Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Menolak dan Menjauh



🌹Ayo kita voteee supaya Lily semangat, ajak yang lain yang baca novel ini🌹


"David…." Bibir Lily bergetar merasakan ketakutan, amarah dan rasa sedih di saat bersamaan.


"Sayang, aku merindukanmu."


"Jangan mendekat," ucap Lily membuat jarak diantara dia dan David dengan tangan. "Jangan mendekatiku."


"Sayang, biarkan aku jelaskan. Biarkan aku datang."


"Tidak, jangan mendekat, pulanglah."


Lily berbalik hendak menutup pintu, tapi David menahannya dengan tangan. "Sayang, aku mohon biarkan aku bicara, menjelaskan semuanya."


"Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan. Pergi!" Lily terus mencoba mendorong pintu agar tertutup, sayangnya tenaga David jauh lebih kuat. Dia berhasil membuka hingga membuat Lily hampir jatuh, beruntung David menahan pinggang istrinya.


Kejadian itu membuat Lily semakin histeris.


"Pergi! Jangan sentuh aku!" Teriakan Lily kini bersamaan dengan tangisan. "Pergi!"


Tangan David menahan kedua tangan istrinya agar tidak menjauh. "Beri aku kesempatan, beri aku kesempatan. Aku mencintaimu, Lily. Kau, dan anak anak kita. Aku mohon tenanglah, biarkan aku jelaskan."


Mata Lily yang berurai air mata menatap David. "Kau ********."


"Ya, aku ********. Pukul aku, ludahi aku dan sakiti fisiku, tapi jangan hatiku. Jangan pergi dariku."


"Orang sepertimu seharusnya tidak memiliki teman di dunia ini."


"Sayang."


"Lepaskan aku!"


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Tiga bulan, Lily. Tiga bulan aku frustasi mencarimu, tiga bulan aku menyalahkan diri sendiri. Aku mohon dengar penjelasanku dahulu."


"Aku tidak mau! Lepas!"


"Sayang."


Lily menangis, sentuhan David membuatnya semakin berurai air mata. Dia ingat apa yang telah dilewatinya bersama pria itu, dan itu membuat Lily ingat bahwa setiap kenangan manis yang mereka lakukan hanyalah didasarkan pada taruhan semata.


"Lepas!"


"Biarkan aku jelaskan." David merangkup pipi Lily erat, ibu jarinya mengusap air mata dan kembali berucap dengan penuh penekanan, "Aku mencintaimu, dengarkan aku dulu."


"Tidak! Aakkhh!" Teriak Lily merasakan sakit di perutnya.


"Sayang…"


"Bayiku.."


Saat David hendak menggendong Lily untuk membawanya ke rumah sakit, Lily malah mendorongnya. "Pergi! Kau yang membuatku kesakitan!"


"Sayang…"


"Pergi!"


Dan tanpa di duga, seseorang menarik David dari belakang dan memberikan pukulan padanya.


BUG! 


BUG!


Dua kali sampai David tersungkur.


Radit melihat jelas bagaimana Lily kesakitan, yang membuatnya segera memukul David. "Pergi dari sini! Itu yang dia inginkan!"


"Kau…" David berdiri dan melayangkan pukulan pula.


BUG.


Dia mencengkram leher kemeja Radit. "Sedang apa kau di sini?! Kenapa ada kau di sini!?"


"Aku menjaganya dari pria sepertimu!"


"Jauhi istriku!"


"Dia tidak menginginkanmu!"


"Kak Radit….." Lily merasakan perutnya sakit kembali.


"Sayang…"


Radit menahan David saat hendak masuk kembali.


"Pergi dari sini!"


Dan tanpa di duga, Lily menambahkan. "Pergi kau, David! Kau yang membuatku kesakitan! Pergi! Pergi dan enyah dari sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


David diam seolah tidak punya tenaga, ketika Radit kembali mendorongnya, dia hanya diam. Dan David menatap jelas bagaimana Radit masuk dan berkata, "Pergi dari sini."


Sebelum akhirnya pintu di tutup.


Radit segera membantu Lily yang menangis terisak sambil bersimpuh di lantai, dia membangunkan Lily dan membawanya ke kamar untuk istirahat.


Radit pergi ke dapur untuk membawakan minum.


"Minum ini, tenangkan dirimu."


Lily menerimanya, dengan tangan bergetar.


"Tidak apa, dia takkan kembali."


"Aku takut, Kak."


"Ssstt…. Tidak apa."


"Dia menemukanku, mungkin dia akan mengambil bayiku untuk menyakitiku."


"Itu tak kan terjadi," ucap Radit menggenggam tangan Lily. "Aku akan di sini bersamamu."


Lily akhirnya membalas tatapan Radit. "Bisakah….


 Bisakah kau meninggalkanku sendirian?"


Radit diam, dia akhirnya mengangguk. "Istirahatlah."


Tanpa di duga, saat Radit membuka pintu, dia masih melihat David di sana.


"Bagaimana keadaannya?"


"Sebaiknya kau pergi, mendengar suaramu saja membuatnya sakit perut. Kau membuat Tina dan bayinya terganggu."


🌹🌹🌹


David melangkah dengan tatapan kosong, tidak ada kehidupan di matanya. Yang ada hanyalah kekecewaan mendalam.


Holland yang melihat itu segera mendekat, apalagi ketika melihat luka di sudut bibir majikannya. "Tuan, apa kau baik baik saja?"


David tidak menjawab, dia melewati Holland begitu saja dan masuk ke dalam mobil.


Holland segera berbalik arah, menatap David yang ada di jok belakang. "Apa yang terjadi, Tuan?"


"Ayo kita pulang," ucap David mengeluarkan kotak cincin dari saku dan menyimpannya di bagian lain tempat duduk.


Dengan segera Holland mengambil kotak itu, dia berjalan ke arah bagasi mobil mengambil kotak yang lain yaitu gaun pernikahan Lily.


Tanpa bicara, Holland menaiki lift menuju apartemen di mana Lily tinggal. Holland mengetuk pintu di sana. "Nyonya Muda, ada yang harus kau lihat."


Tidak ada jawaban dari sana.


Holland mendengar suara tangisan dari sana, dia mengerti kenapa David pulang tanpa hasil. Holland segera menyimpan kotak itu di depan pintu apartemen Lily. Dia mengetuk kembali dua kali sebelum mengatakan, "Nyonya Muda, Tuan sangat mencintai anda. Dia mencintai anda dengan segenap hatinya. Ini adalah hadiah yang hendak dia berikan padamu. Jika anda enggan bertemu dengannya, setidaknya dengarkan suaranya, dengarkan penjelasannya yang mengatakan semuanya. Dia mencintai anda."


Setelah itu Holland pergi, dan Lily yang mendengar itu dari dalam hanya menangis memegang perutnya yang terasa masih sakit.


Air matanya menetes, apalagi saat dia melihat ponselnya berbunyi. Itu Oma, dia menghubunginya.


"Ada apa, Oma?" Tanya Lily dengan suara seraknya.


"Apa kau sudah bertemu David?"


"Oma membritahukan tempat tinggal Lily pada David?"


"Dengar, Nak. Ada alasan di balik semua itu. David sebenarnya ingin men--"


"Aku tidak mau tahu, Oma." Lily meneteskan air matanya. Dia terisak merasa marah dengan Oma yang tega melakukan ini padanya. "Oma jahat melakukan ini padaku, mengapa Oma memberitahu David?"


"Tolong, Nak. Kasihan anak anakmu nanti, mereka perlu orangtuanya yang lengkap."


"Lily bisa memberikan kasih sayang pada anak Lily, tidak usah bersama David."


"Nak, emosimu itu dikendalikan oleh iblis saat kau marah, ingat pada David, ingat bagaimana kalian berdua selalu bersama, Nak."


"Aku tidak mau tau."


"David mencintaimu."


"Dia menjadikanku bahan taruhan," ucap Lily menutup telpon seketika, dia menangis terisak menutup wajahnya dengan tangan.


Memang benar, semu sifat Lily saat ini karena hormon kehamilan ditambah emosi yang berlebihan. Seharusnya Lily sadar akan hal itu, sayangnya dia menyalahkan semua kondisi keadaannya pada David yang menyakiti.


Dan setelah ingat apa yang Holland katakan, Lily keluar untuk melihat. Di sana ada dua buah kotak. Lily mengambilnya dan membukanya saat duduk di sofa.


Air matanya menetes semakin deras melihat ada gaun pengantin yang pernah dia pakai sebelumnya. Dan untuk kotak kecil, Lily tidak mau membukanya. Air mata itu berubah menjadi amarah yang membuat Lily malah membuangnya ke kotak sampah.


"Aku membencimu, David! Aku membencimu!"


🌹🌹🌹


Radit diam di apartemennya, dia masih belum bisa menemui Lily. Dia mengurung diri di kamarnya sambil menangis akibat kejadian sebelumnya.


Radit kebingungan, dia ingin membantu Lily kembali dengan suaminya. Tapi, jika Lily tidak menginginkannya, apa yang harus dilakukan? Melihat Lily menangis saja membuat suhu tubuh Radit mendidih dan mengeluarkan pukulan untuk mantan majikannya.


Radit benar benar kebingungannya, dia dihubungi Ibunya terus menerus.


Dan sekarang pun, Ibunya kembali menelpon.


"Hallo, Ibu?" Tanya Radit terdengar lelah.


"Radit, cepat kembali. Ayahmu ingin bertemu, dia sekarang ke Rumah Sakit."


"Apa?" Radit terkejut. "Rumah Sakit? Apa media mengetahuinya?"


"Tidak, masih di sembunyikan. Itu sebabnya perusahaan harus beralih tangan padamu, Radit. Berhentilah berlari, kau pantas mendapatkan semua kekayaan Ayahmu."


Radit mengusap wajahnya kasar. "Ibu, setidaknya berikan separuh kekayaan Ayah pada Mega, dia adikku, anak kandung Ibu dan Ayah, sedangkan aku?"


"Berhenti mengatakan itu, Radit! Ibu tidak suka! Kau anak ibu!"


"Tapi Mega juga anak ibu."


"Kau lihat sendiri Mega, Radit. Dia tidak bisa diandalkan, kerjanya cuma bermain main, kuliah pun dia malah keluar. Lulus SMA juga dengan persyaratan, Ibu dan Ayah sepakat, kamu yang akan mengelola semua perusahaan tembakau."


"Ibu…."


"Pulanglah, Radit. Berhenti lari dan mencari pekerjaan yang tidak pasti. Ayah menunggumu."


Radit masih diam, dia memainkan tangannya dengan telpon yang masih menempel di telinga.


"Radit?"


Tubuh Radit menegang mendengar suara ayahnya yang sudah empat bulan ini tidak dia temui. Radit menghindar dan mencari pekerjaan lain agar perusahaan tembakau yang didirikan ayah angkatnya.


"Radit?"


"Ayah, bagimana kabar ayah?"


"Kapan kau kembali, Nak? Apa kau tidak kasihan pada Ayah?"


"Ayah, aku di sini bersama Tina."


Keheningan tercipta, Radit melanjutkan, "Radit sedang membantunya."


"Dan kau tidak mau membantu Ayah?"


"Maaf, Ayah. Radit akan pulang."


"Ayah menunggumu. Mega juga ada di sini."


Radit menengang, Mega adalah anak kandung Ayah dan Ibu angkatnya. Dia baru saja keluar SMA, dan pekerjaanya adalah keliling dunia menghabiskan uang. Dan Mega sangat membenci Radit karena perusahaan ayahnya akan diberikan padanya. Terpaut umur sepuluh tahun, Radit mencoba mengerti Mega yang labil.


"Baik, Ayah. Radit akan bersiap."


"Jika Tina memang tidak memiliki siapa siapa lagi, bawa dia kemari, Radit."


"Baik, Ayah."


Saat telpon tertutup, Radit kembali mengusap wajahnya kasar. Dia menatap pakainnya yang sudah dikemas, Radit sudah bersiap sejak jauh jauh hari.


Dia memutuskan untuk kembali, Radit mengetuk pintu apartemen Lily. "Tina ada yang aku ingin bicarakan denganmu."


Lama Radit diam di sana.


Barulah pintu terbuka, Lily yang habis menagis itu menutup wajahnya dengan tissue.


"Tina."


"Ada apa?" Tanya Lily dengan suara serak, dia minum air dan duduk di sofa.


Membuat Radit ikut duduk di sana dan menurunian volume televisi. "Sudah jangan menangis."


"Tidak, aku tidak menangis."


"Segala sesuatu tidak akan selesai jika kau menyikapinya seperti ini."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Tegas, apa yang kau inginkan lakukan."


"Apa yang coba kakak katakan?"


Radit menarik napasnya dalam, dia tidak tega meninggalkan Lily, tapi kedua orangtuanya membutuhkannya.


"Kak? Apa yang ingin kau katakan?"


"Tina, aku harus kembali ke Jakarta. Ayahku sakit, dia butuh aku."


Seketika tangisan Lily reda, dia menatap tidak percaya pada Radit. "Kau ingin meninggalkanku?"


"Tina, aku memberimu pilihan. Jika kau ingin memperbaiki semuanya, aku akan membantu dengan menghajat dahulu suamimu. Tapi jika kau ingin berpisah dengannya, maka ikutlah denganku."


Lama Lily termenung, sampai akhirnya bibir mungilnya berkata, "Aku akan ikut denganmu, Kak."


🌹🌹🌹


to be continue...


ha ha ha