Stuck With An Arrogant CEO

Stuck With An Arrogant CEO
S3 : ARES FERNANDEZ



🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


“Lu paham kan maksud guee, Ar?” tanya Samuel yang kini sedang membolos bersama dengan Ares. Mata pelajaran terakhir mereka tinggalkan, memilih untuk diam di belakang sekolah sembari memakan keripik yang dibeli Samuel tadi.


Karena jika tetap berada di kelas membuat semua orang heran dengan tingkah Ares yang diam, jadi Samuel memilih untuk membawa sahabatnya ini menuju ke belakang sekolah untuk membolos.


“Ar, paham gak?”


“Gua gak yakin.”


“Lu bilang tadi suka sama dia, bangssat! Lu juga bilang dia cewek lu! Sekarang gak yakin?!”


“Bukan itunya,” ucap Ares dengan nada rendah. “Gue khawatir gue gak bisa. Liat mukanya aja tadi gue langsung klepek klepek.”


“Ya lu sadar lah, anjiing. Lu kan bilang kalau Cantika tadi berangkat sama Galuh.”


Saat itulah Ares menegang, dia mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya hendak menjemput Cantika. Galuh membawa pujaan hatinya, yang mana membuat Ares mengepalkan tangannya karena kesal.


“Nah gitu dong. Kalau lu gak nyatain sekarang, nanti lu bakalan kerebut. Emang lu mau?”


“Centini sukanya sama gue doang!”


“Lah mana tau? Nanti dia belok, soalnya elu PHP mulu.”


“Gak gak,” ucap Ares ribut, dia mengangkat tangannya ke udara. “Gue yang paling ganteng di hidupnya, dia pasti bakalan sama gue.”


“Mimpi lu, hati hati aja kalau dia kerebut. Makannya nanti lu langsung ngomong.”


“Tapi masa di kelas? Gak elite anjiir.”


“Mau cepet cepet dia jadi cewek lu gak?!” tanya Samuel meninggikan suaranya.


Yang dibalas anggukan lucu oleh Ares.


“Yaudah bilang cepetan.”


Ares bergegas mengeluarkan ponselnya, mengirimkan pesan pada perempuan yang selalu dia ejek tinggi badannya itu. Pesan yang berisikan:


“Nanti tunggu aku di kelasmu, aku harus membicarakan sesuatu denganmu hanya berdua.”


Begitulah isi pesannya. Membuat Ares menatap sahabatnya. “Lu yakin bisa beginian?”


“Harus di sekolah, biar jadi kenangan buat kalian berdua.”


Baru juga Ares akan menimpa ucapan Samuel, tiba tiba dia merasakan telinganya ditarik dari samping.


“Ohhhh di sini ternyata kalian ya? Tadi Ibu denger kalau Ares katanya udah berubah, ternyata Cuma mitos belaka.”


“Aduh, Bu. Sakit, Bu.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika mendapat pesan itu dari Ares, dia bingung karena takut Ares akan pulang bersama dengan Laura. Yang mana membuatnya bertanya saat kam sudah berakhir, “Laura, apa kau akan pulang dengan Ares?”


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Ares bilang dia ingin bicara denganku sebentar, apa kau akan menunggu?”


Laura berdehem, dia memalingkan wajahnya. “Aku akan pulang sendirian, aku ada urusan dengan teman temanku,” ucapnya kemudian meninggalkan kelas.


“Sampai jumpa lagi, Cantika.”


“Besok kita bertemu lagi, Cantika.”


Begitulah kata teman temannya yang mulai meninggalkan kelas, sementara Cantika duduk manis menunggu Ares.


Ketika ruangan benar-benar kosong, sosok itu masuk sambil menunduk. Yang mana membuat Cantika khawatir. “Ares, apa kau sakit lagi?”


“Aku tidak pernah sakit,” ucapnya yang masih belum berani menatap manik Cantika. Ares berdehem, dia menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan terlipat di dada. “Kenapa kau bersama Galuh tadi?”


“Oh, dia butuh buku, jadi dia datang ke rumahku.”


“Bukankah bukunya bisa dibawa ke sekolah?”


“Bukunya tidak sengaja dibawa Kakekku ke museum, jadi kami harus ke sana dulu. Apa kau masih sakit Ares?”


“Aku tidak sakit,” ucapnya menarik napas dalam.


“Kau marah atau sesuatu padaku?” tanya Cantika mendekat, dia melihat gelagat Ares semakin aneh.


“Kau benar benar tidak sakit ‘kan?” tanya Cantika lagi, dia khawatir sampai menempelkan tangannya di kening Ares.


Yang mana membuat pria itu menegang, matanya membulat menatap Cantika yang ada di hadapannya.


“K⸻kau…,” ucapnya dengan mata membulat.


“Ares, kau kenapa?”


“Apa aku masih tampan?”


“Huh? Jelas kau masih tampan? Ada apa?”


Demi Tuhan, Ares merasa dirinya akan mati jika Cantika melangkah lebih dekat lagi. Kata kata yang sudah dia susun itu hilang begitu saja, membuat kepalanya terasa sangat sakit.


“Ares?”


“Pergi ke parkiran., tunggu aku di sana. Aku akan mengantarmu!” teriaknya dengan lantang.


“Tidak perlu, ak⸻”


“Menurut padakku, sana pergi,” ucap Ares dengan melotot.


Yang mana membuat Cantika mengangguk kemudian melangkah pergi dari sana. “Baiklah, aku akan menunggumu di sana.”


Di saat Cantika sudah keluar, Ares menghela napasnya dalam. Dia memasok kembali udara di dalam paru-parunya, sampai dikejutkan kembali dengan pintu kelas yang terbuka kasar.


“Anjir lu! Gimana sih?! Kok gak jadi?!”


“Gue gugup,” cicit Ares memainkan kukunya.


“Goblook lu, Ares!”


“Gue gugup liat wajah dia.”


“Ya gak usah liat wajahnya lah! Liat matanya aja!”


“Ya kan matanya ada di wajahnya!” teriak Ares frustasi.


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE