
🌹VOTE🌹
"Ada yang ingin aku bicarakan, Tuan Muda. Bisakah?"
David tahu napsunya besar pada Lily, tapi dia juga tahu apa yang akan dikatakan Holland penting. Mengenai orangtua Lily yang tidak menginginkannya. Maka dari itu, David memilih mengenyampingkan napsunya untuk sesaat.
"Datang ke hotel Royale Davison. Tunggu aku di lobi."
"Baik, Tuan."
Dari balkon, David menatap Lily yang masih terbaring dengan selimut sampai batas leher.Â
"Aku akan keluar sebentar."
"Baiklah."
Sebelum keluar dari kamar, David merangkak ke atas ranjang lalu mencium dalam bibir Lily.
Membuat perempuan itu malu sekaligus takut. Lily merasakan celana dalamnya basah, dia mencoba berdiri, tapi pahanya bergetar menyisakan sensasi sebelumnya.
Lily diam sejenak. "Astaga, rasanya aneh."
Ketika berjalanpun, Lily merasa aneh. Merasa ada sesuatu yang mengganjal diantara pahanya. Lily pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, wajahnya memerah saat mendapati banyak kissmark di leher dan dadanya.
Di saat bersamaan, David turun ke lobi. Menemui Holland di resto hotel.Â
Dalam waktu lima menit, Holland sampai di sana.
"Tuan Muda."
"Bagaimana?"
Holland duduk saat mendapatkan izin. "Saya menemui mereka tadi pagi, menjelaskan semuanya secara detail. Namun, mereka menolak kehadiran Nyonya Muda. Mereka mengatakan tidak ingin menemuinya lagi, mereka menganggap Nyonya Muda adalah pembawa petaka."
"Beraninya mereka berkata seperti itu, apa mereka tahu siapa aku?"
Holland mengangguk, dia mengeluarkan beberapa berkas. "Mereka mengembalikan semua ini, mereka tidak ingin terlibat lagi dengan Nyonya Muda. Dan ini, Tuan Muda…."
"Apa ini?" David menerima sebuah amplop putih.
"Itu adalah pesan dari mereka untuk anda."
David membukanya, dia mendapatkan sepucuk surat bertuliskan :
Salam sejahtera, Tuan David Fernandez.
"Salam sejahtera apanya."
"Ya, Tuan Muda?"
"Diamlah, aku akan membaca pesan ini."
"Baik, Tuan."
David melanjutkan membaca.
*Saya selaku manusia yang melahirkan Lily senang mengetahui dia kini menikah dengan orang kaya. Sepertinya dia beruntung melebihi saya. Dan saya harap, anda tidak memberitahukan kebenarannya pada Lily. Saya tidak ingin berjumpa dengannya, banyak alasan yang tidak bisa saya katakan. Pada intinya, saya harap anda bahagia bersama Lily, tanpa mengganggu kebahagiaan kami juga. Masa muda saya telah hancur karenanya, jadi masa tua saya berharap lebih baik.
Terima kasih*.
"Apa mereka tidak tahu aku sangat kaya?"
Holland diam.
"Mereka akan ke China bukan?"
"Ya, Tuan."
Betapa kasihannya Lily, itu yang membuat David memilih mementingkan ini.
"Kerja bagus, Holland. Aku akan membawa ini ke atas."
"Baik, Tuan Muda."
"Tetaplah berada di sekirar sini, aku akan membutuhkanmu."
"Baik, Tuan Muda."
Dan ketika David kembali ke kamarnya, dia mendapati seorang pelayan ada di depan kamarnya. "Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Maaf, Tuan. Nyonya Besar menyuruh kami mengunci pintu."
David berdecak, dia mengisyaratkan agar mereka pergi.Â
Saat masuk ke dalam, dia melihat Lily sudah tertidur. Begitu pulas hingga membuat David lupa menyimpan berkasnya di atas nakas dan naik ke atas ranjang. Dia memeluk Lily, mengusap seolah menenangkan. Bahasa tubuhnya mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatikan, bahwa Lily memiliki dirinya sebagai pengganti orangtua.
"Tenanglah, kau punya suami yang tampan, pintar, tinggi dan kaya. Aku berkharisma, uangku tidak akan habis tujuh turunan, tidak ada yang bisa menguras habis hartaku."
🌹🌹🌹
"Da...David… kau sudah bangun?"
"Kita belum menyelesaikan perintah Oma."
"Itu…." Lily menunduk, dia mulai panas dingin ketika tangan David kembali merayap dan menyentuh kewanitaannya. Bermain di sana dengan gerakan memutar. Lily tidak bisa menolak. "Tunggu…. David…."
"Ya?"
"Aku takut," ucap Lily pelan.
David mengerutkan keningnya. "Apa yang kau takutkan?"
"Itu… sakit, katanya bisa membuat sakit sampai berdarah."
David menghentikan gerakan jarinya. Lily masih muda, belum bayak pengalaman, dia juga wanita terpolos yang David temui. "Tapi Oma menginginkannya, Lily."
"A… aku tahu."
"Ini tidak sakit, coba rasakan ini."
"Akhh…." Lily menjerit menahan kenikmatan saat jemari David bergerak semakin cepat. Tangan Lily meremas punggung David yang telanjang dada. "David….." Kenikmatan semakin bertambah saat David membuka lebar paha Lily. Tangannya yang lain bermain di dada Lily.Â
"Aaaaakkhhh, pelankan…." Lily menggigit bibir bawahnya saat David mencubit kacang kecil dalam kewanitaanya.
"Tidak, kau menyukainya." David menyeringai saat Lily memejamkan mata.Â
"David… aku tidak bisa…."
"Keluarkan, Lily." David semakin melebarkan paha Lily.
"Akh…. Sudah…. Hentikan." Lily memejamkan matanya, dia menyembunyikan wajahnya di dada David saat hawa panas menyapu tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, dan semua indra perasanya hanya fokus pada apa yang dilakukan David.
Lily frustasi. "David….. aku….."
"Lepaskan, Lily….."
Lily mengelinjang merasakan dirinya dilanda sesuatu di perut bagian bawah. Dia mencoba menjauhkan tangan David dari dalam celananya, tapi tangan David terlalu kuat, dengan jemarinya yang dia mainkan semua.
David menyeringai melihat Lily kewalahan. "David…."
"Jangan ditahan, Lily."
"Akkkhhhh…"
Saat itulah David merasakan bagaimana hangatnya cairan Lily, dan David menyukai pemandangan di depannya. Dia suka Lily frustasi hingga akhirnya melepaskan semuanya. Dan David masih dalam prinsip yang sama, dia ingin Lily yang meminta melanjutkan.
"Kau menyukainya, Lily. Itu terserah padamu ingin dilanjutkan atau tidak karena Oma hanya memberi perintah padamu."
Lily merasa hampa ketika David menarik tangannya pelan, David memberikan kecupan kemudian meninggalkannya di atas ranjang.Â
Saat kesadarannya kembali, Lily menutup pahanya yang terbuka lebar. Adegan tadi membuat Lily kelelahan setengah mati, membuatnya kembali tertidur dengan keadaan pakaian yang tidak karuan.
🌹🌹🌹
David menyeringai mendapati Lily yang kembali tertidur. "Astaga, bagaimana jika aku bermain dan memulai semuanya?"
David memakai pakaian dengan tatapan menatap Lily, sampai dia merasakan sesuatu di bagian bawah tubuhnya, dia menunduk menatap, "Tenanglah harta karunku, kau akan segera kembali dikubur dalam hangatnya tanah."
David mencoba menenangkan agar tidak mengeras. "Ayo, tenang. Kau akan suka saat masuk ke dalam gua yang sempit."
David berfikir sejenak. "Apa muat? Kau terlalu besar, miliknya sangat kecil, aku pernah memegangnya. Hanya seukuran ini." David memperagakan bentuk bulat dengan jemari.
Lalu di sandingkan dengan kejantanannya. David terkejut. "Terlalu kecil, dia akan merasa sesak."
David mencoba memasukan bulatan yang dia buat di tangan. "Tidak masuk sama sekali, dia akan merasa sakit untuk awalnya."
Percakapan pada diri sendiri berakhir ketika David pergi ke balkon untuk menghubungi Holland.
Saat itulah, Lily terbangun. Dia menggeliat merasakan lengket di bagian kewanitaannya. Malu, Lily segera memakai selimut.
Dia hendak ke kamar mandi, tapi sesuatu di atas nakas menarik perhatiannya. Di sana berantakan, dan Lily ingin membereskannya.
Namun, Lily tidak sengaja membacanya. Bagaimana isinya adalah identitas tentangnya dan juga orangtuanya.
"Lily?"
"David…." Lily berbalik dengan mata berlinang air mata. "Orangtuaku masih hidup?"
🌹🌹🌹
Tbc..
🌹VOTE🌹
"Mereka masih hidup, David?"
"Ya, aku mencari semuanya secara menyeluruh. Aku tidak ingin menikahi wanita berpenyakitan turun temurun, dan aku menemukan keberadaan orangtua kandungmu."
Lily diam, dia berbalik dan kembali membereskan tumpukan file itu. Lily menahan rasa sesak seorang diri. "Kau akan mandi sekarang?"
David tahu Lily mengalihkan perhatian menutupi kesedihan. "Aku sudah mandi."
Lily seolah lupa dengan semua kenikmatan yang dia dapatkan dari David. Tatapannya kosong, membuat David khawatir.
"Aku akan mandi dulu."
David membiarkan Lily pergi. Dalam kamar, sesekali dia melihat ke arah kaca yang tembus pandang. Bagaimana Lily berendam dalam bathun penuh dengan keterdiaman, semua sinar dan cahaya cerianya seolah sirna oleh sesuatu. Dan David turut merasakan akibatnya, napsunya hilang, yang ada dia malah ingin memeluk dan mengasihinya.
Saat Lily keluar, David segera menyerahkan papper bag. "Pakai ini, kita tidak mungkin turun denganmu yang menggunakan lingerie."
"Terima kasih."
Lily bahkan tidak peduli David yang ada di sana saat Lily berpakaian.Â
"Kita akan sarapan di bawah," ucap David.
Lily hanya mengangguk.
Perempuan itu terlihat kesulitan menyisir, membuat David mendekat. "Biar aku sisirkan."
"Tidak perlu, aku bi--"
"Berbalik."
Lily memunggungi David. Keduanya duduk di atas ranjang, Lily membiarkan David menyisir rambutnya pelan. Lily selalu mendambakan kasih sayang orangtua, seperti disisirkan rambut oleh sosok ibu. Sakitnya Lily bahkan membuatnya menangis dalam diam seorang diri.
"Apa kau menangis?"
Lily buru-buru mengusap air matanya. "Tidak."
David tahu Lily menanggung rasa sakitnya sendiri. Seolah terbiasa sendiri, Lily tidak ingin berbagi.
"Mereka berada di daerah Pasawahan, tempat kau lahir. Kedua orangtuamu kembali bersama setelah beberapa belas tahun berpisah. Dan aku dengar mereka akan ke China."
Lily hanya mengangguk pelan dengan tatapan kosong.
"Aku mencoba membuat koneksi agar kau bisa bertemu mereka, tapi mereka menutup diri."
Tanpa diduga, Lily malah berkata, "Terima kasih, David."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
🌹🌹🌹
"Lily, berhenti melamun," ucap David saat mereka sarapan di lantai bawah.
Lily segera mengerjapkan matanya dan menatap David. "Aku tidak melamun."
Kenyataannya, Lily masih merasakan rasa sesak seorang diri. "Apa makanannya tidak enak?"
"Ini enak."
"Kalau begitu makan dengan benar."
Lily mengangguk, dia makan banyak tapi tidak terlihat menikmatinya. "Jangan dipaksakan jika tidak suka."
"Aku suka."
Sarapan yang terasa hambar, bahkan untuk David. Diamnya Lily membawa dampak besar, bagi hidup David yang penuh kekayaan.
Saat kembali ke kamarpun, Lily lebih banyak melamun. Menatap kosong dengan tangan saling memainkan satu sama lain.
Saat Lily melamun, David menghubungi Oma di balkon. Tatapan David tidak berpaling dari Lily yang masih melamun.Â
Bahkan ketika selesai menelpon dan David kembali masuk ke kamar, Lily masih melamun di atas ranjang.
"Lily…"
"Jangan menanggungnya seorang diri."
"Apa maksudmu?"
David mengulurkan tangannya. Yang membuat Lily bertanya, "Kita mau ke mana?"
"Ikut saja."
Ternyata David membawa Lily keluar balkon, memperlihatkan sibuknya minggu pagi di Jakarta. "Lihat di luar sana, banyak yang lebih menderita daripada dirimu. Kau beruntung memiliki aku di sisimu, yang kaya juga tampan."
Kenyataanya, itu tidak membantu.
"Jangan menanggungnya sendirian, menangislah jika perlu."
"Aku tidak ingin menangis," elak Lily.
"Jangan berbohong, aku tahu kau ingin menangis."
Lily menggeleng enggan mengakui.
Sampa akhirnya sebuah ide terbesit di benak David. "Jika kau malu karena adanya diriku, maka aku akan berbalik. Kau tidak seorang diri, kau boleh meminjam punggungku jika mau."
Awalnya hanya ada kesunyian yang menjawab. Sampai beberapa menit kemudian, Lily memeluk David dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung David lalu menangis dalam diam.
"Bagus, menangislah. Jangan ditahan, karena kau manusia, bukan setan."
🌹🌹🌹
Saat terdengar deru mobil Holland, Oma buru-buru keluar. Dilihatnya hanya David yang keluar mobil, sementara Lily diam di sana penuh kesedihan.
"David… bagaimana Lily sekarang?"
"Dia masih banyak diam."
"Jadi kalian belum membuka pabrik?"
"Ayolah, Oma."
"Oma hanya bercanda," ucap Oma dengan wajah serius. Dia memanggil pelayan, "Eta!"
"Ya, Nyonya Besar?"
"Mana pakaian David dan Lily?"
"Ini Nyonya Besar," ucap Eta memberikan dua koper besar sampai di batas pintu.
"Terima kasih, dan pergilah lagi," ucap Oma. Dia kembali menatap David. "Apa kalian serius akan pergi ke Ciamis?"
"Oma sudah mendengar penjelasanku di telpon, Lily tidak akan ceria lagi sebelum dia sendiri yang menemui mereka."
"Bagaimana jika mereka malah mengusir Lily?"
"Aku ada di sisinya."
Jujur saja, Oma sangat khwatir dengan rencana kepergian ini. Apalagi mendengar cerita lengkapnya dari David, membuat Oma enggan melepaskan Lily dan mempertemukannya dengan orang-orang itu.
"Oma ingin menemui Lily dulu."
"Pergilah," ucap David.
Oma menuruni tangga, dia menuju Lily yang ada di dalam mobil. Sadar Oma mendekat, Lily mengusap air matanya dan keluar. "Oma?"
"Sayangku…." Oma memegang tangan Lily kuat. "Dengarkan Oma baik-baik."
"Aku mendengarkan, Oma."
"Tidak peduli apa yang akan mereka lakukan dan katakan padamu. Satu pesan, Oma. Pulanglah kemari bersama David, kau adalah bagian dari keluarga Fernandez. Kau adalah keluarga kami, harta kami, dan kau adalah cucuku yang cantik."
Lily tersenyum, dia segera memeluk Oma. "Lily akan kembali, Oma."
🌹🌹🌹
Tbc..