
🌹VOTE🌹
"Ada apa?"
"Tidak ada."
David menerima suapan dari Lily, dia masih memegang pinggang istrinya. "Katakan padaku, apa masalahnya."
"Kau benar-benar akan ke Bali?"
David menyeringai. "Kau tidak ingin aku pergi?"
Lily diam, malu mengakui. Lily memakan dadar gulung dengan David yang terus merangkul pinggangnya. "Lebih baik jujur bukan?"
Lily masih diam.
"Lily? Apa boleh aku pergi?"
Lily menunduk sedih.Â
"Lily Sayang."
"Apakah boleh jika kau tidak pergi?"
"Apa?" David benar-benar tidak mendengar karena suara Lily yang pelan. "Katakan lagi."
"Jangan pergi…"
David menyeringai. "Kalau begitu beri aku ciuman."
Lily menatap David malu-malu. "Dimana?"
"Di bibirku."
Saat Lily melakukannya, David menyeringi senang. Dia menahan pinggang Lily. "Sudah kenyang?"
Lily mengangguk.
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Terserah padamu."
"Kakimu masih sakit bukan?"
Lily mengangguk.
"Kita akan naik perahu dan jalan-jalan sekarang, supaya nanti sore bisa tidur kembali."
"Kau tidak akan ke Bali?"
"Tidak, aku akan menemanimu liburan karena ka tidak bisa jauh dariku, Lily Sayang."
Lily masih gugup ketika mendengar kata itu dari mulut David. Sebuah kata Sayang yang belum pernah dikatakan siapapun untuknya.
"Tapi aku masih kesulitan berjalan."
"Tidak usah khawatir, aku akan menggendongmu."
"Sepanjang perjalanan?"
David mengangguk, dia menyimpan makanan di tangan Lily. "Ayo kita berjalan-jalan."
"Bagaimana denganku?"
"Aku akan menggendongmu, tenang saja."
David memunggungi Lily, membuat perempuan itu perlahan naik ke gendongan David. Awalnya rasanya sakit ketika Lily membuka pahanya, tapi semakin lama semuanya semakin menyenangkan. Apalagi saat David membawany keluar dari villa.
Berada di dekat pantai, membuat kaki David menginjak langsung pasir. Pria itu awalnya kesal saat banyak pasir masuk ke kakinya, membuat sandalnya kotor.
Lily terpaku pada perahu yang ada di tepi pantai.
"Apa itu perahu yang akan kita naiki?"
David mengangguk.Â
"Kenapa di sini tidak banyak orang?"
"Pengunjung dibatasi, aku yang meminta."
"Bagaimana bisa?"
David terkekeh, "Aku bisa melakukan apapun tanpa kau ketahui."
Lily tersenyum saat didudukan di sebuah perahu kecil terbuka.
"Jika saja kau mengtakannya, aku akan membeli kapal besar."
"Aku suka dengan yang ini." Lily dipakaikan pelampung oleh David.
Seorang pengendara perahu bertanya, "Atos siap, A? (Sudah siap, A?)"
"Apa katanya?" Tanya David.
"Aduh, Punten, A. Maksud saya, sudah siap?"
"Sudah, Pa."
"Hati-hati si tetehna nanti tikecebur, peluk yang erat, A."
David menyeringai. "Kau dengar? Kemarilah mendekat dalam pelukanku."
🌹🌹🌹
David tanpa sadar tersenyum melihat Lily yang duduk di atas pasir dengan ombak yang sesekali menyapu kakinya. Sambil duduk di atas akar pohon, pandangan David tidak beralih dari istrinya. Sampai dia mendengar ponselnya berbunyi, itu dari Sebastian.
"Hallo, Bas, bisakah kau tidak mengangguku?"
"Wow, memangnya ada apa?"
"Aku sedang berbulan madu dengan istriku."
Terdengar Sebastian yang tersedak, terbatuk dan berkata, "Kalian berbulan madu?"
"Tutup mulutmu, aku bukan pecundang."
Sebastian berdecak. "Well, kapan kau kembali? Kita ada proyek yang perlu ditinjau di Bali."
"Lusa mungkin, aku tidak bisa berada di sini lama."
"Apa kau tahu dimana Luke?"
"Kenapa kau bertanya?"
Sebastian diam.
"Bas."
"Dia sensitif ketika aku membicarakanmu dan istrimu."
"Kalian membicarakanku?"
"Oh, ayolah, kau pasti tahu apa isi percakapannya."
David memutar bola matanya malas. "Ada apa dengannya?"
"Aku rasa…."
"Apa?" David tidak suka.
"Sepertinya Luke menyukai istrimu, entah bagaimana dia tidak suka saat aku menyebutkan kata aneh untuk istrimu."
Kini David memandang Lily tajam, David tidak akan membiarkan siapapun menyentuh miliknya. Dan David tidak akan salah bertindak, dia tidak akan melakukan apapun pada Luke sebelum dia sendiri yang melihatnya. David adalah orang yang tidak mudah percaya. Jika dia melihat Luke mendekati Lily secara terang-terangan dan melakukan sesuatu di luar kendalinya, baru David akan bertindak.
"David, pakaianmu bisa basah."
"Basah bersamamu tidak masalah bagiku."
Lily diam malu, dia meraskan air ombak menyapu kakinya yang mungil.Â
"Kau ingin bersandar di dadaku?"
Lily malu.
"Ayo lakukan, aku tahu ka terpesona olehku."
Kenyataannya, David yang menarik kening Lily sehingga dia bersandar di dada pria itu. Dengan pelukan David yang semakin erat dari belakang.
Pasir putih dengan kunjungan terbatas, tentu saja itu karena David.
"Kita akan pulang lusa, tidak apa bukan?"
"Lusa? Apa kau tidak bekerja."
"Ck." David berdecak. "Jika aku membawamu pulang sekarang dengan keadaan tidak bisa berjalan, Oma akan memakanku hidup-hidup."
Lily diam, dia merindukan sosok Oma.
"Kau merindukan Oma?"
Lily mengangguk pelan.
"Nanti malam kita akan Video Call dengannya."
Lily tersenyum senang, dia menoleh pada David. "Benarkah?"
"Ya, kau bisa bercerita pada Oma betapa hebatnya aku membuat adonan."
Pipi Lily seketika memerah. "Itu tidak sopan."
"Oma akan suka, dia suka cucunya perkasa."
"Astaga," gumam Lily tanpa suara.
🌹🌹🌹
Kembali digendong oleh David, mereka memilih berjalan kaki menuju villa. Tidak lagi menaiki perahu dikarenakan panas terik.
"Apa kau lelah?"
David terkekeh. "Aku pria perkasa, tidak akan lelah hanya karena menggedong perempuan kapas sepertimu."
Lily terdiam, dia tetap memeluk leher David.
Dan David, diam-diam dia suka ketika dada Lily bersentuhan dengan punggungnya. Rasanya hagat dan empuk, David benar-benar kecanduan dengan segala yang berhubungan dengan Lily.
"Peluk aku lebih erat."
"Sudah."
"Lebih erat."
Lily menghimpit tubuhnya dengan David, membuat pria itu semakin menyeringai.
"Ahh… hangatnya."
"Apa yang hangat?" Tanya Lily bingung.
"Tidak ada."
Sampai terus melangkah, suara perut Lily berbunyi. Sangat keras sehingga David mendegarnya. "Kau lapar?"
"I… iya…"
"Berhenti bersuara kecil, kau mengingatkanku akan tadi malam."
Sontak saja Lily malu.
"Ingin makan apa?"
"Sate seafood."
"Tahu tempat yang enak?"
Lily mengangguk.
"Oke, kita akan ke sana dengan Holland."
Namun, sebelum mereka sampai di villa. Ada sekerumunan anak SMP sedang melakukan study wisata, dalam pakaian mereka tertulis, 'English Club.'
Dan salah satu dari mereka mendekati David.
"Hello, sir Sorry to bother, can I do an interview? (Hallo, Tuan. Maaf mengganggumu, apakah aku boleh melakukan wawancara?)"
David berhenti melangkah, melihat wajah mereka yang kecokelatan terpapar sinar matahari membuat David kasihan.
"Of course. Come take shelter there (Tentu saja. Ayo berteduh di sana.)"
"thank you (Terima kasih.)"
Pelafalan mereka belum lancar, tapi David paham. Lagipula David tidak ingin membuat mereka patah semangat dengan bicara bahasa Indonesia.
"Meet me Amel and this is my friend Suki. What is your name, sir? (Perkenalkan saya Amel dan ini temanku Suki. Siapa nama anda, Tuan?)"
"My name is David, and this is my wife Lily (Namaku David, dan ini istriku Lily.)"
"Oh, is she sick? (Oh, apakah dia sedang sakit?)"
Lily hanya diam dibelakang tubuh David.
"Yes, her legs are a bit problematic, but fine. What do you want to ask? (Ya, kakinya sedikit bermasalah, tapi baik-baik saja. Apa yang ingin kalian tanyakan?)"
"Where do you come from? (Darimana kau berasal?)"
"From America (Dari Amerika.)"
"Why did you visit Pangandaran? (Kenapa anda berkunjung ke Pangandaran?)"
"Because I know this beach is very beautiful (Karena aku tahu pantai ini sangat indah.)"
Ketika David tengah melakukan wawancara, Lily tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil. Dia berbisik pada telinga suaminya. "David, aku ingin buang air kecil."
David mencoba biasa. "Just a moment, honey. We end this. (Sebentar, sayang. Kita akhiri ini.)"
Lily tidak mengerti, dia mengerutkan keningnya.
"David…."
"Just a moment, honey. This will end (Sebentar, sayang. Ini akan berakhir.)"
Dan buang air kecil tidak bisa Lily tahan lebih lama, membuatnya terpaksa berdiri sendiri dan melangkah hingga akhirnya jatuh.
Spontan David berkata, "Lihat, aku bilang tunggu sebentar. Apa kau tidak bisa menahannya?"
Melihat pasangan itu, dua anak yang mewawancarai mengedipkan matanya heran.
"Aku rasa dia bule gadungan, Mel."
"Iya, aku rasa begitu."
🌹🌹🌹
TBC.