Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Kehilangan



🌹Ajak yang lain baca ini ya guys🌹


David tertidur di lantai dengan alkohol berserakan, puntung rokok masih tergeletak di berbagai sisi bekas dia menggunakannya. David terbangub oleh suara dering ponsel.


Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, David segera mengangkatnya. 


"Hallo?"


"David, ini aku Sebastian."


Dada David seketika berdetak kencang, dia benar benar tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi. "Berhenti menghubungiku."


David enggan membahas hal lain, apalagi kini dirinya masih mengalami sisa sisa kemabukan. 


"Tunggu, David," ucap Sebastian saat David hendak menutup telpon. "Aku harus mengatakannya sendiri pada is--"


David memutuskan panggilan, dia melentangka tubuhnya merasa pening.


Saat telpon kembali menyala, dan David tahu itu dari Sebastian, David melempar ponselnya sampai mati.


Dia berteriak kesal sebelum akhirnya berdiri. David merasa pusing, dia bergegas ke kamar mandi dengan langkah gontai. David menatap patulan dirinya di cermin, wajahnya sungguh kacau. Tidak terlihat segar lagi, David benar benar menyedihkan.


Pria itu membuka seluruh pakaiannya dan berdiri di bawah guyuran air shower. 


Wajah David basah, rambutnya meneteskan air yang mengalir. David benar benar kehilangan kendali, dia tidak bisa kehilangan Lily selamanya.


David harus bangkit, dia sadar diam tidak akan menghasilkan apa pun.


Maka darinya, David mencukur bulu di pipinya sehingga dia benar benar polos dan juga tampan. David merapikan rambutnya, dia memakai hand body dan parfume kesukaan Lily yang selalu istrinya pilihkan untuknya. 


David memakai kaos hitam, celana panjang rapi. Rambutnya yang klimis di sisir ke belakang, David terlihat lebih baik saat melihat dirinya dalam pantulan cermin. "Baiklah, Lily. Aku akan memperbaiki semua ini, Sayang."


Dan di waktu yang tepat, Marylin datang dengan sebuah kotak di tangannya.


"Selamat pagi, Tuan. Anda sudah sangat rapi, apa anda akan pergi ke kantor?"


David tidak menjawab, dia hanya mengambil kotak itu lalu kembali menutup pintu apartemen.


Marylin berdecak. "Dasar pria."


Di dalam sana, David membuka kotak itu. Dia tersenyum melihat gaun pernikahan yang Lily kenakan saat mengikat janji suci di antara mereka.


Selain gaun, ada juga kotak kecil dengan yang terbuat daru kaca dengan garis emas dan berlian asli. Di dalamnya adalah cincin.


Karena David memang sudah menyiapkan cincin ini untuk Lily jauh jauh hari, dia ingin melamar Lily dengan cara yang benar, lalu mengadakan resepsi yang besar dan megah. 


Harapan David, rencana itu tetap terlaksana. Dan dia akan memperbaiki semuanya sekarang.


David tersenyum melihat itu. "Sabarlah, Lily Sayang. Aku akan datang dan menjemputmu, menjemput anak anak kita."


David segera menghubungi Holland untuk menjalankan rencananya. "Hallo, Holland. Kau di mana?"


"Tuan? Aku berada di apartemen."


"Bisa kau lihat Lily sudah keluar dari rumah sakit atau belum?"


"Maaf, Tuan.. itu…"


"Apa? Katakan!" Perasaan David mulai tidak enak. "Holland!"


"Nyonya Muda sudah keluar sejak sore kemarin, Tuan."


"Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Maaf, Tuan. Saya mencoba menghubungi anda, tapi Eta tidak sengaja menginjak ponsel saya. Saat saya pergi ke apartemen anda, tidak ada jawaban. Saya pikir anda pergi ke mansion Nyonya Besar."


Seketika David mematikan telpon, dia bergegas pergi dari apartemen menuju ke mansion Oma.


🌹🌹🌹


"Cepat, Eta," perintah Oma saat dia merasakan kedatangan Holland.


Eta segera bergegas turun ke lantai satu, dia menemui Holland yang baru saja keluar dari mobil seorang diri.


"Holland."


"Eta."


"Nyonya Besar memintamu menyembunyikan keberadaan Nyonya Lily sampai keadaan membaik."


"Keadaan tidak akan membaik jika masalah tidak terselesaikan. Tuan Muda harus menemui istrinya, aku akan mengantarkannya ke sana."


"Jangan lakuka itu, Holland," ucap Eta menatap tajam.


Pasalnya wanita tua itu sedikit ketakutan saat mengetahui bahwasanya Holland tahu tentang keberadaan Lily, dan sekarang Holland akan mengambil kunci mobil lain milik majikannya untuk membawanya menemui istrinya, mengingat mobilnya sekarang agak kempes.


"Majikanku adalah Tuan Muda, dia yang harus aku turuti."


"Tapi, Holland, pikirkan lagi…"


"Aku akan tetap membantu Tuan Muda."


"Kau tahu dia!"


Teriakan Eta membuat Holland menghentikan niatnya sesaat, dia menatap wanita tua itu. "Apa?"


"Kau bersamanya selama bertahun tahun, kau tahu bagaimana sifatnya. Nyonya Besar ingin memberi Tuan Muda pelajaran, agar dia mengerti cara kerja dunia."


Holland masih diam.


"Kau tahu bagaimana sifatnya, dia selalu bermain wanita, tidak menghargai siapa pun. Nyonya Besar ingin memberinya pelajaran. Biarkan dia, Holland. Beri setidaknya waktu tiga bulan."


"Tiga bulan?" Holland terkekeh. "Bagimana jika dengan waktu selama itu Nyonya Muda ingin berpisah huh?"


"Tunggu, Holland! Holland! Ada yang harus kau tahu! Holland!"


Dan pria itu malah masuk ke dalam, di mana di sana dia bertemu dengan Oma. Oma mengisyaratkan pada Eta agar terdiam dan membiarkan dia menanganinya dari sini.


"Tidak apa, Eta. Biar aku yang menangani."


Eta mengangguk, dia menunggu di tempat lain saat Oma dan Holland sedang bicara. Setelah sekian lama, akhirya Holland pergi tanpa kata kata.


Eta segera membawakan teh hangat untuk Oma. "Minum ini, Nyonya Besar."


"Terima kasih, Eta."


"Jadi, bagaimana dengan nasib Nyonya Lily, Nyonya Besar?"


"Holland akan menyembunyikannya."


"Benarkah?"


Oma mengangguk, tapi wajahnya memperlihatkan kegelisahan. Membuat Eta bertanya, "Ada apa, Nyonya Besar?"


"Aku juga sedikit khawatir, jika Lily ingin berpisah. Dia juga mengirimiku pesan tadi dan meyebutkan seolah dia tidak ingin menemui David lagi."


"Lalu apa yang akan anda lakukan jika Nyonya Muda menginginkan perpisahan, Nyonya Besar?"


Oma menarik napas dalam. "Itu pilihannya, tapi aku akan sarankan jika mereka ingin berpisah, nanti setelah anak anaknya keluar. Supaya mereka mempertimbangkannya lagi. Jika sekarang kita mempertemukan mereka, maka tidak akan benar. Lily akan merasakan kontraksi, dan aku semakin kesal dengan cucuku. Tanpa melihatnya saja tubuhku terasa mendidih."


Eta diam mendengarkan, dia selalu patuh pada majikannya.


"Ada satu hal yang tidak anda tahu, Nyonya Besar."


"Apa itu, Eta?"


"Saya memeriksa tetangga baru Nyonya Muda, dan itu adalah pria dari masa kecilnya, mereka berada di panti yang sama saat itu."


🌹🌹🌹


Mengetahui Lily sudah kembali dan Oma membawanya, David segera mengendarai mobilnya kencang. Dia tidak mempedulikan Holland yang sempat menghentikannya.


Sesampainya di mansion Oma, David yang membawa sebuah kotak itu masuk.


"Tuan Muda?"


"Di mana istriku, Eta?"


"Nyonya Muda tidak ada di sini, Tuan."


"Kalau dia tidak ada di sini lantas di mana dia?" Tanya David penuh penekanan.


Pria itu naik ke lantai dua dengan terburu buru, menuju ke kamar yang pernah ditempatinya dahulu. "Lily?"


Kosong, kamar itu masih rapi dan bersih menandakan tidak ada yang menempati. David segera naik lift kembali, naik ke lantai tiga dan mencari sosok istrinya.


"Lily?" Dia membuka kamar yang pernah ditiduri olehnya dan Lily.


Setiap pintu David periksa, sampai jantungnya kembali berpacu kuat. David tidak bisa berjauhan dengan Lily, dia ingin memperbaiki hubungannya.


Sampai di lanta dua, David melihat Oma yang hendak masuk kamar.


"Oma?"


Melihat kedatangan David, Oma buru buru melangkah lebih cepat.


"Oma tunggu," ucap David berlari kecil.


"Jangan ganggu Oma, David. Pergilah."


"Oma!" David berhasil mencekal tangan Oma. "Di mana Lily?"


"Kenapa kau peduli padanya?"


"Katakan padaku, Oma. Di mana Lily? Di mana kau menyembunyikannya?!"


"Oma tidak akan memberitahumu, dia tidak ingin menemuimu. Kau tau, David? Lily terus menangis karenamu."


"Biarkan aku menjelaskannya, Oma."


"Lepaskan." Oma menghentakan tangannya kuat, dia masih kesal dengan David dan enggan mendengar apa pun dari dalam mulut cucunya. 


Oma masuk kamar, dia menguncinya dari dalam. Membuat David berteriak dari luar.


"Oma! Oma buka pintunya, biar David menjelaskan semuanya, Oma! Oma! David bisa jelaskan."


Oma yang masih di selimuti amarah, dia menggunakan ear phone hingga tidak tau apa yang David katakan. 


Oma malah membaringkan tubuh, dan fokus pada musik yang diputar. "Maaf, David. Kau harus dapat pelajaran. Kau terlalu keterlaluan memainkan perasaan Lily."


David yang lelah mengetuk pintu Oma akhirnya berhenti, dia menatap kotak besar yang tejatuh saat mencoba menjelaskan pada Oma. David kembali memungutnya, memasukan gaun pernikahan Lily ke dalam.


Pria itu melangkah gontai menuju ke kamar dirinya dan Lily dahulu. Di sana David duduk di atas lantai dengan punggung bersandar pada kaki ranjang. 


David mengusap rambutnya kuat, dia menatap kotak cincin yang berada di atas gaun.


Pupus sudah harapannya, David tidak bisa menemui istrinya.


"Di mana kau, Sayang? Ke mana kau akan membawa anak anak kita?"


🌹🌹🌹


to be continue..


ha ha ha ha ha ha ha