Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Kenyataannya, mereka berdua hanya makan saat pulang sekolah saja. Selebihnya Ares kembali mengantarkan Cantika karena dirinya tiba-tiba ditelpon oleh sang pelatih untuk ke sekolah dan melakukan persiapan untuk pertandingan.


“Maaf ya, aku akan mengajakmu main lagi lain kali.”


“Jangan khawatir, aku baik baik saja,” ucap Cantika yang masih berada di bangku belakang kuda besi tersebut.


Sementara Ares tidak bisa menahan kekecewaannya terhadap diri sendiri. “Nanti malam aku akan menghubungimu, mengirimimu pesan. Oke?”


“Oke,” ucap Cantika yang masih sedikit kikuk karena status diantara mereka kini tengah berubah.


Yang mana pria yang sedang dia peluk saat ini adalah pacarnya. Astaga, rasanya Cantika ingin mati saja ketika mengingat Ares adalah pacaranya.


“Dan masalah Laura, jangan biarkan dia menggertakmu oke? Aku akan meminta pengacaraku untuk membereskannya.”


“Apa yang akan kau lakukan, Ares?” tanya Cantika khawatir.


“Tidak banyak, hanya membuatnya jera.”


“Jangan keterlaluan ya, dia bersikap seperti itu karena merasa dikhianati olehmu yang sebelumnya menunjukan tanda-tanda rasa suka padanya.”


“Oke, aku mengaku salah, aku hanya penasaran padanya, Centini. Bukan suka, rasa sukaku hanya untukmu,” ucap Ares menegaskan, bersamaan dengan motor berhenti di depan gerbang rumah Nenek Cantika.


Dimana perempuan itu segera turun, berhadapan dengan Ares sambil membuka helm. “Oke, hanya saja jangan terlalu keras padanya.”


Ares mengangguk paham. “Hmmm… sekarang apa?”


“Apanya bagaimana?”


Ares mengerutkan keningnya. “Bukankah jika di film-film sang pria akan mencium kening pacarnya?”


“Apa?” Cantika sontak menutup keningnya dengan tangan. “Jangan lakukan itu, nenek dan kakekku ada di rumah.”


“Astaga menggemaskan. Tenanglah, aku berpacaran denganmu bukan untuk mendapatkan skinship,” ucap Ares sembari mencubit pipi Cantika saking gemasnya. “Untuk kecupan waktu itu, aku minta maaf ya, aku sedikit kesal mengingatmu pergi bersama dengan Galuh.”


Membicarakan hal itu, membuat Cantika malu. Mengingat hal yang telah terjadi antara dirinya dan Ares, yang menimbulkan keributan. “Hmmm…., aku paham.”


“Sekarang pergilah masuk. Aku harus memastikan kekasihku masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan baik.”


“Oke, terima kasih,” ucap Cantika malu-malu, kemudian dia berlari kecil menuju rumah. Dimana sebelum dirinya masuk, Cantika membalikan badan dan melambaikan tangannya dengan senyuman manis.


Tentu saja Ares membalasnya dengan senyuman pula, tapi di dalam senyuman itu dia menggertakan gigi sambil bergumam, “Kenapa dia terlihat sangat imut dan cantik? Kenapa baru sadar?”


🌹🌹🌹🌹🌹


Ares sudah menduga dirinya akan menjadi bahan olok-olokan di tim basketnya, dimana sebelumnya Ares selalu menepis opini mereka yang mengatakan kalau Ares telah menyukai Cantika tanpa sadar.


“Diem lu, Sam.”


“Gila ya, Ar. Lu boncengin dia, beliin dia susu sama roti tiap pagi. Dan baru sadar sekarang?”


“Gue butuh referensi buat ngedate nih. Weekend nanti gue mau ajak dia seharian keliling Jakarta ke tempat-tempat estetik.”


“Lah, lu bisa nyuruh sekretaris pribadi lu.”


“Lu ajalah, Sam, yang punya banyak mantan. Biar gak bayar juga.”


“Siallan,” ucap Samuel mendengus kesal. “Nanti deh gue kasih tau sama lu. Dikirimin ke chat.”


Kini keduanya sedang berjalan menuju ke parkiran sekolah, dimana latihan tengah usai. Dan Ares akhirnya bisa keluar dari kubangan orang orang yang meledeknya, termasuk pelatihnya sendiri. sial memang, benar benar menyebalkan.


“Oma lu pindah Amerika?”


“Yoi, Bokap gue juga mau pensiun, mau ke tanah kelahirannya katanya.”


“Lah, lu di sini sendirian dong?”


“Lah, lu lupa gue calon CEO anjiir? Gue boss-nya, gue bakalan di sini, jadiin lu budak kerja gue, terus bikin Centini jadi cewek paling bahagia sealam dunia.”


“Lu masih manggil Centini?”


“Apa masalah lu?!” tanya Ares tidak suka tatkala Samuel mengatakannya dengan nada suara aneh. “Cum ague yang boleh manggil dia kayak gitu. Lu lupa?!”


“Enggak, Ar. Sabar, sorry.” Samuel ketakutan luar biasa. “Daripada lu marah marah, mending telpon cewek lu. Doi pasti suka ditelpon tiap waktu, soalnya kebanyakan cewek gitu.”


“Emang iya?”


“Coba aja.”


Ares berdecak, dia mendorong pelan Samuel supaya menjauh dan tidak mendengarkan percakapannya. Namun, dua panggilan pertama tidak diangkat. Sampai panggilan ketiga akhirnya diangkat.


“Hallo, Centini. Aku baru pulang latihan, apa yang sedang kau lakukan? Jangan bilang kau mulai merindukanku, nanti malam kita telponan ya,” goda Ares.


“Ini Neneknya, Cantika sedang diluar.”


“Astaga, Nenek!” Ares syok, apalagi dia menggunakan nada suaranya yang aneh. “Maaf, Nek. Keluar kemana ya?”


“Bertemu Laura.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE