
🌹VOTE YA GAIS, CAPEE EMAK BIKIN INI, WUA HA HA HA🌹
Lily segera menggoreng pisang molen yang baru sebelum akhirnya membawanya ke kamar atas di lantai dua.Â
Saat masuk, David tidak ada di sana. Sepertinya pria itu sedang di kamar mandi. Lily mengedarkan pandangan, ini ruangan yang sama dengan berbulan lalu. Di mana dirinya pertama kali menginjakan kaki di sini, dengan ketakutan dan rasa gugup yang begitu luar biasa.
"Sayang? Kenapa kau berdiri di ambang pintu?"
Lily segera sadar, dia menutup dan menyimpan pisang goreng di meja. "Kau sudah mandi?"
"Aku merasa sangat gerah."
Lily memasuki walk in closet untuk memilih pakaian yang cocok untuk makan malam.
"Euh, aku tidak ingin memakai itu, Sayang."
"Akan ada teman Oma, David. Kita akan ikut makan malam, ingat?"
"Dengan pakaian itu?"
Lily berbalik menatap suaminya yang berdiri di ambang pintu dengan hanya memakai handuk, sambil menyilangkan tangan di dada. David terlihat sangat seksi dengan ototnya yang mengeras.
David menyadari tatapan istrinya, dia terkekeh. "Tidak usah risau, Sayang. Suamimu yang tampan ini akan selalu mencintaimu apa pun yang terjadi. Well, tidak dapat dipungkiri aku tampan dan kaya, tapi hati ini sepenuhnya milikmu."
Lily tidak bisa berkata kata, senyum pun dia tidak kuasa melihat wajah David dengan rahang kokoh menyombongkan diri. "Pakai ini."
"Itu sangat gerah."
"Kita naikan suhu AC nya. Kau tampan dengan pakaian ini."
Seketika David tersenyum menyeringai, dia mendekat dan mencium bibir istrinya. David harus lebih menunduk lagi mengingat penghalang diantara mereka semakin besar.
"Aku tampan bukan," ucap David mengambil pakaian di tangan istrinya. "Apa kau akan diam di sini mengintip suamimu memakai pakaian dengan seksi?"
"Astaga," gumam Lily. "Aku akan menunggu di luar."
"Give me a kiss."
"Nanti," ucap Lily bergegas menjauh.
Dia tahu suaminya selalu tidak bisa lepas darinya jika mereka memiliki kesempatan kedua. David seolah dirinya menjadi pengantin baru, berduaan dan bermesraan. Itu yang selalu David harapkan.
"Kau ingin alkohol, Sayang?"
"Apa kau serius?"
David terkekeh, dia datang pada Lily.
"Kenapa kau hanya memakai boxer?"
"Aku ingin makan pisang dulu," ucap David duduk di samping istrinya dan mengambil pisang di meja. David memakannya dengan tangan lain merangkul istrinya.
"Bagaimana rasanya?"
"Buatanmu selalu enak, Sayang. Tapi agak berbeda dengan yang tadi."
Tentu saja Lily menggantinya dengan yang baru.
Dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dia sangat suka bermanja manja seperti itu. Apalagi perutnya semakin berat sekarang.
"Jangan lakukan apa pun lagi, Sayang. Untuk taman biarkan Nina yang mengurusnya."
Lily hanya mengangguk, dia memeluk pinggang telanjang David. Merasakan suaminya kini mengusap perutnya.
Untuk rumah baru mereka, David ingin memberikannya saat anak anak lahir. Sebagai kejutan dan hadiah karena telah mengandung anak anaknya.
David sendiri sedang berkecamuk dengan pikirannya. Ada masalah di Amerika, lebih tepatnya masalah Ibunya. Dia harus pergi, tapi meninggalkan Lily membuatnya khawatir.
"Sayang…..?"
"Ya?"
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan."
Lily mengadah. "Apa itu?"
"Aku.. harus pergi ke Amerika, Ibuku sedikit membuat masalah. Tapi aku pikir ini akan sedikit lama?"
Lily terlihat sedih.
"Tapi kau akan datang saat aku melahirkan bukan?"
"Aku akan datang, Sayang. Aku janji."
🌹🌹🌹
"Eta, panggil cucu cucuku."
"Baik, Nyonya Besar."
Eta bergegas menuruti keinginan majikannya, dia mengetuk saat berhenti di depan pintu kamar keduanya.
"Tuan, Nyonya…. Nyonya Besar meminta anda turun."
"Kita akan ke sana, Eta," jawab Lily dari dalam.
"Baik."
Dan di dalam sana, David tengah tertidur di pangkuan Lily sambil bicara dengan perut istrinya seolah anak anak mereka mendengarnya.
"Jangan rindukan Daddy, nanti malam Daddy akan menemui kalian."
Lily menelan ludahnya kasar ketika dia sedang mengusap rambut suaminya.
"Daddy lusa akan pergi, Daddy tahu kalian akan merasa kesepian. Maka dari itu, besok Daddy tidak akan bekerja supaya bisa bermain seharian bersama kalian."
Lily kembali menegang, arti main di sini berarti membuat adonan.
"Besok tidak akan bekerja?"
David mengangguk, dia kembali mengusap perut Lily yang tanpa penghalang. "Aku akan bersama mereka. Aku takut mereka akan merindukanku, Sayang."
"Bu.. bukankah besok kau ada pekerjaan penting?"
"Tidak ada yang sepenting dirimu."
Lily menelan ludahnya kasar. "Baiklah… ayo turun, Oma menunggu."
"Nanti saja, Sayang."
"Teman Oma akan datang."
"Bukan temannya, itu muridnya dulu."
"Tapi Oma bilang umurnya sama dengan Oma, maka darinya mereka berteman. Ayo, David, kita harus menghargai Oma."
"Astaga…..," gumam David enggan beranjak dari tidurnya. "Beri aku ciuman."
CUP!
"Itu kecupan, Sayang."
"Ayo… kita ke bawah dulu."
Dengan dituntun oleh David, Lily melangkah menuju lantai satu. Tingginya yang mungil membuat Lily tampak lucu, apalagi kini pipinya semakin besar. Namun David tidak mempersalahkannya, dia tetap mencintai istrinya.
Bertepatan saat mereka keluar dari lift, bel pintu berbunyi.
"Biar aku saja, Eta," ucap Lily saat tahu Eta masih menyiapkan dessert.Â
Dengan diantar David, mereka menuju pintu utama.
"Ada banyak pelayan, kenapa kau selalu melakukannya seorang diri?"
"Meringankan beban orang sama saja dengan Tuhan meringankan beban kita, David," ucap Lily lalu membuka pintu utama.Â
Lily tersenyum pada sepasang manula itu. "Selamat datang."
Dan saat David menatap pasangan tamu di depannya, wajah David memucat. Dia terkejut, pasangan itu pernah dia temui sebelumnya. Mereka yang berada dalam lift waktu itu, saat David kentut dan mereka ada di belakangnya.
"Ada apa, David?" Tanya Lily melihat perubahan wajah suaminya.
🌹🌹🌹
TBC