Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S2 : Si Tampan



🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


David menatap Lily yang sedang memainkan makanan di depannya. Pria itu menghela napas dalam melihat sang istri terus saja menundukan pandangan sambil menahan sesuatu.


"Sayang….."


Tangannya bahkan menghindari David untuk tidak menyentuhnya.


"Ayo makan, bukankah kau menyiapkan ini untukku? Ayo makan bersama denganku. Jangan mainkan makananmu seperti itu," ucap David dengan lembut.


Tapi Lily tetap menahan air matanya sambil menunduk. David tidak menyinggung tentang kehamilannya, yang mana membuat Lily salah paham dan mengira kalau suaminya itu benar benar tidak menginginkan bayi mereka.


"Kau tidak ingin membahasnya?"


"Membahas apa? Bayi dalam kandunganmu?"


"Bayi dalam kandunganku? Kau benar benar mengatakan itu?" Tanya Lily kini mendongkang menatap mata suaminya.


"Sayang….," Ucap David yang melihat air mata istrinya itu berlinang. "Aku tidak bermaksud mengatakan apapun, hilangkan apa yang ada di dalam fikiranmu."


"Kau tidak menginginkannya bukan?" Tanya Lily kemudian melangkah pergi.


David mematung di sana, dia kelaparan dan sendirian. Namun sekarang bukan saat yang tepat untuk makan.


David menghela napasnya dalam dan berjalan menyusul Lily.


"Daddy?"


"Yes, Honey?" David berjongkok menatap Athena.


"Iam solly."


"For what?"


"Menggagalkan lencana, Mommy."


"Its okay, Baby. Mommy baik baik saja."


"Tadi Mommy tellihat sedang menangis."


"Mommy hanya kelilipan, Sayang," ucap David mengelus kepala Athena dengan penuh kasih sayang. "Daddy akan membawa Mommy keluar, tidak apa di sini bersama Nanny?"


Athena mengangguk. "Asalkan Mommy pulang dengan senyuman lagi."


"Tentu saja, Sayang. Sekarang tidurlah oke."


Athena kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan Ares.


Sementara David menyusul istrinya ke kamar. "Sayang….."


"Kau tidak menginginkannya bukan?"


"Kau sangat sensitive. Tidak hamil saja kau sensitive saat lapar, apalagi sekarang. Ayo makan."


"Aku tidak mau, kau tidak senang saat aku hamil." Lily menahan air matanya dengan mengadahkan kepalanya.


David hanya menghela napas dalam. "Ayo makan diluar."


"Tidak mau."


"Aku sangat bahagia."


Yang mana membuat David mengusap wajahnya dan tanpa aba aba menggendong Lily ala koala.


"David!" Pekik Lily.


"Sayang, aku sangat bahagia. Bahkan aku ingin mengunjungi anak kita saat ini juga. Namun di sini tidak aman, kita ke hotel ya. Sebab aku tidak akan memakai apapun, dan kau pasti menjerit semalaman. Aku tidak mau kau kewalahan karena suamimu yang tampan ini, Sayang."


🌹🌹🌹


Oma segera bergegas ke rumah Lily dan David saat tahu kedua orang itu kini keluar dan anak anak perlu ada yang menjaga.


"Jangan lupa bawakan aku bantal itu, Eta."


"Baik, Nyonya Besar."


"Aku merasa ada yang tidak beres," gumam Oma sambil melangkah menuju rumah yang jauh lebih besar itu.


Dan di sana dia melihat jejak makan malam Lily dan David masih utuh. "Mereka tidak memakannya, pasti ada yang salah."


"Oma!" Teriak Ares saat melihat kedatangan Oma.


"Oh, Ares. Kenapa belum tidur, Nak?"


"Karena aku masih bangun."


"Kenapa kau masih bangun?"


"Karena aku belum tidur."


Oma terdiam beberapa saat, dia memicingkan matanya merasa sedang berdebat dengan dirinya sendiri.


"Kau seharusnya suda tertidur."


"Tapi Ares haus dan ingin makan ice cream."


"Astaga, ini alasanmu saat orangtuamu keluar bukan?"


Ares hanya tertawa. Dan duduk dengan kesusahan di kursi bar untuk menunggu ice cream yang dibawakan oleh pengasuhnya. "Di sini, bawa ke sini."


"Apa yang terjadi dengan Mommy dan Daddy mu?"


"Mereka keluar, rencananya gagal karena Thea membocorkannya."


"Apa?"


"Omaaaa…..," rengek seseorang yang terbangun dari tidurnya. "Mau menemani Thea tidul?"


"Nah ini dia pengacaunya, Oma. Dia membocorkannya."


Athena diam seketika, dia menatap Ares dengan bibir berkedut.


"Menangis tidak akan menyelesaikan apapun."


"Huaaaaaaaaa!" Athena menangis dan berlari ke kamarnya.


Yang mena membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Oma. 


"Ares, itu jelek."


Ares menatap dirinya sendiri dari kaca lemari. "Ares masih tampan."


🌹🌹🌹🌹


To be Continue