
🌹Ajak yang lain baca ya guys🌹
Swiss.
Luke yang mendengar keadaan teman temannya kacau itu bingung sendiri, dia ingin membantu David untuk menjelaskan semuanya. Luke tahu Sebastian tidak bisa diandalkan, dan David kini dalam masa terpuruk.
"Luke, kenapa kau belum tidur?"
"Kakek?" Luke berbalik melihat kedatangan Nobles sang Kakek yang ternyata juga belum tidur.Â
Mereka berdua tinggal di rumah Nobles di Swiss, Nobles meminta cucunya untuk mengembangkan bisnis di tanah kelahirannya sendiri.
"Apa ada masalah?"
"Aku rasa, aku harus kembali ke Indonesia."
"Luke, kenapa kau sangat suka tempat itu?"
Luke mengangkat bahunya. "Karena itu tempat kelahiran Mama?"
Nobles terdiam, dia mengusap kepala Luke penuh kasih sayang. "Kau akan segera menikah, Luke. Kau harus mengikuti istrimu."
"Bukan kah pria pemimpin keluarga? Kenapa aku yang harus mengikuti Medina?"
"Kau mencintainya bukan?"
Luke terdiam, dia memang mencintai Medina sejak kecil. Dia juga memiliki darah Asia yang membuatnya berada satu sekolah saat TK. Mereka hanya berpisah saat remaja menuju dewasa. Dan sekarang dipertemukan lagi saat dalam perjodohan.
"Medina mencintaimu."
"Aku juga mencintainya sampai aku merasa lelah terus mengalah."
Nobles tertawa, dia mengusap pundak Luke. "Kenapa kau ingin ke Indonesia?"
"David membutuhkan bantuanku."
"Bantuan macam apa?"
"Kakek, kau tahu aku tidak bisa mengandalkan Sebastian."
Nobles mengangguk setuju, dia diam membuat Luke meminta jawaban cepat. "Jadi, bolehkah aku pergi?"
Nobles meneguk sisa minuman Luke dan menepuk pundak cucunya. "Pergilah dan lekas kembali, temani Kakek sebelum kau menikah."
Luke tersenyum senang. Izin dari Nobles sangat penting, hanya dia satu satunya sisa anggota keluarga Luke yang dimiliki.Â
Nobles sendiri punya restaurant cepat saji di Swis, makanannya yang enak membuat Nobles memiliki beberapa puluh cabang di Swiss sejak tiga puluh tahun yang lalu.Â
Sementara Luke lebih memfokuskan dirinya pada dunia otomotif, lebih tepatnya mobil sport. Luke memiliki banyak dealer mobil sport yang tersebar di benua Asia. Lebih mengejutkannya lagi, Luke sendiri punya merk mobil sportnya sendiri, mobil mobil itu mendominasi dealernya yang begitu banyak.
Luke menelpon asistennya yang bernama Tom.
"Hallo? Tom siapkan pesawat untukku ke Indonesia."
"Baik, Tuan."
Setelahnya Luke kembali menuangkan alkohol ke dalam gelas dan meneguknya pelan. Dia memikirkan masa depannya bersama Medina nanti. Dia akan menikah dengannya, itu yang akan membuat Nobles bahagia di akhir hidupnya.
Sayangnya, Luke merasa jauh dari Medina. Wanita itu sibuk di dunia permodelan, dia seringkali mengabaikan Luke. Bahkan saat ini, dia pergi ke negara lain demi pekerjaannya.Â
Medina tinggal di apartemen, dia selalu malas untuk menemui Luke. Dan saat Luke hendak bermain ke apartemennya, Medina melarangnya keras. Entah karena apa.
Luke banyak diam, sampai akhirnya ada panggilan dari Medina.
"Hallo, Sayang, di mana kau sekarang?"
"Aku di rumah. Ada apa?"
"Aku akan ke sana besok, kita akan bermain selama satu minggu."
Luke menggaruk keningnya saat terasa bingung. "Aku… akan pergi ke Indonesia, Sayang."
"Apa? Apa yang akan kau lakukan di sana?!" Tanya Medina dengan suara meninggi. "Luke, apa kau tidak menghargaiku, aku datang untukmu dan kau akan pergi. Aku meninggalkan pekerjaanku demi dirimu. Kau gila? Kau akan meninggalkanku?"
Luke diam mendengarkan cercaan itu.
"Luke!"
"Aku harus pulang dan membantu David."
"Kau lebih peduli David dari pada diriku?"
"Bukan begitu…."
"Sudahlah, aku membencimu," ucap Medina menutup telpon.
Luke mengusap rambutnya frustasi, dia menatap ponselnya yang tergeletak. "Maaf, David. Aku tidak bisa membantu."
🌹🌹🌹
Indonesia.
David masih mencari cara untuk menemui Oma atau pun Lily, dia ingin bicara serius. Namun sayang, Oma selalu melarangnya dan mendorong David menjauh.
Hingga akhirnya kini David pulang ke apartemen, tidak ada yang bisa dia hubungi saat ini. Semuanya kacau.
Saat membuka pintu apartemen, tidak ada lagi suara sambutan, tidak ada lagi pelukan dan senyuman lebar yang menyambut kedatangannya. David melangkah pelan, dia merasakan suasana kosong tidak ada kehidupan dari dirinya dan aprtemen.
Apalagi saat membuka pintu kamar di lantai dua, tatapan David kosong pada atas ranjang. Bagaimaa biasanya dia dan Lily bercanda tawa di sana.
David segera mengalihkan pandangan saat mengingat kenangan kenangan manis bersama kekasihnya itu. Waktu terus berjalan, David harus memiliki cara untuk menemui Lily.
Sayangnya, dokter menyarankan agar Lily terjauh dari sesuatu yang menekannya. Dan itu adaah dirinya. Setiap kedatangannya, perut Lily selalu berkontraksi. Dan David tidak ingin kedua calon bayinya terluka.
Maka darinya dia menjaga jarak.
Apalagi Oma selalu mendorongnya menjauh, David benar benar sendiri. Tidak ada yang bisa dia andalkan.
Dan saat ini, David menyadari bahwa uang tidak bisa membeli kebagiaan. Tapi kejujuran, bisa membawa pada kebahagiaan.Â
David benar benar menyesal.Â
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?"
Dan yang hanya bisa dia lakukan adalah menatap gambar USG yang seharusnya diberikan Lily untuk ulang tahunnya kemarin.
Diam, David tersenyum melihat foto itu. "Selamat datang, anak anak Papa."
Air matanya berlinang, David tidak bisa membayangkan jika dirinya akan menjadi sosok papa. Berganti status menjadi suami.Â
Dulu, David pikir dirinya tidak akan pernah memiliki keluarga. Dia hanya akan hidup untuk kesenangan semata.Â
Namun, Tuhan memberinya kepercayaan. Sayang, dirinya tidak menjaga kepercayaan itu dengan baik.
David kembali mencoba menelpon Oma.
Tapi tidak diangkat, yang membuat David menelpon Eta.
"Hallo, Tuan?"
"Eta, bagaimana keadaan Lily?"
"Nyonya muda masih berada di rumah sakit, kondisinya semakin membaik. Dia sedang menjalani pemeriksaan lagi. Nyonya muda juga mengkonsumsi vitamin agar kandungannya kuat."
"Bagus," ucap David dengan suara berat. "Eta, apakah aku bisa bertemu dengan Lily?"
"Maaf, Tuan Muda, bukannya saya tidak ingin membantu. Namun, membicarakan anda saja, kondisi Nyonya Muda kembali turun. Maafkan saya, Tuan."
"Tidak apa, Eta. Terus awasi Lily dan jaga dia untukku."
"Baik, Tuan Muda."
David menutup telpon. Dia menatap kosong keluar jendela. Dirinya belum makan atau pun tidur. Dan yang bisa David lakukan sekarang adalah mengambil rokok, menghisapnya dan menatap kosong ke luar sana.
David terus merokok, dia meminum alkohol di siang hari. Ini pertama kalinya David kacau setelah kematian Papanya, dia tidak tahu arah, hidupnya kembali suram.
Sampai David memiliki ide, dia menelpon Marylin.
"Hallo, Tuan?"
"Marylin, kirimkan baju pengantin yang dipakai Lily saat menikah denganku."
"Baju pengantin yang dulu saya ambil lagi? Yang kuno itu?"
"Bawa ke mari."
"Saya sudah menjualnya, Tuan," ucap Marylin penuh ketakutan.
David mengetatkan rahangnya. "Aku tidak mau tahu, besok kau harus membawanya ke sini tau semua fasilitas aku cabut lagi. Perjanjian di antara kita batal, kau tidak akan menjadi penata busana pribadi istriku lagi."
"Baiklah, baiklah, Tuan. Akan saya bawa."
🌹🌹🌹
Sore ini, Lily mendengar dirinya bisa pulang. Dan Lily tidak akan kembali pada tempat itu. Maka darinya dia bersiap untuk kabur ketika tidak ada siapa pun di ruangan.
Lily sangat sensitif akhir akhir ini yang dikarenakan faktor kehamilan, dibalik itu, ada kejadian yang semakin mendorongnya ingin pergi menjauh. Lily tidak berpikir panjang, akal logikanya seakan lenyap oleh amarah sesaat.
Dia lupa akan bayinya, dia melupakan nasib kedua anaknya kelak. Yang Lily inginkan hanya menjauh untuk saat ini.
"Nyonya Muda, kau akan ke mana?" Tanya Eta saat melihat Lily memasukan beberapa kue ke dalam tas. "Nyonya Muda?"
"Diam, Eta. Aku akan pergi dari sini."
"Hentikan, Nyonya. Anda akan memperburuk keadaan."
"Lepaskan aku!"
"Nyonya…" Eta melepaskan tangannya. "Pikirkan anak anakmu, apa yang akan terjadi padanya kelak? Apa dia akan hidup tanpa sosok papanya? Apa anda tega melihat mereka terlantar. Harta memang bukan segalanya, Nyonya. Tapi harta setidaknya bisa menjamin kehidupan kasat mata. Apa yang akan terjadi pada bayi anda jika anda pergi sekarang?"
Lily diam sesaat menahan tangisannya.
Eta kembali memperingati. "Jika anda pergi tanpa arah, lalu perut anda semakin membesar. Apa yang akan anda lakukan? Di mana anda akan berteduh? Di mana anda akan mendapatkan uang untuk kebutuhan. Kemungkinan yang terjadi, Nyonya, anda akan kelaparan bersama bayi anda yang masih suci tanpa dosa karena kesalahan dan keegoisan kedua orangtuanya."
Saat itulah tangisan Lily meledak, membuat Oma yang sedang berjalan menuju ke sana itu berlari. "Ada apa ini? Ada apa?"
"Nyonya Besar."
"Lily kau kenapa?" Oma panik melihat Lily yang menagis bersimpuh di atas lantai. "Ada apa ini?"
"Lily hanya ingin menjauh dari David, Lily tidak ingin melihat wajahnya. Jika keluar dari rumah sakit, dia akan memaksa Lily."
Lily mengatakannya sambil menangis kuat. "Lily tidak ingin bertemu David."
Oma memeluk Lily yang bersimpuh di atas lantai sambil menangis kuat. Dengan lembut, Oma mengusap kepala Lily. Sebelumnya Oma mengisyaratkan pada Eta untuk mengunci pintu dari dalam.
"Tenang, Sayang…. Kau tidak akan menemuinya."
"Lily ingin pergi jauh, Oma. Lily tidak ingin ada di sini."
Oma dilematis, dia sayang pada Lily, tapi dia juga sayang pada David.
"Biarkan Lily pergi, Oma."
"Tidak, Sayang. Kau tidak perlu pergi untuk menjauhi David."
"Apa yang harus Lily lakukan?"
"Eta?"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Kau bilang anakmu pergi ke Sumatera?"
"Iya, Nyonya."
"Kalau begitu apartemen di Bekasi kosong?"
"Kosong, Nyonya."
Oma kembali menatap Lily. "Kita ke sana, ya? Kau bisa tinggal di sana. David tidak akan tahu, Oma tidak akan memberitahu. Setidaknya dengan begitu Oma bisa mengetahui perkembanganmu dan bayimu. Ya?"
Lily terdiam, sampai akhirnya dia mengangguk. Da itu membuat Oma tenang dan lega.
"Siapkan apartemennya, Eta."
"Baik, Nyonya Besar."
🌹🌹🌹
Apa yang harus Lily lakukan?
to be cintinue.
ha ha ha hha ha ha ha🥰