Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
Hadiah



🌹Vote lagi vote lagi vote lagi🌹


"Sayang, aku akan pulang terlambat. Jika butuh sesuatu hubungi Holland."


Lily yang baru saja membuka matanya mengerutkan kening. "Kau sudah rapi."


Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Lily baru saja bangun, dia mendapati David sudah sangat rapi dan siap. Dia baru menyadari, ini sudah pukul setengah sembilan. Lily segera duduk, dia mengapit selimut di tubuhnya. "Kenapa tidak membangunkanku?"


"Kau nyenyak," ucap David menunduk memberikan ciuman di bibir istrinya. "Tidur saja lagi, aku sudah memesan sarapan dari bawah. Istirahat. Ingin aku buatkan susu?"


Lily menggeleng. "Kau sudah sarapan?"


David mengangguk, dia kembali fokus memakai dasinya. "Aku membuat roti, aku juga membuatkannya untukmu. Tapi karena aku tahu kau sedang suka pancake, aku memesankannya dari bawah, Sayang."


"Terima kasih."


"Bisa aku dapat ciuman?" David memberikan pipinya yang sudah bersih dari jambang.


Lily malu malu melakukannya.


"Terima kasih."


Lily tersenyum malu, dia memakai selimut tipis untuk mengapit tubuhnya. Mendekati David dan diam di ambang walk in closet, menatap pria yang sedang berdandan seorang diri.


Sepertinya David sudah dewasa, tidak perlu bantuannya lagi. "Kau perlu bantuan?"


"Ya, aku perlu kau pergi dari sana sebelum harta karunku kembali bangun."


Seketika senyuman Lily memudar, dia berdehem. "Aku akan mandi."


"Sebentar."


Lily berhenti melangkah. "Ada apa?"


"Aku berangkat sekarang, berikan kecupan," ucap David menunduk.


Dan saat itu Lily memberikannya di ujung bibir, membuat David tidak suka dan mengerutkan keningnya. "Di bibirku, Sayang."


Lily melakukannya hanya satu kali dan itu hanya beberapa detik. Membuat David agak tidak rela hingga dia berdehem seperti sebelumnya, "Ehem Ehem Ehem Ehem Ehem."


Mata Lily membulat. "David, kau akan terlambat."


"Ya, jika kau mengulur waktu."


Lily yang kedua tangannya menahan selimut harus berjinjit dan mencium lama David. "Sudah."


David terkekeh, dia mengusap kepala istrinya sebelum benar benar keluar dari sana. "Aku berangkat."


"Hati hati."


Lily masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap membereskan apartemen. Tempat yang selalu rapi membuat Lily tidak banyak melakukan pekerjaan, termasuk membersihkan debu. David memiliki alat penyedot debu otomatis yang selalu dia panggil The Balls karena bentuknya yang bulat dan banyak. Ada dua di lantai satu, dan satu di lantai dua. Alat itu mencari ke setiap sudut debu di lantai, sambil menyemprotkan pewangi antiseptik, Lily merasa senang semuanya sudah beres.


Mungkin hanya satu pekerjaannya yang lumayan berat kali ini, yaitu mencuci sprei. Jika malamnya mereka bertempur, maka saat pagi Lily harus mencucinya.


"Astaga," gumam Lily dengan pipi yang memerah tatakala melihat beberapa titik sprei yang di kotori oleh cairan kental David.


Inilah yang membuat Lily enggan memberikan pekerjaan mencuci pada orang lain, dia memilih melakukannya sendiri.


Sambil memutar mesin, Lily menghidupkan musik. Sesekali kakinya berputar merasakan bahagia saat ini. Lily punya keluarga yang baik, perhatian, dan semuanya akan lengkap dengan kehadiran dua buah hatinya.


Sebenarnya, Lily sering kali merasakan perubahan suasana hati yang drastis layaknya orang bipolar. Lily berkonsultasi dengan dokter, dan itu hal yang biasa katanya.


Contohnya seperti saat David pulang terlambat, dia kesal sampa ingin menangis. Tapi Lily mencoba menahan semua kekesalan itu sampai harinya tiba, agar David tidak curiga. Sayangnya, semakin hari suasana hatinya tidak karuan.


Saat telpon berbunyi, Lily mengangkatnya.


"Hallo?"


"Sayang, kau sudah makan?"


"Belum, aku sedang mencuci."


"Makan dahulu, lalu minum susumu."


"Iya, akan aku lakukan." Lily tersenyum bahagia mendapatkan perhatian.


Sampai David yang ada di sana mendengar musik yang sedang Lily putar di aprtemen.


"Sayang, apa kau sedang memutar musik K-pop?"


Lily diam, senyumannya memudar. Nada sura David seolah mengejek merendahkan.


"Memangnya kenapa? Apa musik K-pop jelek dan rendahan di matamu? Apa ini dilarang?"


David terkejut mendengar nada suara Lily yang tercekat menahan tangisan. "Sayang.. bukan begitu, kau bisa melakukan apa pun yang kau mau."


"Tidak, kau tidak suka ini bukan?" Lily melangkah dan mematikan lagu K-Pop. "Sudah aku matikan, kau bisa bekerja lagi. Hati hati, sampai jumpa."


Setelah telpon terputus, Lily menangis deras. Membuatnya sendiri heran dengan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. "Kenapa aku cengeng? Kenapa suatu hal kecil membuatku menangis? Aku bukan perempuan yang mudah meneteskan air mata."


Sambil mengatakan itu, air mata Lily terus berjatuhan disertai isakan tangis.


🌹🌹🌹


Lily makan siang seorang diri, tadi David mengiriminya pesan dan mengatakan kalau dirinya akan makan siang di luar. Jelas itu membuat perasaan Lily yang sedang sesitive kembali menangis, dia sesegukan sampai akhirnya tertidur.


Lily sadar, dirinya terlalu sentimentil akan hal hal kecil seperti ini. Dia terlalu sensitive, dan Oma mengatakan itu hal yang normal.


Sambil makan siang, Lily membaca buku buku bisnis milik David. Pengetahuan bahasa Inggrisnya semakin meningkat, Lily merasa belajar sendiri atas kemauan sendiri lebih efektif dari pada belajar oleh tutor dengan kehendak orang lain. Karena jika kita yakin mau belajar, semuanya akan tercapai.


Sambil duduk di ruang makan, Lily menghabiskan satu buah buku. Satu suapan makan siang, dengan empat lembar dirinya membaca buku hingga akhirnya selesai.


"Astaga, masih banyak yang harus aku pelajari di sini," ucap Lily.


Dia membuka ponselnya dan melihat video pelajaran bahasa Inggris.


Sampai video terhenti oleh Video Call Oma. Lily segera mengangkatnya. "Oma!"


"Maaf," ucap Lily memegang matanya. 


"Kau menangis lagi?"


Lily mengangguk. "David bilang ingin makan siang di luar."


Oma berdecak. "Apa kau juga akan menangis jika Oma mengatakan ini, Lila! Kau ini wanita bodoh miskin yang tinggal bersama cucuku! Kau parasite!"


Lily diam, menampilkan ekspresi datar dan enggan melakukan apa pun termasuk menjawab.


"Bagaimana?" Tanya Oma.


"Bagaimana apanya, Oma?"


"Kau tidak ingin menangis karena perkataan Oma barusan?"


Lily menggeleng.


"Bagaimana jika David yang mengatakannya?"


Seketika suhu tubuh Lily meradang panas, hawanya dia ingin menumpahkan air mata dan menangis sekencangnya. "Itu…."


"Sudah aku duga."


"Apa, Oma?"


"Kau jatuh cinta pada David."


Lily kembali diam.


"Kau tidak menangis atau marah saat Oma mengatakan itu, tapi jika itu David, kau akan sangat terpukul dan sedih. Berarti kau sangat menyayangi David hingga kau akan merasa sangat terluka jika di sakiti olehnya."


Lily merenungkan kata kata Oma.


"Benarkan?"


"Entahlah, Oma. Yang jelas Lily suka saat David perhatian dan baik."


"Kau mencintainya, akui itu," ucap Oma penuh penekanan dan mata yang melotot. "Akui itu, Lila!"


Hingga akhirnya Lily mengangguk pelan.


"Lihat, sudah Oma duga kau mencintainya."


"Lily bahagia selama David ada di samping Lily, Oma."


"Bagaimana jika David ada di hadapanmu?"


"Maksudnya, Oma?"


"Kau selalu menangis di depan David?"


"Lily menahannya sekuat tenaga."


Oma terkekeh mendengarnya. "Kau menahannya? Bagus sekali, dia harus terkejut saat waktunya tiba."


"Baik, Oma."


Lily menoleh saat mendengar bel pintu.


"Apa David pulang?" Tanya Oma.


Lily menggeleng. "Kurasa tidak, sebentar Lily cek dulu, Oma."


Lily berjalan menuju pintu, dia melihat layar monitor. "Siapa di sana?"


"Saya kurir yang membawakan kiriman dari Tuan David Fernandez untuk Nyonya Lily Fernandez."


Lily tersenyum mendengarnya, dia segera membuka pintu itu dan mempersilahkan.


"Ini kiriman anda, Nyonya," ucap kurir yang memakai masker dan sarung tangan menyerahkan sebuah parcel berisi beraneka ragam cokelat yang didominasi warna pink.


"Terima kasih."


Lily segera membawanya menuju meja makan dan memperlihatkannya pada Oma. "David memberikan ini, Oma."


"Ada suratnya?"


Lily mencari. "Tidak ada."


Tidak lama kemudian, ada notifikasi pesan di atas layar video call bersama Oma.


"David mengirim pesan, Oma," ucap Lily.


"Baiklah, buka dulu."


Lily tidak sengaja menekan tombol mute, sehingga saat dia membaca pesan David, dia tidak mendengar perkataan Oma.


Seperti saat Lily tertawa oleh pesan dari David yang berisi :


"Bunga Lilyku, Sayang. Uangku yang banyak melimpah tidak bisa disamakan dengan rasa sayangku padamu. Aku tahu kau kesal, dan aku harap saat aku pulang kau semanis cokelat mahal ini."


Lily terkekeh malu.


Di sana Oma mendengarnya, dia penasaran. "Apa pesan David, Lily? Oma penasaran. Lily?"


Sayangnya, Lily mengira sambungan Video Call nya bersama Oma telah terputus.


"Lily?"


🌹🌹🌹


to be continue


ha ha ha ha ha ha