
🌹Ayo ajak temen baca ini ya, Guys🌹
Dalam mobil, Lily bertanya tanya kemana dia akan dibawa oleh David. Apartemen yang David maksud, belum pernah Lily ketahui.
Apalagi mereka membawa banyak barang, pakaian seolah ingin pindah.
"Apa kita akan tinggal di sana?" Tanya Lily.
"Orang bilang jika pertama rumah tangga harus berpisah dari siapapun, aku rasa itu akan bagus. Karena kau bisa melayaniku dengan bebas di tempat manapun, kau pasti akan suka, Lily."
"Ah.. yaa…"
"Tapi di sana tidak ada apapun, kita berbelanja dulu?"
Lily hanya mengangguk setuju, dia sedikit malu saat tangan David menyentuh pahanya dan mengusap di sana. Apalagi ketika mulai masuk ke dalam rok.
"David, aku masih haid."
"Aku tidak akan melakukannya, aku hanya mengusap pahamu yang dingin. Kasihan tidak ada kehangatan."
Bagaimana tidak, tubuh Lily dingin karena David sengaja mengatur Ac hingga sangat rendah. Tubuh Lily menggigil, dan tidak dipungkiri usapan David di paha membuat Lily hangat.
Sampai di sebuah pasar modern, keduanya turun dari mobil. Berjalan di basement, David mendorong troli besar untuk diisi berbagai makanan dan persediaan di apartemen.
"Beli bahan pokok dulu," ucap David menatap ke arah daging. "Kau yang pilih."
Lily mengangguk, dia memilih daging sapi. "Tolong berikan ini setengah kilo," ucap Lily pada pelayan di sana.
"Kenapa yang itu?" Tanya David. "Yang ini lebih bagus."
"Yang ini lebih murah."
David kehabisan kata kata, dia berdehem. "Lily Sayang….," Ucapnya lalu memberikan ciuman di pipinya. Membuat Lily malu dan mendorong dada David pelan. "Beli saja yang ini, uangku tidak akan habis olehmu."
Pelayan daging berjenis kelamin wanita yang berusia enam puluhan itu tertawa. "Ya ampun, kalian adalah pasangan yang serasi. Pasti baru menikah bukan?"
"Ya," jawab Lily malu malu.
"Aku bisa langsung lihat, anak kalian kembar nantinya. Kalian akan bahagia sampai tua."
Lily menunduk malu, berbeda dengan David yang memeluk pinggang Lily lalu mencium puncak kepala istrinya. "Ya, istriku ini sangat menyukaiku, dan aku akan bisa memenuhi semua kebutuhannya. Dia tidak bisa jauh dariku, karena aku sangat sempurna."
Pelayan itu tertawa, memperlihatkan tubuhnya yang sudah keriput. Sebenarnya dia sudah pantas duduk tenang, tapi malah bekerja karena tuntutan ekonomi. Selain itu dia punya kelebihan sehingga dipekerjakan.
"Aku melihatnya, kalian saling melengkapi satu sama lain. Sangat bahagia sampai akhir."
David yang mendapat sanjungan itu berkata, "Berikan aku dua kilo untuk masing masing daging premium."
Seketika Lily membulatkan matanya. "Itu sangat banyak."
"Aku suka kau gemuk."
"Apalagi gemuk karena mengandung bukan, Tuan?"
"Begitulah," ucap David tertawa, dia kembali mendorong troli. "Apalagi sekarang? Sayuran?"
"Ya, beberapa sayuran."
Lily memilih sayuran dengan baik, sampai akhirnya David ingat, "Sabunku habis, bisa kau ambilkan? Dengan aroma yang sama dengan di rumah."
"Baik."
"Belikan juga detergen, di sana tidak ada."
Lily pergi mencari di bagian sabun, mengambil beberapa sampai mata Lily terpaku pada sabun sirih. Di sana tertulis bahwa memakai sabun itu akan membuat suami semakin betah dan lengket.
Lily membacanya, dia tidak tertarik membeli, hanya saja penasaran.
Sampai David datang, dia terkejut melihat Lily memegang itu. David menyilangkan tangan di dada, dia berkata, "Tidak perlu memakai itu, Sayang. Milikmu sudah sangat sempit, kau bisa membunuhku jika semakin sempit, dan lagi kau akan menggeliat kesakitan."
Seketika pipi Lily memerah, dia menyimpan benda itu kembali.
"Aku tidak ingin membelinya."
"Ya, karena milikmu sudah sempit, bahkan terkadang sulit untuk masuk keseluruhan."
"Maaf, David, ini di mall."
"Aku maafkan."
🌹🌹🌹
Sampai di basement apartemen, David meminta penjaga membawa barang belanjaan.
"Kau tinggal di sini?"
"Ya, sebelum menikah aku sering berada di sini," ucap David menggandeng tangan Lily.
Sebuah apartemen yang mewah, hanya ada dua pintu di satu lantai. Terkecuali lantai paling atas, di sana hanya ada satu ruangan yaitu apartemen David. Dengan lebih luas, kolam renang dan juga lantai dua yang hanya diisi oleh kamar utama dan perpustakaan terbuka.
Sungguh modern dan bagus.
"Terima kasih," ucap Lily pada petugas yang membantu.
"Sama sama, Nyonya."
Apartemennya tidak terlihat kotor, sepertinya dibereskan oleh seseorang setiap saat.
"Aku menyewa sebuah pelayanan pembersih setiap dua hari sekali."
"Oh ya?"
"Kamar kita di lantai dua, sementara aktivitas di lantai satu."
"Aku paham."
Masih dengan genggaman tangan David, mereka naik ke lantai dua. Sebuah kamar yang didominasi kaca. Ada sebuah pintu di sana, yang menyambung dengan balkon, sungguh indah melihat pemandangan kota.
"Bagus bukan?"
Lily mengangguk.Â
"Kau akan betah tinggal di sini. Jika perlu apa apa hubungi saja caffe di bawah, mereka buka 24 jam untukku."
Lily melepaskan pelukan David.Â
"Mau kemana?"
"Membuat makan malam."
"Tidak," ucap David memegang bahu Lily. "Mandi dan berpakaian dengan bagus, kau beruntung suamimu yang tampan ini akan memasak untukmu."
"Apa?"
"Kau mendengarnya. Oh ya…" David menjauh beberapa langkah. "Pakai sabun sirihnya, aku pikir aku suka yang lebih kecil lagi."
Pipi Lily memerah, apalagi saat David menjauh keluar dari kamar.
Lily pergi ke kamar mandi, dan ini lebih mewah dari yang di mansion Oma. Di sini Lily disuguhkan dengan rumah modern yang didominasi kaca gelap dan lantai marmer.
Lily mandi, berpakaian piyama hello kitty, menggelung rambutnya dan hanya memakai bedak. Saat keluar kamar, Lily langsung berhadapan dengan pagar pembatas lantai dua. Dikarenakan hanya ada dua ruangan di lantai dua.
Langit langit yang tinggi membuat apartemen terlihat sangat luas. Dengan lampu besar berwarna silver.
Tangganya yang berjarak dan terbuat dari marmer, berbeda jauh dari mansion yang klasik dan seperti zaman dulu.Â
Aroma masakan tercium kuat.
Lily menahan senyumnya melihat David memakai apron.
"Apa yang kau masak?"
"Makanan," ucap David berbalik dan menyimpan makanan terakhir di meja. "Duduklah."
Lily melakukannya.
"Kau harus beruntung karena aku membuatkan makanan untukmu, aku ini suami idaman. Tidak semua pria melakukan ini, dan aku melakukan agar kau cepat selesai haid."
"Eum… David, haid tidak diberhentikan sesuai keinginan kita."
David diam sesaat. "Setidaknya aku berusaha. Sudah makan saja."
"Baiklah."
🌹🌹🌹
Di sebuah hotel, Dena dan Megan sedang makan malam. Keduanya diam memikirkan apa yang harus dilakukan.
"Megan, I really support you to be David's wife. I like you. (Megan, aku sangat mendukungmu untuk menjadi istri David. Aku menyukaimu.)"
"What can I do, Mama. David likes Lily. (Apa boleh buat, Mama. David menyukai Lily.)"
"There must be a reason David married her. (Pasti ada alasan David menikahinya.)"
Sampai Megan diam, dia berhenti mengunyah mengingat sesuatu.
"Ada apa, Megan?"
"I know why David married Lily, Mama. That's because of Sebastian and Luke's bet, I just remembered. (Aku tahu kenapa David menikahi Lily, Mama. Itu karena taruhan Sebastian dan Luke, aku baru ingat.)"
"Apa wanita bodoh itu mengetahuinya?"
Megan menggeleng. "Dia tidak tahu apapun."
"Bagus, akan mengejutkan jika dia mengetahuinya."
Megan mengangguk. "Aku akan menelpon Sebastian untuk bukti."
Megan menghubungi Sebastian, dan pria itu mengangkat saat dirinya sedang mabuk. Di sisi lain, Dena siap dengan alat perekam suaranya.
"Haloooo.. Megan Sayang."
"Sebastian, aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa, ******?" Tanya Sebastian dengan suara mabuknya.
Yang mana membuat Dena mengerutkan keningnya dan bertanya, "Why does he call you that? (Kenapa dia memanggilmu seperti itu?)"
Megan terkekeh bodoh. "He was just drunk, Mama. (Dia hanya sedang mabuk, Mama,)" ucap Megan kembali fokus pada telpon. "Sebastian, apa kau tahu kenapa David menikahi Lily?"
"Oh… itu kau tahu tentang itu."
"Aku lupa."
"Dasar wanita bodoh, mana mungkin lupa. Sudahlah, aku mau tidur."
"Bas! Bas! Tunggu!" Teriak Megan membuat Sebastian akhirnya ikut berteriak.Â
"Apa lagi?!"
"Apa benar David menikahi Lily karena kalian taruhan?"
"Dasar wanita bodoh, pelupa pula! David menikahi Lily karena taruhan, kami bermain kuda, dan David kalah. Aku memberinya tantangan untuk menikahi wanita pendek. Karena David membencinya, jadi aku menantangnya. Biasanya tipe David adalah wanita tinggi seperti super model."
Megan menyeringai bersama Dena. "Kalau begitu terima kasih," ucap Megan menutup telpon.
Seketika Dena berteriak, "We will make it crumble and crumble! (Kita akan membuatnya hancur dan remuk!)"
🌹🌹🌹
Akan tetap berlanjut...
To be continue...