
🌹VOTE YA GAISSS🌹
Oma menatap Athena yang masih mengunyah enggan tidur, dia memakan satu per satu makanan yang dibeli Oma.
"Thea Sayang, apa kau tidak mengantuk?"
"No," ucapnya sambil memakan terus kue di tangannya.
Oma menguap, ini hampir tengah malam. Dan Athena tidak ingin bersama para pengasuhnya, dia lebih suka mengganggu Oma agar tetap terjaga.
Saat melihat Athena menggaruk kepalanya, membuat Oma bertanya tanya apakah Ares benar benar menanam kutu di sana.
"Apa gatal?"
"Ya, lambutna hatal."
"Gatal," ucap Oma membenarkan kalimat cicitnya. "Kemarilah, Oma punya obat untuk rambutmu, Sayang."
"Pastak?"
"What? Pastak? Siapa yang memakai pastak untuk kutu."
"Di lumahna Thea banak labbit."
Oma baru ingat, sekeliling lingkungan rumah cucunya banyak binatang peliharaan. Sengaja supaya Ares dan Athena lebih menghabiskan waktu diluar, tidak seperti anai zaman sekarang yang lebih suka bermain gadget.
"Apa Ares juga menemukan kutu dari kelinci, Nak?"
"Iya."
"Kemarilah."
Oma menuangkan obat kutu yang dia miliki, dia mengoleskannya ke rambut cicitnya.
"Oma…?"
"Ya? Apa, Cantik?"
"Apa kutunya dapat?"
Oma mengerutkan keningnya. "Dapat apa?"
"Kutu," ucap Athena dengan lucu. "Oma dapal?"
Terkadang Oma bingung dengan kata yang keluar dari mulut Athena. "Sebentar…."
Oma dengan kacamata besarnya mencari posisi kutu, sampai dia dapat.
"Dapal, Oma?"
"Dapat, sebentar Oma akan membunuhnya."
"Dangan!" Teriak Athena malah menampahkan tangannya. "Minta."
Dengan polosnya, Oma memberikannya. Dan sedetik setelah itu, Athena berlari keluar.
"Mau kemana?"
"Ales," teriak Athena berlari menuju lokasi Ares berada.
Di sana ada pengasuh yang berjaga tertidur. Membuat Athena langsung masuk saja.
Anak perempuan jahil itu mendekat perlahan, tanpa suara. Apalagi saat naik ke atas ranjang, kemudian tangannya yang menggenggam kutu memasukannya ke dalam rambut.
Ares yang sensitif membuka matanya seketika, dia paham apa yang terjadi. "Huaaaaaa! Omaaaa!"
BUK!
Ares mendorong Athena sampai jatuh ke atas ranjang, kemudian rak buku yang ada di dindingnya menjatuhkan satu buku.
DUK!
"Huaaaaa! Omaaaaa!"
🌹🌹🌹
"Sayang, kau dimana?" Tanya David mencari keberadaan istrinya. "Sayangku? Cintaku? Suamimu yang tampan ini telah pulang, kemarilah sambut dengan pelukan. Aromaku mirip uang baru, aku membawakan sesuatu untukamu. Sayang?"
"Sayang?"
Dia melangkah menuju kamar anak anak. "Say--"
Kalimat David terpotong saat melihat istrinya turun tangga.
"Sayang, bolehkah aku menyentuhnya? Bayiku ad--"
BUK! Lily menabrakan sebuah kertas di dada suaminya.
"Apa ini?"
"Baca saja," ucap Lily lalu masuk kamar kemudian menguncinya dari dalam.
David masih terdiam di sana, bingung adonan kapan yang membuat perut istrinya mengembang. "Seingatku aku tidak menambahkan fermipan saat pulang. Atau….. astaga!"
David baru ingat cinta satu malam yang dia lakukan bersama istrinya saat pulang hanya satu hari itu. Segera David membuka isi amplop.
Di dalamnya ada testpack, USG kehamilan dan juga sebuah surat.
Yang berisi :
*Kau akan mendapatkan bayi kecil lagi. Jangan sering pergi, tetap di sini dan lihat tumbuh kembang anak anak. I love you.*
Kalimat terakhir membuat David menyeringai, dia mendekat menuju pintu. "Sayang…. Buka pintunya ayo."
Lily tidak menjawab. "Aku juga mencintaimu, jadi buka pintunya dan peluk aku. Ayolah, Sayang. Aku tau kau merindukanku."
"Kau menyentilnya!" Teriak Lily dari dalam sana.
"Maaf, aku pikir itu hanya bantal."
"Apa kau berpikir untuk apa aku memakai bantal di perut? Jadi model sumo?"
David terdiam di sana, dia kebingungan sekali. "Sayang…..," panggil David lagi.
"Aku minta maaf."
"Aku kesal padamu."
"Aku membawakan bunga untukmu, aku juga punya banyak kejutan. Ayolah, aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu."
Lily diam di dalam sana, dia membuka anting antingnya dan melemparnya ke sembarang arah.
Lily mengusap perutnya merasakan ngilu bekas disentil David. Sentilannya bahkan menimbulkan suara PLENTUNG yang mana selalu mengingatkan Lily.
"Tidak apa, Sayang, Daddy mu memang begitu. Jangan khawatir ya."
"Sayang….," Panggil David dari sana. "Aku ingin mengelus perutmu."
Lily masih diam, dia berbaring sambil mengusap perutnya.
Sampai dia mendengar suara muntah dari luar sana, Lily mendudukan dirinya seketika. "David?"
Lily ingat David muntah muntah di pesawat, yang mana membuatnya berspekulasi kalau David yang mabuk kehamilan.
"David?"
"Sa… sayang, tolong aku." Kemudian disusul suara muntahan lagi.
Terpaksa Lily membuka pintu, dia menyusul David yang ada di toilet memuntahkan isi perutnya. Lily mengusap punggung suaminya. "Astaga, kenapa kau bisa muntah?"
Tangan David perlahan terangkat menunjuk televisi, "Ada boboho di sana."
Kemudian memuntahkan isi perutnya lagi. Di sana Lily tidak memiliki pilihan selain mengusap punggung suaminya.
"Ingin teh hangat?"
"Iya," jawab David dengan manja. "Tolong ganti channel nya, jangan ada yang berkepala botak."
🌹🌹🌹
TBC.