Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹JANGAN LUPA YA KASIH EMAK VOTE ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN YA KESAYANGAN EMAK.🌹


“Kenapa tidak dijemput lagi oleh Ares?” tanya Nenek saat melihat cucunya sedang bersiap siap memakai sepatu. Akhir akhir ini Neneknya jarang melihat Ares menjemput. “Kalian bertengkar?”


“Kalau kami bertengkar, dia tidak akan memberikan Nenek botol tampan.”


“Benar juga,” gumam Nenek. “Apa dia menjemput pacarnya?”


Cantika tertawa. “Kenapa Nenek sangat penasaran pada si tampan itu?”


“Nah, kau menyadarinya dia tampan, dan kau menyukainya. Tembak dia.”


“Iya, Kakek ada senapannya,” ucap Kakek yang tiba tiba masuk ke dalam pembicaraan. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”


Nenek memutar bola matanya malas.


“Pergi temui mama mu dulu.”


Cantika mengangguk dan segera masuk ke kamar mama nya, di sana sang mama sedang meminum obat. “Mama, Cantika berangkat dulu ya.”


“Bersama Kakek?”


“Iya,” ucapnya. Karena sekarang sang mendapatkan tugas pagi, bukan lagi penjaga malam.


“Hati hati ya.”


“Hari ini Mama mau kemana?”


“Mama akan menanam bawang bersama Nenek, kenapa?”


“Bukankah hari ini seharusnya Mama ke rumah sakit? Mau Cantika temani? Cantika bisa pulang lebih awal.”


Mama nya menggeleng. “Tidak, kau salah. Bukan sekarang ke rumah sakit, sudah sana berangkat.”


“Baiklah, I love you, Mama.”


“Mama juga.”


Mama nya menatap sendu, sebenarnya dia tidak lagi memiliki harapan untuk hidupnya. Maka dari itu sang Mama memilih menyimpan biaya pengobatan untuk masa depan Cantika, karena perusahaan suaminya tidak memungkinkan bisa pulih seperti semula lagi mengingat utang mereka ada di mana mana.


Cantika keluar dari rumah. “Ayo, Kek.”


“Aduh, Nak. Ban kakek bocor, bagaimana ini?”


Cantika menatap tidak percaya, dia mengerucutkan bibirnya sambil menghela napas. “Tidak apa, Cantika berangkat ya, takut angkotnya ketinggalan.”


“Tunggu, bukankah tetangga kita juga sekolah yang sama denganmu, Tika?”


“Jangan lakukan itu, Kakek.”


“Pak!” teriak sang Kakek saat mobil sedan itu keluar. “Ban motor saya bocor, boleh cucu saya ikut ke sekolah?”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Terima kasih atas tumpangannya, Laura.”


“Hm,” jawab Laura dengan santai.


Dia tidak nyaman berada di sekitar Cantika, sebenarnya kebencian yang mendasari hal tersebut sehingga Laura malas bahkan untuk menatapnya saja.


“Kau sudah mengerjakan soal matematika itu? Ya ampun bukankah itu sangat sulit?” tanya Cantika dengan senyuman manisnya dan wajah antusiasnya.


Saat itu juga Laura sadar kalau dirinya memiliki pekerjaan rumah.


“Pak, berhenti sebentar di minimarket.”


“Baik, Nona,” ucap supir.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?”


Laura mengangguk. “Tolong belikan aku soda dan roti, ini uangnya. Aku malas keluar tolong.”


“Baiklah.”


“Tinggalkan tasmu di sini, itu terlihat berat.”


“Baiklah,” ucap Cantika melakukannya.


Dan saat Cantika masuk ke dalam minimarket, Laura membuka tas Cantika dan mengambil buku matematika. Seperti biasa, dia memotretnya untuk mencontek.


“Ini sangat mudah, aku bisa lulus dengan mudah.”


Saat supir itu menatapnya lewat kaca spion, Laura menatapnya tajam. “Apa yang kau lihat huh?”


“Tidak ada, Nyonya.”


“Bekerja yang benar atau aku meminta ayahku untuk segera memecatmu.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Ares memarkirkan motornya di tempat biasa, dia hanya bersekolah jelas saat minggu pertama. Selebihnya Ares memilih bolos karena bosan.


“Ar, hari ini kita tanding.”


“Gue tau.”


“Motor lu kenapa di luar?”


“Urusan lu?”


“Lu mau bolos lagi?”


“Mau aja di sana,” ucapnya.


Dan saat itu, Ares melihat mobil sedan yang bisa mengantar Laura berhenti jauh di depan gerbang sekolah.


“Wowwww, pujaan lu itu,” ucap Samuel menggoda.


Kening Ares berkerut melihat seseorang diturunkan di sana. “Centini?”


“Loh, Cantika jadi best friend incaran lu? Satu mobil.”


Ares terdiam menunggu Cantika untuk masuk.


“Ayo masuk.”


“Masuk sana sendiri lu, jangan ganggu gue.”


“Gue bawa gehu dari rumah.”


“Sisain satu buat gue,” ucap Ares dengan tatapan tajam saat Samuel menjauh.


Dia tetap setia menunggu Cantika. “Kau bilang akan diantar Kakekmu? Kenapa bersamanya?”


“Astaga, kau membuatku kaget,” gumam Cantika.


“Kau punya penyakit atau bagaimana, mudah sekali kaget.”


Cantika berdecak. “Ban kakekku bocor, jadi aku menumpang pada laura.”


“Maka dari itu aku harus menjemputmu, Centini.”


“Tidak boleh.”


“Kenapa tidak boleh?”


“Karena… Laura terlihat cemburu, aku pikir dia mulai menyukaimu.”


Ares menyilangkan tangannya di dada sambil menyeringai. “Oh begitukah? Memang tidak ada yang bisa tahan dengan pesonaku.”


Cantika sibuk dengan kantong plastic di tangannya.


“Kau tidak mendengarku?”


“Apa?” tanya Cantika.


“Aku tampan.”


“Semua orang tahu itu,” ucap Cantika tanpa mengalihkan fokusnya.


“Apa yang membuatmu mengabaikan wajah tampan ini?” Ares merebutnya. “Gliter? Untuk apa?”


“Pesanan Arin, untuk penyerahan tahta dia bilang.”


“Huh?”


“Club penggemarmu, Arin akan focus pada pelajaran. Dan jabatan diserahkan pada para junior. Oh kasihan sekali mereka yang baru masuk, hanya bisa melihatmu selama satu tahun saja.”


Ares tersenyum miring. “Bukankah kasihan? Astaga, aku yakin mereka akan sedih kehilangan primadona di sini, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”


“Um, sebenarnya jika kau ingin membuat mereka bahagia, kau tidak usah lulus dari sini.”


Ares terdiam seketika. “Centini, aku bingung kau ini genius atau bodoh.”


🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE