
🌹VOTE🌹
"Apa yang terjadi?" Tanya Lily merasa suaminya seperti salah tingkah.
"Ayo pergi dari sini."
"Kita belum memilih hadiahnya bukan?"
"Aku akan menghubungi Luke," ucap David menggenggam tangan istrinya dan membawanya pergi dari showroom mobil itu. Dengan tatapan pada salah satu karyawan yang melihatnya menggali emas, tatapan David tidak bisa putus. Bahkan David terus menatapnya ketika berada di dalam mobil. Hal itu membuat Lily salah paham.
"Apa dia secantik itu?"
"Apa?" David menatap istrinya. "Kau mengatakan sesuatu, Sayang?"
Lily memang bersikap cuek, tapi jika menyangkut perasaan dia ingin menangis menjerit. Itu yang membuat Lily keluar dari mobil dan melangkah menjauh dari sana.
"Sayang, hei!" David mengejar Lily yang melanglah cepat. "Sayang kau mau ke mana?"
Lily diam saat tangannya berhasil ditangkap oleh David. "Sayang, kau mau ke mana?"
"Kenapa kau menatapnya?" Lalu tangan Lily perlahan menunjuk karyawan yang ada di dekat jendela.
Wanita yang bekerja di showroom itu jelas terkejut dirinya ditunjuk. Yang mana membuat dirinya segera membalikan badan ketakutan.
"Kau menatapnya sangat lama."
"Aku tidak menatapnya."
"Aku melihatnya sendiri."
"Oke, fine. Aku menatapnya. Maaf."
"Kenapa? Kau suka padanya?"
"Apa?" David tertawa kosong. "Aku suka pada dia? Yang benar saja, lihat tubuhnya yang pendek."
"Aku juga pendek," ucap Lily dengan sedikit penekanan dan suara yang keras. "Kau menyukainya."
"Sayang, tunggu. Oke aku jelaskan. Tapi kau mau ke mana?"
"Menenangkan pikiran."
"Jangan bilang kau akan kabur lagi? Sayang, ini menjelang malam. Ayo ke hotel."
"Mau apa ke hotel?"
"He he." David malah tertawa menyeringai mesum. "Kau tahu bukan."
"Aku ingin menenangkan diri."
"Menenangkan dirinya di hotel ya, oke? Ayolah….," Bujuk David. "Aku belikan ice cream, cokelat, dan red velvet."
Lily terdiam sesaat.
"Ya?"
"Oke," ucapnya melangkah masuk ke dalam mobil.
Sebenarnya Lily tidak marah dengan apa pun yang David lakukan. Namun, jika hal itu berkaitan dengan wanita, maka Lily akan sangat marah.
Bukan kecemburuan semata, tapi Lily juga memikirkan anak anaknya nanti jika David macam macam.
"Sayang… sebenarnya…."
"Katakan."
"Dia…."
"Cantik?"
"Kau yang paling cantik di hatiku."
"Katakan, David."
"Dia melihatku sedang menggaruk hidung."
Lily akhirnya menatap David yang sedang menyetir. "Hanya karena itu kau menatapnya? Dia melihatmu menggaruk hidung?"
Kemudian Lily berguman, "Aku saja pernah melihatmu menggaruk pantat, kenapa kau melihat wanita itu begitu lama?"
"Sayang.. aku menggaruk hidung sedikit dalam."
"Dekat lubang?"
David diam, hingga Lily mengerti maksud suaminya. Seketika itu pula rasa marahnya luntur. "David wajar jika melakukan itu. Jika tidak, hidungmu akan tersumbat."
🌹🌹🌹
"Sayang."
"Aku lapar," ucap Lily menatap David yang baru saja ikut berbaring memeluknya. "David."
"Hmmm?"
"Aku lapar."
"Ingin makan apa?"
Malu malu Lily berkata, "Ayam goreng, ceker pedas, usus crispy, nasi bakar, cobek ikan dan jus honje."
David masih memasang senyum manisnya. "Sekarang?"
Lily mengangguk pelan.
"Rayu aku."
"Huh?"
"Kau tahu, Sayang, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang gratis. Setidaknya rayu aku dulu, baru aku akan mengabulkannya."
Lily mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ayo, rayu aku dengan susuk yang tersembunyi dalam wajahmu itu."
"Susuk? Aku tidak pakai susuk, David."
"Well, kenyataannya aku selalu ingin menciumu."
"Tapi aku tidak menggunakan susuk."
"Sayang, sayang itu hanya kiasan. Sekarang rayu aku. Ayo, aku belum pernah melihatmu merayu."
Keduanya masih berbaring saling berhadapan. Lily ragu untuk melakukannya, dia masih sedikit malu pada David.
"Sayang, aku menunggu."
"Apa yang harus aku lakukan."
"Merayuku sehingga aku pergi dan menerima permintaanmu."
David memejamkan matanya menunggu, membuat Lily semakin mengerucutkan bibirnya. Dia tidak ingin melakukan hal itu.
Namun karena dorongan keterpaksaan, Lily mengangkat tangan David lalu menempelkannya di perutnya, "Bayi bayi kita ingin makan itu."
Kemudian Lily melajutkan kalimatnya setelah dia menggeser tangan David hingga memegang pantat istrinya. Lily berucap dengan sangat ragu dan malu, "Nanti dapat ini."
Dan itu membuat David menyeringai dalam pejaman matanya. "Tiga ronde?"
"Satu."
"Dua setengah?"
"Satu."
"Satu setengah."
"Ya sudah setengah."
Seketika David membuka matanya. "Oke satu, sampai aku keluar," ucapnya mendudukan diri.
Jika hanya setengah ronde, biasanya saat itu Lily yang keluar, sementara dirinya belum.
"Aku akan pergi mengambil makananmu, tunggu di sini ya, Sayang."
David segera keluar dari sana sambil memainkan ponsel. Dia tertawa sesekali saat membaca Group Chat antara kedua temannya.
David pikir dirinya masuk ke lift VVIP yang dimana itu dikhususkan untuknya mengingat ini adalah hotel miliknya.
Sayang, karena terlalu asyik bermain chatting, dia masuk ke lift reguler di mana ada sepasang lansia di dalamnya.
Sambil membaca pesan, David tertawa.
Sampai dia merasakan tidak enak perut. David ingat ini adalah lift VVIP, maka dia mengeluarkan gas tanpa ragu.
"Aaah… lega…"
Lalu tidak lama terdengar suara pria dari belakangnya, "Sayang… sayang bangun.. sayang… bernapaslah… tarik napas…."
Saat itulah David menengok, matanya membulat melihat seorang wanita lansia yang pingsan.
🌹🌹🌹
Tbc ya malam ini, tunggu aja.