”
“Jangan katakan hal yang tidak tidak.”
“Ayo pulang,” ucap Ares menemui keduanya saat dia sudah selesai bicara dengan Samuel.
Cantika mengangguk dan melambaikan tangannya pada Arin. “Bye, Arin.”
“Byeee, Tika.”
“Mau kemana sekarang?” tanya Ares memberikan helm pada Cantika.
“Pulang, kau ingin pergi ke suatu tempat lagi?”
Cantika menggeleng.
“Baiklah, kita pulang,” ucap Ares melajukan motornya.
Sesampainya di depan rumah Cantika, Ares memberikan satu kantong plastic.
“Apa ini?” cantika memeriksanya, dan ternyata itu susu strawberry. “Susu.”
“Tumbuhlah, kau membuatku kesulitan setiap menaiki motor.”
“Terima kasih.”
“Sana masuk.”
Cantika mengangguk dan masuk lebih dulu. “Byeee, Ares yang tampan.”
Ares tertawa dan menyibak rambutnya ke belakang sebelum kembali memakai helm dan pergi dari sana.
Dan tanpa disadari keduanya, seseorang memperhatikan dari halaman rumahnya.
Laura menyilangkan tangannya di dada, dirinya bertanya tanya, “Mengapa banyak yang menyukai gadis jelek itu? Dia bahkan berteman dengan gadis populer di sekolah.”
Yang dimaksud oleh Laura adalah Athena, karena sebuah keharusan untuknya bergabung dengan yang populer pula. Namun, suatu kesulitan karena Athena tidak mudah membuka ikatan pertemanan. Membuat Laura kesal, kepopulerannya belum setara dengan Athena yang sudah lama berada di sana.
“Mengapa juga Ares selalu bersamanya? Kenapa dia menempel pada gadis jelek seperti Cantika? Cih, namanya sangat tidak cocok dengan wajahnya yang jelek.”
🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE