
🌹VOTE🌹
Sebastian masuk begitu saja ke dalam mansion, mencari sosok yang selalu menjadi perbincangan dengan temannya.
"Oma?"
Oma yang sedang membaca buku di lantai bawah segera berpura-pura tidur.
Dan Sebastian melihatnya. "Oma, aku tahu kau pura pura tidur."
Oma masih diam memejamkan mata berharap Sebastian pergi, dalam pikiran Oma, Sebastian datang akan meminta uang jajan. Mengingat David telah memperingatkan bahwa kedua temannya tidak membawa uang sepeser pun.
"Oma, sudahlah. Jika kau tertidur mulutmu selalu terbuka."
Seketika Oma membuka mulutnya.
"Oma…. Ada lalat masuk ke dalam mulut."
"Astaga, mana?!" Oma terbatuk batuk.
Saat tahu dirinya dikerjai, dia menatap Sebastian yang berdiri sambil menyeringai di sana.
"Mau apa? Pasti mau minta uang jajan bukan? Kau itu seharusnya menuruti perkataan Daddy dan Mommy."
"Oma berhenti, aku geli jika mengingat mereka."
"Durhaka, kau durhaka level 15. Mereka orangtuamu, meskipun ibu sambung. Tidak ba---"
"Aku membawakan ini."
"---Aaasyiiikkkk!" Perkataan Oma jadi melenceng karena mendapatkan papper bag berwarna hitam. "Apa ini?"
"Buka saja, Oma."
Oma membukanya dengan tersenyum, tapi saat tahu apa isinya, Oma menatap Sebastian kesal. "Apa kau sedang mengerjai Oma?"
"Oma tahu aku tidak punya uang, aku diberi oleh tukang sayur. Lihat, Oma. Ada kacang panjang, ada apa itu ya? Wuhan ya?"
"Waluh!"
"Iya, waluh. Banyak sayuran kampung di sana. Apalagi tukang sayur juga memberikan daun kelar."
"Kelor!"
"Iya itu."
Oma memegamg keningnya merasa pusing. "Sayuran dibalut tas bermerk Channel? Apa kau gila, tengik!"
"Apanya?"
"Astaga, astaga, aku merasa pusing. Kenapa kau datang?"
Sebastian tersenyum, dia menyandarkan punggungnya. "Oma, aku harus pulang ke Amerika."
"Lalu?"
"Hehe, aku ingin pinjam pesawat jet Oma."
"Kenapa tidak punya David saja?"
"Karena… pesawar jet milik Oma yang bernama "Omagot." Itu sangatlah keren, terbaik, tercepat dan terhebat dari semuanya."
Oma tersenyum malu. "Kau bisa saja. Oke, kapan itu dibutuhkan?"
"Minggu depan, Oma. Aku masih ada urusan di sini."
"Bisa diatur."
"Dan juga, Oma…" Sebastian menyeringgai dalam senyuman manisnya. "Oma itu wanita hebat, murah hati, rendah senyum, lapang dada, istimewa, keren, baik, rajin menabung, tidak sombong. Astaga haruskah aku ucapkan semuanya?"
"Ah, kau bisa saja," ucap Oma menepuk pundak Sebastian sampai dia hampir limbung. Lalu setelahny wajah Oma berubah. "Katakan apa yang kau inginkan?"
"Uang bawaanku habis."
"Sudah aku duga. Eta!"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Ambilkan dompetku?"
"Oma tidak akan memberikanku uang recah bukan?"
"Diamlah."
Tidak lama kemudian Eta datang dengan dompet. Dan Oma mengeluarkan beberapa lembar dua puluh ribuan.
"Oma bercanda."
"Ini untuk dua hari."
"Oma…."
"Iiiisshhh! Yasudah." Oma mengeluarkan kartu kredit.
"Ini unlimited?"
"Dalam mimpimu."
🌹🌹🌹
Lily masih memakan baksonya dengan sangat lahap. Dia terus menuangkan bakso yang baru dipanaskan, dicampurkan dengan mie spaghetti lalu memakannya sambil kepedasan.
Lily merasa ini sangat enak sekali, sampai sampai dia ingin memberikan penghargaan kepada Eta yang sangat pandai memasak.
Saat sedang keasyikan makan, seseorang menelpon lewat telpon rumah. Lily segera mengangkatnya.
"Hallo?"
"Nyonya Muda, ini saya Nina. Tuan David tidak memberikan kabar lebih lanjut, apakah besok saya datang?"
Lily menatap kalender duduk berbentuk strawberry. "Aku rasa tidak, Nina. Besok tanggal merah."
"Baik, Nyonya. Apa anda butuh sesuatu mungkin?'
"Ya, tolong bawakan aku bahan bakso, aku akan membuatnya besok."
"Baik, Nyonya."
"Terima kasih, Nina. Selamat malam."
Lily menutup telpon dan kembali makan, dia mengerutkan keningnya saat melihat makanan David masih banyak tersisa. Lily mengadah menatap lantai dua, tidak ada David di sana.
Dia kembali makan dengan lahap. Saat terdengar suara mendekat, baru Lily menengok ke arah tangga.
"Astaga, bibirmu merah, David."
"PedaaaaaAAAAAAASSSSSS!" Teriak David sambil menunjuk terkejut bakso yang kembali terisi penuh. "Kenapa bom iblis itu semakin banyak, Sayang?"
Lily tersenyum kaku. "Aku mengisinya kembali."
"Astaga, kapan kau akan memandikanku?"
"Sebentar lagi," ucap Lily kembali merasakan pedas, dia mengelap keringatnya yang berlebihan. "Ini enak sekali, David."
"Enak?" David memejamkan matanya masih merasakan kepedasan.
Dia melangkah menuju ke kulkas, membukanya dan memilih susu yang sudah ada dalam botol. David meminumnya, membuat Lily menatapnya heran dari sana.
"Ada apa, Sayang?"
"Apa ada yang aneh dengan minuman itu?"
David mengangguk angguk. "Agak gurih, tapi tidak apa. Setidaknya aku tidak kepedasan lagi."
"David, itu bukan susu."
"Apa?"
"Itu santan kelapa untuk Oma membuat sayur lodeh besok."
"A--apa? Santan kelapa?"
🌹🌹🌹
Tbc