Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Kembaran



🌹VOTE🌹


David menelpon Oma dari balkon, tatapannya terpaku pada Lily yang sedang merebah di ats ranjang. Matanya tidak tertutup, tapi tatapan dari mata itu terlihat mati. Dan David tahu itu karena cemoohan padanya, membuat David ikut sakit hati sendiri.


"Ada apa?"


"Oma, aku akan mengadakan resepsi lebih cepat bersama Lily."


"Tapi punggung Oma belum lurus."


"Oma….," Ucap David dengan pelan. "Aku tidak ingin berdebat, aku ingin semua majalah segera mengabarkan berita tentang diriku dan Lily, supaya mereka tahu aku dan Lily akan punya anak."


"Begitu ya?"


"Iya begitu."


"Oh."


"Oma," rengek David kesal. "Oma batalkan semua pemotretan itu, aku ingin menikahi Lily segera."


"Kalian sudah menikah."


"Oma tau maksudku," ucap David frustasi.


Membuat Oma berdecak kemudian menarik napas di sana. "Serahkan semuanya pada Oma, kapan tepatnya?"


"Satu minggu setelah pernikahan kakak tiri Lily."


"Dasar bocah tengik, sebegitu kesalnya kau pada Radit?"


"Jangan mengucapkan namanya, membuatku bergidik."


"Oma mengantuk."


"Ya tidur, jangan bilang aku harus ke sana dan membacakan cerita mistis."


"Dasar cucu tengik, Oma belum ingin tidur, tapi sedang menyelesaikan masalah."


"Masalah apa?" Tanya David penasaran.


"Oma sedang bermain FF, Oma sedang mabar. Ha ha ha, sudah ya. Dah."


Tut.


Tut.


Tut.


David mengerutkan keningnya, dia segera masuk ke dalam ruangan kembali dan berbaring di samping istrinya. "Sayang, aku memesankan kari untukmu. Seperti dalam film India yang ka tonton."


Lily menggeleng. "Kari nya enak, seperti yang Tuan Takur makan."


Lily membuka matanya, dia duduk menghadap David sambil menyelipkan ana rambutnya. "David."


"Katakan padaku, Sayang."


"Emm…."


"Kau sedih karena para pelayan itu?"


"Huh?"


"Pelayan yang di bawah, yang membicarakan hal tidak baik."


Perlahan Lily mengangguk pelan, dia menunduk dan menarik napas. Dan tanpa diduga, Lily berucap, "Aku takut penilaian mereka terhadapku akan mencoreng nama baikmu."


Dan seketika David menatap tidak percaya, dirinya tidak berpikir Lily akan mengatakan hal itu. 


"Kau sedih karena itu? Karena diriku, Sayang?"


Lily mengangguk pelan.


Seketika pula tangan David menguap pipi istrinya pelan lalu membawanya ke dalam pelukan. "Sayangku, kenapa kau mengkhwatirkanku?"


Lily membalas pelukan David.


"Aku malah takut kau sedih."


"Jika kita mengumukan pernikahan, para wartawan akan mencari tau tentang diriku."


"Dan?"


David menatap tidak percaya. "Sayangku," ucapnya membawa Lily ke dalam pelukannya. "Jika mencintaiku membuatmu menderita, akan aku runtuhkan langit untuk membuat mereka semua gepeng."


"Maksudnya?"


"Aku boss di semua bidang, nasib mereka di tanganku." David merangkup pipi chubby Lily. "Sudah ya, aku kita makan dan lihat Tuan Takur."


🌹🌹🌹


Keduanya jalan jalan di taman hotel saat pagi hari, David dengan sabar menemani Lily yang berolahraga meregangkan kaki. 


"Tidak akan bekerja hari ini?"


"Pekerjaanku adalah membuatmu bahagia."


Lily tertawa kecil.


"Sayang, untuk pernikahan kita aku mengundang keluargaku yang ada di Amerika."


Lily mengangguk paham.


"Tenang saja, aku akan selalu menjadi perisai untukmu."


Sebelum Lily menjawab, dering ponsel David berbunyi. Membuat keduanya berhenti melangkah. "Sebentar, Sayang." David mengangkatnya dan berbicara dalam bahasa Italia.


Lily yang tidak mengerti mengedarkan pandangannya.


"David, aku ingin mengambil benih bunga itu."


"Lakukan saja, Sayang," ucap David memilih menunggu sambil duduk dan menelpon.


Karena sibuk berdebat dalam telpon dengan perwakilannya yang ada di Jepang, David tidak menyadari ada seekor kucing datang dan mendekati kakinya.


Bahkan David tidak sadar saat kucing itu mengencinginya.


"Shiitt!" Teriak David saat dia selesai menelpon, refleks David menendang kucing itu.


"David," ucap Lily mendekat. "Kau tidak boleh menendangnya seperti itu."


"Dia pipis di kakiku."


Lily menahan tawanya. "Sekarang kau punya alasaa untuk mandi."


"Jangan digendong, jangan. Sayang, dia bisa mengencingimu."


"Dia kesakitan akibat tendanganmu." Lily mengusap bagian perutnya. "Aku rasa dia bukan kucing liar, ada kalungnya di sini."


"Aku tidak peduli, lempar sebelum dia membuang kotoran. Ayo sayang, buang. Antar aku ke hotel, aku ingin mandi, kaos kakiku basah."


Dan sedetik setelah mengatakan itu, seorang wanita bertubuh gempal datang dan berteriak, "Nona! Itu kucingku!"


"Ah, ini kucing anda?"


"Astaga." Dia menarik napas dalam. "Aku mencari kucingku sejak tadi malam."


"Kucingmu pipis sembarangan, Nyonya."


"Tidak, kucingku selalu tau tempat. Dia menggunakan tempat kotor untuk dipipisi."


"Tapi dia melalukannya di kakiku."


"Mungkin kakiku belum dicuci."


"Apa?"


"Sudah," ucap Lily memegang tangan David.


"Hehe, maaf, Nona. Kucing saya memang agak nakal, suka keluar malam dan menggigit sembarangan. Dia kucing menyebalkan."


"Tapi sepertinya anda menyukainya."


"Sangat."


"Siapa namanya?" Tanya Lily yang juga sudah jatuh hati pada kucing putih itu.


"David, nama kucing ini David."


🌹🌹🌹


Tbc.