Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Si Kembar yang Ribut



🌹VOTEEE YE GAISSSHHH🌹


Lily menatap gaun malam yang dibawakan Marylin. Sangat sederhana, tidak seksi dan juga sangat feminim.


"Anda akan pakai yang mana, Nyonya?"


Hingga pandangan Lily jatuh pada gaun malam polkadot berwarna pink muda dan putih. "Aku suka yang ini."


"Astaga, ini akan terlihat seperti badut," gumam Marylin tanpa dia sadari. Sampai dia tahu apa yang dikatakannya, Marylin segera bersujud di kaki Lily. "Maafkan saya, Nyonya. Saya lancang. Saya tidak akan mengulanginya lagi."


Dan entah mengapa, kehamilan ini tidak membuat Lily lemah, melainkan kuat. Lily tidak baper sama sekali, itu juga yang membuatnya selalu siap menghadapi kenakalan anak anak.


"Nyonya?" Tanya Marylin yang masih bersujud bingung.


"Marylin posisi jongkokmu bagus, bisakah kau bantu Nina membereskan tempat bermain di lantai atas?"


Marylin kebingungan, tapi segera dia mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya akan pergi ke sana."


Setelah Marylin keluar dari kamar, Lilu menyiapkan diri untuk berendam sampai akhirnya David sampai di sini. 


Itu juga yang membuat kecurigaan Lily menghilang saat David pergi ke luar negri untuk bekerja. Tidak ada rasa marah, kesal ataupun curiga dengan kepergiaannya. Lily sangat biasa saja.


"Mommy akan berendam air dingin supaya kau segar, Sayang," ucap Lily pada satu janin di perutnya.


Memang benar, kini dia mengandung satu janin saja dengan jenis kelamin yang masih dirahasiakan. 


Padahal saat pembuatan adonan ini, itu hanya terjadi satu malam saja. David pulang sebentar untuk mencurahkan kerinduan, lalu besoknya pergi lagi ke Thailand.


"Daddy akan sangat bahagia melihat kau ada, Sayang," ucap Lily sambil menyabuni perutnya.


Tidak dipungkiri dirinya merindukan ritual mandi bersama David. Namun, semenjak ada anak anak, selalu saja diganggu. Entah itu karena tangisa, teriakan bahkan jeritan mereka yang ingin ikut bergabung.


"Nanti kau juga bisa mandi bersama Daddy, karena kedua saudaramu akan menginap di rumah Oma."


Menyelesaikan ritual mandi sampai satu jam, Lily membalur diri dengam berbagai wewangian. Dia menggunakan lipgloss bening. 


"Apa aku terlihat lebih muda?" Gumam Lily pada cermin.


Lily selalu sengaja memakai pakaian dan riasan yang agak membuatnya terlihat lebih tua, hal itu dia lakukan agar David tidak minder seperti sebelumnya. Ada yang menyangka adik kakak, pengasuhnya, anak sulungnya, dan lain sebagainya.


"Aku ganti saja dengan  warna pink," gumam Lily.


Selesai dengan wajahnya, Lily memakai jubah untuk menutupi gaun malam mini di dalamnya.


Sore hampir hilang, Lily keluar untuk mengecek semua persiapan. 


Di ruang makan sudah ada berbagai hidangan, membuat Lily tersenyum bahagia.


Mengecek Nina dan Marylin, Lily naik ke lantai atas di mana itu hanya diperuntukan untuk hiburan.


Dan mata Lily melotot melihat Nina yang naik ke dinding tanpa menggunakan apa pun.


"Astaga! Astaga, Nina apa yang kau lakukan? Turun!"


Marylin yang sedang memunguti sesuatu itu berucap dengan santai. "Jangan khawatir, Nyonya. Nina itu mantan intel juga."


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan di sana, Nina? Itu berbahaya."


"Dia sedang mengambil slime yang menempel di dinding akibat lemparan Tuan Ares."


"Astaga," gumam Lily ngeri melihat Nina yang begitu cekatan. "Rahasia apa lagi yang belum aku ketahui darinya."


"Rahasia? Nina bilang dia suka kuda lumping."


🌹🌹🌹


Karena akan menginap di rumah Oma, maka kewajiban bagi anak anak untuk membeli cemilan dan mainan lebih dulu.


Seperti sekarang, David yang masih mual harus menggendong Ares dan Athena menuju tempat mainan di salah satu mall dengan ditemani Holland. 


"Tuan, anda butuh bantuan?" Tanya Holland.


"Mereka tidak ingin digendong selain Daddy nya."


"We miss you, Daddy," gumam Athena membujuk supaya tetap digendong.


"I know, Baby. I miss you too."


Baru juga mendekati toko mainan, Ares sudah mengumumkan keinginannya.


"Ares mau itu," tunjuk putranya pada mainan basoka.


Mata David melotot, dia ingat apa yang dilakukan putranya. Sering kali memodifikasi mainan hingga jadi berbahaya. Dan seringkali pantat David menjadi korban tembakan.


"No, no, no," ucap David.


"Selamat datang di toko mainan. Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Karyawan itu begitu mereka masuk.


"Ada benda yang anda cari, Tuan?"


"Tidak, mereka akan mendapatkannya sendiri," ucap David menurunkan Ares dan Athena.


Seketika keduanya berlari memencar.


"Daddy come here!"


"Daddy! Here!


"Daddy!"


"Daddy!"


Dan mendengar itu saja, David sudah pusing. Dia memberi isyarat pada Holland untuk menemui salah satunya. Sementara David diam sebentar untuk duduk.


"Apa kau baik baik saja, Tuan?" Tanya karyawan di sana.


"Bisakah kau tidak perhatian padaku? Cari korban pengunjung lain," ucap David mengusir karyawan itu dari sana.


"Daddy!" Teriak Ares yang sendirian.


"Iam cooming!" David mendekati putranya. "Sayang, kau sudah banyak mainan. Beli yany pasti akan kau mainkan. Jangan seperti Athena."


Saat David mengatakan itu, Ares sadar ada Athena sedang memborong mainan di belakang Daddy mereka.


"Athena boros?"


"Sedikit, nanti Daddy bicara padanya."


"Apa itu jelek?"


"Ya, itu perbuatan yang jelek."


"Huaaaaaa! Daddy jahat! Daddy jahat!" Teriak Athena menangis di sana.


"Baby? No, no like that. Bukan seperti itu, kemarilah."


Sambil menangis, Athena berucap, "Daddy jahat! Kata Mommy lau jahat nanti kepalana pendooooll."


David menatap frustasi anak anak yang ditinggalkannya ternyat semakin aktif dan membingungkan.


Sadar pengunjung lain hendak merekam tingkah lucu Athena, David berucap pada Holland. "Kosongkan toko, jangan beritahu siapa aku, nanti mereka akan tahu anak anakku. Bilang saja ada pemimpin mafia sedang berkeliaran di sini."


"Baik, Tuan."


🌹🌹🌹


TBC